Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM menyelenggarakan talk show bertajuk “Kesehatan Mental Orang Tua dan Caregiver Anak Atipikal: Kesehatan Mental Bukan Hanya Milik Anak, tetapi Juga Keluarga” secara hybrid di Auditorium Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) UGM, Senin (20/4).
Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari orang tua anak atipikal, guru, perwakilan LSM, tenaga kependidikan, hingga instansi pemerintah seperti Disdikpora DIY dan pemerintah kabupaten/kota di DIY serta UPT Unit Layanan Disabilitas (ULD) Kota Yogyakarta.
Direktur CPMH, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, dalam sambutannya menegaskan bahwa ketangguhan keluarga, termasuk keluarga dengan anak atipikal, tidak dapat dibebankan pada individu semata. Dukungan dari masyarakat dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan agar keluarga dapat bertahan dan berkembang.
Dalam sesi talk show, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa anak atipikal adalah anak yang mengalami perbedaan dalam tahapan perkembangan, baik secara medis maupun psikologis. Ia menyoroti bahwa dalam budaya Indonesia, beban pengasuhan masih banyak bertumpu pada ibu, yang berdampak pada kesehatan mental mereka.
Sementara itu, Rizki Amelia atau Qiqi Amelia, seorang influencer, mompreneur sekaligus orang tua anak atipikal, membagikan pengalaman personalnya. “Stresnya bukan karena memiliki anak atipikal, tapi karena tidak ada yang mendukung. Orang-orang di sekitar justru menyalahkan,” ungkapnya.
Edilburga menambahkan bahwa kesehatan mental orang tua kerap terabaikan karena perhatian lebih banyak tertuju pada anak. “Seolah-olah orang tua tidak boleh mengeluh atau merasa lelah, padahal itu wajar,” jelasnya. Ia juga mengingatkan pentingnya dukungan sistemik dari pemerintah dan masyarakat, serta mendorong orang tua dan guru untuk tidak ragu mencari bantuan profesional jika mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi sehari-hari.

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif peserta, baik peserta luring maupun daring. Sejumlah peserta berbagi pengalaman sebagai orang tua maupun guru anak disabilitas, sekaligus menyampaikan harapan akan lingkungan yang lebih suportif. Salah satu peserta mengusulkan gerakan Ayah Peduli Keluarga untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan. Perwakilan komunitas Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) juga menyoroti perlunya kebijakan BPJS yang tidak membatasi layanan terapi anak dengan cerebral palsy hingga usia tertentu. Sementara itu, UPT ULD Kota Yogyakarta memperkenalkan layanan yang dapat diakses oleh keluarga dengan anak disabilitas.
Peserta juga berharap forum serupa dapat lebih sering diselenggarakan sebagai ruang berbagi pengalaman dan menyuarakan kebutuhan mereka.
Menutup diskusi, Edilburga menegaskan bahwa “Kesehatan mental orang tua anak atipikal bukan nomor dua.” Ia menekankan perlunya kebijakan pemerintah yang berpihak dan berkelanjutan, termasuk dalam penyediaan layanan kesehatan mental, akses terapi, dan sistem perlindungan sosial yang inklusif.
Kegiatan ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kesadaran publik bahwa dukungan terhadap anak atipikal harus berjalan seiring dengan perhatian terhadap kesehatan mental orang tua dan caregiver sebagai bagian dari sistem keluarga yang utuh.
Penulis: Nurul Hidayati