Yogyakarta, 3 Juni 2026 – Peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyoroti pentingnya sistem peringatan dini bencana yang lebih inklusif bagi penyandang disabilitas, khususnya di wilayah yang rawan erupsi gunung api di Indonesia. Kajian ini dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi, International Journal of Disaster Risk Reduction, melalui artikel berjudul “The inclusivity of volcanic hazard early warning systems: Experiences of persons with disabilities in Indonesia.”
Penelitian tersebut dilakukan oleh Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D bersama tim peneliti lintas institusi dari Fakultas Psikologi UGM, University College London, Kobe University dan organisasi masyarakat sipil Cerdas Antisipasi Risiko Indonesia (CARI). Studi ini mengeksplorasi secara mendalam pengalaman langsung serta tantangan nyata yang dihadapi oleh penyandang disabilitas saat merespons ancaman aktivitas vulkanik Gunung Merapi di dua desa yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) Gunung Merapi, yaitu Desa Wonokerto serta Desa Merdikorejo.Studi ini berangkat dari fakta bahwa penyandang disabilitas termasuk kelompok yang paling rentan saat terjadi bencana, namun sering kali belum menjadi fokus utama dalam desain sistem peringatan dini (Early Warning System/EWS). Tim peneliti menggunakan pendekatan participatory mixed-methods dengan melibatkan langsung 182 penyandang disabilitas, 9 perwakilan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD), serta 5 pejabat pemerintah dari instansi terkait.
Hasil penelitian mengungkap adanya kesenjangan pemahaman yang signifikan di masyarakat. Sebanyak 31% penyandang disabilitas belum memahami konsep Early Warning System (EWS) atau keliru mengartikannya, disertai dengan adanya ketimpangan partisipasi sosialisasi berdasarkan gender dan jenis disabilitas. Dari aspek jangkauan informasi, infrastruktur EWS formal berbasis auditori (suara) dinilai sangat terbatas dan hanya mampu mencakup 12% dari total penyandang disabilitas di kedua desa.
Keterbatasan sistem formal tersebut berhasil diatasi oleh kekuatan jaringan sosial informal melalui metode gethok tular (mulut ke mulut) yang digerakkan oleh Kepala Dusun (Dukuh), pengumuman pengeras suara masjid, dan ketukan kentongan tradisional. Kendati pesan darurat berhasil tersampaikan melalui jalur informal, kemampuan penyandang disabilitas untuk melakukan evakuasi mandiri secara cepat tetap terhambat oleh kendala logistik seperti kelangkaan moda transportasi, hambatan lingkungan ekstrem, serta fasilitas sanitasi pengungsian yang tidak aksesibel.
Kajian ini memiliki keterkaitan kuat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:
- SDG 11: Sustainable Cities and Communities, khususnya terkait pembangunan kota dan komunitas yang aman, tangguh, dan inklusif terhadap risiko bencana.
- SDG 10: Reduced Inequalities, melalui upaya pengurangan ketimpangan akses informasi dan perlindungan bagi kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
- Selain itu, studi ini juga mendukung SDG 13: Climate Action dalam konteks adaptasi dan pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.
Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., dalam keterangan resminya menyampaikan bahwa penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan psikologi sosial dan kebijakan publik yang lebih sensitif terhadap kelompok rentan.
“Mitigasi bencana tidak cukup hanya mengandalkan teknologi peringatan dini. Sistem tersebut harus memastikan seluruh kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas, dapat mengakses informasi secara setara dan bermakna,” ujarnya.
Menurutnya, inklusivitas dalam kebijakan kebencanaan menjadi semakin penting di tengah meningkatnya risiko bencana akibat perubahan iklim dan tekanan lingkungan.
Selain memberikan kontribusi akademik dalam studi psikologi komunitas dan pengurangan risiko bencana, penelitian ini juga menawarkan rekomendasi praktis bagi pemerintah dan lembaga kebencanaan. Peneliti mendorong integrasi teknologi modern dengan pengetahuan lokal serta penguatan kapasitas jaringan sosial komunitas. Selain itu, diperlukan juga pengembangan strategi komunikasi kebencanaan multisensori, pendataan penyandang disabilitas yang akurat serta peningkatan aksesibilitas infrastruktur fisik yang ramah disabilitas. Penelitian ini sekaligus memperkuat kontribusi UGM dalam pengembangan penelitian yang berdampak langsung pada masyarakat, khususnya dalam mendukung pembangunan berkelanjutan dan pengurangan risiko bencana di Indonesia.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar