Menjadi orang tua bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga tentang kesediaan untuk terus belajar, menyesuaikan diri, dan memahami dunia anak yang terus berubah.
Refleksi tersebut menjadi benang merah dalam Webinar Hybrid oleh Center of Life-Span Development (CLSD) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Jumat (22/5). Mengusung tema “Membangun Komunikasi Efektif Orang Tua dalam Kehidupan Akademik Anak”, kegiatan ini membahas dinamika parenting, relasi orang tua-anak, serta tantangan mendampingi anak di tengah perbedaan budaya dan perkembangan zaman.
CLSD UGM menghadirkan I Made Andi Arsana, S.T., M.E., Ph.D., dosen Departemen Teknik Geodesi, Fakultas Teknik UGM sekaligus orang tua mahasiswa Fakultas Psikologi UGM.
“Orang itu memang punya prinsip tertentu, tetapi dia harus tetap belajar,” ungkap Andi.
Dalam sesi tersebut, Andi mengajak orang tua menjalani proses learn, relearn, and unlearn. Menurutnya, orang tua tidak hanya perlu mempelajari hal baru, tetapi juga meninjau kembali cara pandang lama serta melepaskan pola asuh yang tidak lagi sesuai dengan kebutuhan anak.
Menurut Andi, proses mendampingi anak memerlukan kesiapan orang tua untuk terus belajar, menyesuaikan diri, berkompromi, dan menerima bahwa anak memiliki kebutuhan, serta cara berkembang yang mungkin berbeda.
“Tugas orang tua menurut saya akhirnya bukan memaksa tapi menyuguhi yang sebanyak mungkin sampai akhirnya dia bisa mencoba memilih,” ujar Andi.
Pesan tersebut menegaskan bahwa mendampingi anak berarti memberikan ruang, pengalaman, dan pilihan agar anak dapat mengenali kebutuhannya sendiri.
“Apa yang kita lihat pada anak kita itu sangat mungkin berbeda sekali dengan yang terjadi sebenarnya,” tutur Andi.
Dari pengalamannya sebagai orang tua, Andi menilai bahwa apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan kondisi yang sebenarnya dialami anak. Karena itu, orang tua perlu membangun kepekaan terhadap pengalaman anak, terutama ketika anak menghadapi tantangan akademik, tekanan emosional, maupun masa transisi dalam kehidupan.
“Perlu adanya dorongan dari orang tua itu sendiri untuk berkolaborasi, kemudian memberi kesempatan pada anak untuk menyampaikan pendapatnya dan perasaannya,” sebut Andi.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya kolaborasi dalam keluarga. Anak perlu diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dan menunjukkan apa yang telah mereka pelajari. Dengan cara ini, parenting tidak hanya menjadi proses mengarahkan, tetapi juga mendampingi anak agar mampu bertumbuh secara mandiri.
Melalui webinar ini, CLSD Fakultas Psikologi UGM mengajak orang tua untuk terus terbuka terhadap proses belajar dalam pengasuhan, termasuk belajar dari anak. Anak dapat membantu orang tua melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda, memahami kompleksitas generasi baru, serta merefleksikan kembali nilai-nilai yang selama ini dipegang dalam keluarga.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana