Yogyakarta, 22 Juni 2026 – Aplikasi rumah pintar (smart home) seperti Amazon Alexa, Google Home, dan Samsung SmartThings semakin terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menawarkan otomatisasi dan kemudahan. Namun, di balik kenyamanan tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah teknologi ini berpotensi melanggar nilai-nilai dasar penggunanya? Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian terbaru yang melibatkan peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama peneliti dari Deakin University (Australia), Universiti Teknologi Malaysia, dan Universiti Malaya. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada jurnal internasional Internet of Things Vol. 38, melalui artikel berjudul “A Human-LLM Study of Value Concerns in Smart Home App Reviews”.
Penelitian yang dilakukan oleh Davoud Mougouei, Son Pham, Ahmad Azarnik, Elahe Mougouei, Arif Nurwidyantoro, Hilya Mudrika Arini, Fitri Trapsilawati, dan Rizqi Nur’aini A’yuninnisa ini mengombinasikan analisis berbasis Large Language Models (LLMs) dengan penilaian para ahli untuk mengidentifikasi berbagai kekhawatiran pengguna (value concerns) yang muncul dalam ulasan aplikasi rumah pintar. Perkembangan teknologi rumah pintar semakin pesat, mulai dari asisten suara, kamera keamanan, hingga sistem otomasi rumah. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan berbagai persoalan, terutama terkait privasi, keamanan data, transparansi, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh berbagai kasus pelanggaran privasi pada beberapa perangkat rumah pintar. Menurut para peneliti, berbagai persoalan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan teknologi tidak hanya perlu berorientasi pada fungsi, tetapi juga harus memperhatikan nilai-nilai yang penting bagi penggunanya.
Dalam penelitian ini, tim peneliti menganalisis ribuan ulasan pengguna dari tiga platform rumah pintar terbesar, yaitu Google Home, Amazon Alexa, dan Samsung SmartThings. Large Language Models (LLMs) digunakan untuk mengidentifikasi berbagai skenario yang berpotensi melanggar nilai-nilai pengguna (value concerns). Selanjutnya, hasil analisis AI tersebut diverifikasi oleh evaluator dari bidang ilmu komputer dan ilmu sosial untuk memastikan konsistensi, kelayakan, dan ketepatan interpretasi.
Hasil penelitian mengungkap beberapa isu krusial mengenai bagaimana desain aplikasi dapat merugikan penggunanya. Lebih dari 75% ulasan bermasalah menyoroti pelanggaran terhadap nilai self-direction-action, di mana pengguna merasa kehilangan kebebasan untuk mengontrol perangkat mereka sendiri akibat sistem otomatisasi yang terlalu kaku dan antarmuka yang membatasi navigasi.
Selain masalah otonomi, hampir 25% keluhan berkaitan dengan penurunan tingkat kepuasan. Hal ini umumnya dipicu oleh lambatnya respons aplikasi, kendala teknis yang terus berulang, hingga masalah pada pemutaran media. Terdapat pula ancaman terhadap keamanan pribadi pada sekitar 5% keluhan, dengan pengguna melaporkan adanya kerentanan teknis seperti pemutusan jaringan tiba-tiba atau bug yang mengekspos ruang privasi mereka. Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi pengembang aplikasi untuk merancang sistem yang lebih bertanggung jawab dan berpusat pada manusia (human-centric).
Melalui penelitian ini, tim peneliti menegaskan bahwa meskipun teknologi smart home menjanjikan efisiensi tinggi, pelaksanaannya di lapangan masih sering kali mengorbankan otonomi, kepuasan, dan keamanan penggunanya. Keputusan desain antarmuka dan sistem yang buruk terbukti dapat menciptakan efek kerugian multidimensi terhadap nilai-nilai fundamental manusia. Dengan demikian, pengembangan teknologi Internet of Things di masa depan tidak hanya berfokus pada inovasi teknis, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap manusia dan masyarakat.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar