Ryan Sugiarto, M.A., dosen Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta, resmi meraih gelar Doktor Ilmu Psikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) setelah mempertahankan disertasinya dalam ujian terbuka yang diselenggarakan pada Rabu (17/6) di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM.
Dalam ujian terbuka tersebut, Ryan mempertahankan disertasi berjudul “Manungsa Tanpa Tenger: Konsep dan Proses”. Penelitian ini mengangkat pemikiran Kawruh Jiwa Ki Ageng Suryomentaram untuk mengembangkan konsep psikologi indigenous yang relevan dengan konteks Indonesia.
Ujian terbuka dipimpin oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Psikologi UGM, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D. Ryan menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat cumlaude, memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,86 dalam masa studi 3 tahun 8 bulan 2 hari. Dengan kelulusannya tersebut, Ryan tercatat sebagai doktor ke-7.306 yang diluluskan oleh UGM.
Ujian terbuka ini dihadiri oleh enam anggota tim penguji, yaitu Prof. Drs. Koentjoro, M.BSc., Ph.D., Psikolog selaku promotor, Dr. Wenty Marina Minza, M.A., selaku ko-promotor, Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog, Pdt. Stefanus Christian Haryono, MACF, Ph.D., Dr. H. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag., serta Dr. Mohammad Mahpur, M.Si.
Dalam disertasinya, Ryan memaparkan konsep “manungsa tanpa tenger” sebagai cara pandang alternatif terhadap identitas manusia. Ia menjelaskan bahwa identitas tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang tetap dan melekat secara permanen.

“Manungsa tanpa tenger adalah manusia yang mampu berjarak dari kemelekatan tenger, manusia yang mampu berjarak dari identitas-identitas yang melekat pada dirinya,” ujar Ryan dalam pemaparannya.
Penelitian ini menggunakan desain Inductive-Sequential Multimethod Design yang mengombinasikan pendekatan Grounded Theory dan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses menjadi manungsa tanpa tenger berlangsung melalui tahapan weruh dewe, krasa dewe, ngerti dewe, dan nglakoni.
Melalui temuan tersebut, Ryan mengusulkan Post Identity Theory, sebuah perspektif yang memandang bahwa manusia mampu menyadari, mendekonstruksi, dan melampaui identitas-identitas yang melekat pada dirinya secara sosial maupun psikologis.
Dalam sambutannya usai ujian terbuka, Ryan menyampaikan bahwa proses penyusunan disertasi tidak hanya menjadi perjalanan akademik, tetapi juga perjalanan reflektif untuk memahami diri dan manusia.

“Disertasi adalah sebuah perjalanan intelektual untuk memahami manusia sekaligus perjalanan personal untuk memahami diri sendiri,” ungkapnya.
Ryan juga menegaskan bahwa upaya merumuskan konsep manungsa tanpa tenger merupakan bagian dari pengembangan ilmu psikologi yang berakar pada kearifan lokal Indonesia.
“Upaya perumusan manungsa tanpa tenger bukan semata-mata usaha akademik untuk menghasilkan konsep psikologi yang baru. Ia merupakan bagian dari upaya untuk menghadirkan produksi pengetahuan khas Nusantara ke dalam percakapan akademik kontemporer,” tuturnya.
Penulis: Erna Tri Nofiyana