Lahir dan besar di Yogyakarta, Analisa awalnya bercita-cita masuk jurusan ilmu komunikasi. Ketertarikannya pada psikologi tumbuh dari kegemarannya membaca, salah satunya The Lost Boy karya Charlie Flotman, sebuah kisah tentang pendampingan psikolog terhadap anak dengan autisme. Dari sana, ia menemukan titik temu antara minatnya pada komunikasi dan keinginan untuk membantu sesama, yang mengantarkannya memilih Fakultas Psikologi UGM.
Perjalanan masuk UGM tidak mudah. Setelah gagal pada percobaan pertama, Analisa akhirnya diterima melalui jalur seleksi dengan biaya yang lebih terjangkau. Pilihan itu juga didorong oleh reputasi akademik, kedekatan dengan kota kelahirannya, dan pertimbangan biaya hidup yang relatif lebih hemat. Sejak saat itu, kecintaannya terhadap psikologi terus berkembang.
Selama kuliah, Analisa aktif sebagai asisten di Lembaga Pengembangan dan Konsultasi Manajemen (LPKM) – saat ini Unit Pengembangan Kualitas Manusia (UPKM). Pengalaman itu sempat membuatnya tertarik pada Psikologi Industri dan Organisasi (PIO) dan karier sebagai konsultan perusahaan. Namun, keterlibatannya sebagai testee dalam praktikum klinis dan kesempatan melakukan sit in di ruang konseling menjadi titik balik. Ia melihat psikologi klinis sebagai fondasi utama dalam memahami manusia, dan memutuskan mengambil mayor Psikologi Klinis dengan minor Industri.
Setelah lulus sarjana, Analisa kembali menjadi asisten LPKM selama enam bulan. Ia sempat mendaftar ke beberapa universitas luar negeri dan memperoleh Letter of Acceptance (LoA). Meski belum berhasil mendapatkan beasiswa LPDP maupun Erasmus, langkahnya tidak terhenti. Ia justru memperoleh beasiswa profesi dari UGM untuk melanjutkan studi Magister Psikologi Klinis.
Di tengah kebimbangan menentukan arah karier, Analisa memilih terjun langsung yaitu menjalani praktik klinis di Rumah Sakit JIH. Berhadapan dengan klien dari beragam latar belakang menjadi proses belajar yang krusial dan memperkuat kepercayaan dirinya sebagai psikolog klinis, hingga akhirnya ia memutuskan membangun konsultan psikologi sendiri.
Setelah lulus magister profesi, Analisa tetap berpraktik klinis di RS JIH sembari mendirikan APDC pada 2015. Ketertarikannya pada dunia bisnis bukan hal baru, sejak sekolah ia sudah terbiasa mencoba berbagai usaha. Latar belakangnya sebagai penyiar radio dan televisi turut menjadi modal dalam membangun komunikasi yang efektif dengan klien dan peserta pelatihan.
Seiring waktu, fokus APDC berkembang. Bermula dari layanan klinis, APDC merambah ke proyek-proyek PIO, lalu menemukan kekuatan utamanya di bidang pelatihan (training). Pada 2017, APDC mulai dipercaya menangani perusahaan-perusahaan besar di Jakarta, didukung oleh jejaring alumni yang tersebar di berbagai daerah. Pertumbuhan datang terutama dari word of mouth, bukti kepercayaan klien yang terus terjaga.

Di luar praktik dan bisnis, Analisa aktif sebagai pembicara dan trainer di berbagai forum. Ia menekankan bahwa langkah pertama dalam pengembangan karier adalah mengenali diri sendiri, memahami kekuatan dan minat sebelum menentukan keterampilan yang perlu diasah. Ia juga menekankan pentingnya agility, kemampuan untuk terus belajar dan beradaptasi, terutama di tengah perubahan dunia kerja yang berlangsung cepat.
Bagi lulusan baru, menurutnya, nilai utama yang bisa ditawarkan adalah semangat belajar. “Yang paling bisa dijual di awal adalah learning spirit. Karena belum punya pengalaman, yang akan dinilai adalah kemauan untuk belajar dan berkembang,” ujarnya.
Fase awal karier sebaiknya dimanfaatkan untuk eksplorasi, membangun keterampilan, dan memperluas jejaring, bukan semata-mata mengejar target finansial. “Karier bukan perlombaan cepat, tetapi permainan ketahanan,” tambahnya.
Analisa juga mengingatkan pentingnya tetap aktif di masa transisi karier. “Apa pun pekerjaannya, jangan menganggur. Ambil kesempatan yang ada, lakukan yang terbaik, dan komitmenlah sampai kontrak selesai,” tegasnya.
Pengalaman sekecil apa pun, menurutnya, membangun rekam jejak yang nilainya tidak bisa diremehkan.
Analisa menegaskan pentingnya integritas, kolaborasi, dan keberanian keluar dari zona nyaman. Dengan positioning yang jelas dan kesadaran untuk terus berkembang, ia percaya setiap orang akan menemukan jalannya masing-masing.
“Miliki motivasi yang lebih tinggi dari sekadar pencapaian pribadi, yaitu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain,” pungkasnya.
Reportase: Ghinaa Durratul Hikmah
Penulis: Fadia Hayu Godwina
Editor: Erna Tri Nofiyana
Foto: Dokumentasi Pribadi