Fenomena klitih yang melibatkan remaja masih menjadi perhatian masyarakat di Yogyakarta. Di balik aksi kekerasan jalanan tersebut, terdapat berbagai faktor psikologis, sosial, dan keluarga yang perlu dipahami untuk mencegahnya.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talkshow psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (16/6). Dipandu oleh Ferry Anggara, episode kedelapan ini menghadirkan Kompol Angela Yohana Melati Kusumasari, S.Psi., M.Psi., dan Istiana Tajuddin, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membahas persoalan sosial dan psikologis di balik kejahatan jalanan yang dilakukan remaja.
Klitih merujuk pada fenomena kejahatan jalanan yang melibatkan senjata tajam dan kerap dilakukan oleh remaja, khususnya di wilayah Yogyakarta.
“Bagi remaja, berada di lingkungan sosial itu penting sekali, jadi pertimbangan utamanya adalah saya ingin diterima di sini,” ujar Istiana.
Secara psikologis, remaja berada pada tahap perkembangan sistem limbik yang pesat, sehingga pengambilan keputusan cenderung bersifat emosional. Kebutuhan untuk diterima dalam kelompok atau mencari pengakuan sosial sering mendorong mereka melakukan tindakan agresif agar merasa memiliki atau berkuasa.
“Ada faktor dari lingkungan, teman-teman, di mana pergaulan melakukan itu, mereka ikut, kemudian ada faktor keluarga juga, bagaimana keluarga menerapkan disiplin dan pola asuh, itu rupanya sangat mempengaruhi pilihan perilaku mereka,” tutur Angela.
Kurangnya pengawasan dan komunikasi yang efektif membuat orang tua sering tidak menyadari aktivitas anak di luar rumah. Angela menekankan bahwa komunikasi dalam keluarga sangat memengaruhi perilaku anak, sehingga orang tua perlu berperan sebagai fasilitator yang aktif memahami dunia remaja masa kini, bukan sekadar pemberi perintah atau sanksi.
“Ketika orang tua seperti itu, anak akan belajar bahwa kekerasan akan ditoleransi,” tutur Istiana.
Orang tua yang membenarkan kekerasan, misalnya melalui hukuman fisik, dapat membuat anak berpikir bahwa agresi itu dibenarkan. Oleh karena itu, ketegasan orang tua penting, dengan batasan yang jelas antara benar dan salah.
Dalam upaya pencegahan, Polri memperkenalkan program “Ibu Memanggil”, sebuah inisiatif yang melibatkan orang tua dalam memantau keberadaan anak pada malam hari serta berkoordinasi dengan kepolisian bila diperlukan.
Kolaborasi sangat penting dalam membesarkan anak, dan orang tua sebaiknya terbuka terhadap masukan dari lingkungan agar dapat memahami anak dengan lebih baik. Selain itu, orang tua perlu memantau kondisi diri mereka sendiri, karena emosi dan frustrasi mereka turut memengaruhi hubungan dengan anak.
Angela mengingatkan bahwa “Anak kita tidak di-download”. Menurutnya, anak lahir karena diharapkan kehadirannya sehingga menjadi tanggung jawab bersama untuk membimbing dan mendukung mereka dalam membentuk masa depan.
Diskusi ini menegaskan bahwa membimbing anak dalam konteks fenomena klitih memerlukan kesabaran, komunikasi yang efektif, serta pendekatan yang hangat. Dengan pendekatan ini, anak-anak dapat menemukan “jalan pulang” yang sehat, sementara orang tua belajar memahami dunia remaja yang terus berkembang.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana