Momen ketika anak mulai berbicara tentu menjadi kebahagiaan bagi orang tua. Namun, perkembangan anak tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketika kemampuan berbicara anak terlihat berbeda dari anak seusianya, orang tua perlu mengamati perkembangannya tanpa langsung panik.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (4/8). Dipandu oleh Ferry Anggara, episode kesebelas ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, akrab disapa Bu Yayi, yang membahas perkembangan bahasa dan komunikasi pada anak.
Kemampuan berbicara berkembang secara bertahap. Sebelum bisa bercakap, bayi belajar mengenali suara, memberikan respons, mengoceh, hingga mengucapkan kata pertama. Perkembangan tersebut mengikuti developmental milestones atau tahapan perkembangan yang umumnya dicapai pada rentang usia tertentu.
“Perkembangan berbicara itu harus dimulai bahkan sejak bayi, sebelum anak bisa mengungkapkan apa yang dirasakan,” ujar Yayi.
Setiap anak melewati tahapan perkembangan yang sama, tetapi kecepatannya dapat berbeda. Meski begitu, orang tua tetap perlu memberikan stimulasi yang cukup.
Stimulasi dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana, seperti mengajak anak berbicara, bermain bersama, membacakan buku, serta mengenalkan berbagai bunyi dan tekstur.
Komunikasi perlu berlangsung dua arah
Menurut Yayi, komunikasi perlu berlangsung secara dua arah. Anak tidak hanya mendengar, tetapi juga perlu diberi kesempatan untuk merespons dan mendapatkan tanggapan.
Hal ini tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh gawai. Melalui interaksi, anak tidak hanya belajar mengucapkan kata. Anak juga belajar menyampaikan perasaan, memahami orang lain, dan membangun keterampilan sosial.
Amatilah perkembangan anak
Yayi mengingatkan bahwa orang tua tidak perlu membandingkan perkembangan secara berlebihan. Namun, apabila keterlambatan terlihat cukup jauh, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

“Satu prinsip dari psikologi perkembangan adalah bahwa setiap anak akan memiliki fase yang sama, tapi kecepatannya beda-beda,” ucap Yayi.
Jika orang tua merasa ada sesuatu yang berbeda, pemeriksaan dapat dilakukan untuk memastikan kondisi perkembangan anak.
“Sedini mungkin berkonsultasi dengan profesional, entah itu psikolog maupun dokter anak, supaya tidak terlambat,” tegas Yayi.
Berkonsultasi tidak berarti anak pasti mengalami gangguan. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui apakah perkembangannya masih dalam batas wajar atau membutuhkan bantuan lebih lanjut.
Dalam beberapa kasus, orang tua juga memerlukan arahan agar dapat memberikan stimulasi dan pendampingan yang sesuai di rumah.
Orang tua menjadi contoh utama
Anak belajar berkomunikasi dengan meniru orang-orang di sekitarnya. Karena itu, orang tua perlu memberikan contoh pengucapan kata yang benar.
Ketika anak mengucapkan kata yang kurang tepat, orang tua tidak perlu langsung memarahinya. Orang tua dapat bertanya terlebih dahulu mengenai maksud dan pemahaman anak terhadap kata tersebut. Perilaku orang tua menjadi salah satu sumber belajar utama bagi anak.
“Orang dewasa kadang menganggapnya asbun (asal bunyi) padahal itu merupakan bagian dari perkembangan,” jelas Yayi.
Pada akhirnya, komunikasi dua arah, stimulasi yang cukup, dan perhatian terhadap perkembangan anak menjadi hal penting. Orang tua tidak perlu terburu-buru panik, tetapi juga tidak sebaiknya mengabaikan tanda keterlambatan yang terlihat jelas.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi! Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Kanal Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana