Selama ini, psikolog Indonesia banyak menggunakan alat tes kognitif yang dikembangkan di luar negeri, tanpa mempertimbangkan budaya lokal, bahkan dipertanyakan legalitasnya. Kini, Fakultas Psikologi UGM menjawab tantangan itu dengan menghadirkan buku “Tes Kognitif AJT: Penyusunan dan Pengembangan Berbasis Teori CHC”.
Pengembangan Alat Tes Kognitif AJT bukanlah penelitian yang singkat. Berakar dari keprihatinan seorang ayah yang harus membawa anaknya ke luar negeri hanya untuk mendapatkan asesmen kognitif, penelitian ini lahir dari keyakinan bahwa Indonesia berhak punya alat ukur kecerdasan sendiri, yang valid, legal, dan relevan secara budaya.
Lebih dari sekadar panduan penggunaan, buku ini merupakan ensiklopedia komprehensif yang memuat sejarah perkembangan teori kecerdasan, landasan teori CHC (Cattell-Horn-Carroll) sebagai kerangka yang paling mutakhir dan berbasis bukti empiris terkuat saat ini, proses pengembangan AJT, hingga penjelasan mendalam mengenai masing-masing subtes.
Alat tes yang dikembangkan di luar negeri dan dibawa ke Indonesia, selain dipertanyakan aspek legalitasnya, juga mengandung bias budaya yang nyata. Dalam wawancara eksklusif, koordinator penerbitan buku AJT, Samudera Fadlilla Jamaluddin, S.Psi., M.Sc., menyebut contoh konkret: beberapa item tes populer yang menampilkan gambar salju dan cerobong asap berpotensi menghasilkan penilaian kognitif yang tidak akurat, karena hal yang ditampilkan cukup asing bagi anak Indonesia. AJT hadir untuk menutup celah celah ini.
Pengembangan AJT dimulai sekitar tahun 2013-2014 atas dukungan pendanaan dari sebuah yayasan, dan melibatkan lebih dari 3.000 anak Indonesia sebagai sampel penelitian. Penulisan bukunya sendiri telah diinisiasi sejak sekitar 2016 dan melibatkan puluhan dosen dari Fakultas Psikologi UGM, termasuk almarhum dosen senior Prof. Dr. Amitya Kumara, M.S., hingga akhirnya selesai pada 2023-2024, dengan total proses pembuatannya hampir 10 tahun. Tiga penyunting akhir buku ini adalah Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, dan Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog.
Dengan terbitnya buku ini, AJT kini semakin terbuka untuk digunakan secara luas. “Harapannya sebetulnya lebih ke semoga alat ukur AJT ini makin banyak dipakai oleh orang, sehingga kita bisa mendapatkan hasil pengukuran kecerdasan yang lebih adil, karena pengukurannya mempertimbangkan budaya dan karakteristik masyarakat Indonesia, sehingga meminimalisir bias budaya dalam proses pengukuran,” ujar koordinator penerbitan buku AJT. Ia juga menambahkan, “Semoga buku ini bisa bermanfaat dan informatif, menambah wawasan terkait dengan pengukuran kemampuan kognitif anak.”
Indonesia kini punya alat ukur kecerdasan yang lahir dari riset panjang, dikembangkan untuk konteks budaya sendiri, dan bisa dipertanggungjawabkan secara hukum maupun ilmiah. Buku AJT bukan hanya referensi akademis, tapi juga undangan bagi seluruh pendidik, peneliti, dan praktisi untuk bersama-sama memajukan standar asesmen kognitif di Indonesia. Saat ini sertifikasi tester tersedia bagi psikolog lulusan manapun, dijadwalkan rutin setiap tahun, termasuk kolaborasi mendatang dengan sebuah klinik neurodevelopmental di Bandung sekitar bulan Oktober. Informasi lebih lanjut mengenai agenda sertifikasi, webinar, dan akses ke buku, tersedia melalui UPAP Psikologi UGM atau akun Instagram resmi AJT (@ajt.ugm).
Penulis: Raden Roro Anisa Anggi Dinda
Foto: ajt-ugm.com