Informasi mengenai kesehatan mental kini semakin mudah diakses melalui media sosial, termasuk konten tentang depresi, kecemasan, ADHD, dan burnout. Namun, kemudahan ini juga berisiko menimbulkan kesalahpahaman karena banyak individu melakukan self-diagnosis tanpa asesmen psikologis yang memadai dan memberi label pada diri sendiri tanpa memahami konteks serta batasannya.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talkshow psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (2/6). Dipandu oleh Argya Hanisi, episode ketujuh ini menghadirkan mahasiswa Program Doktor Fakultas Psikologi UGM, Patera Adwiko Priambodo, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membahas maraknya fenomena self-diagnosing.
Self-diagnosing merupakan upaya individu mengenali kondisi psikologisnya sendiri berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber, termasuk media sosial. Meskipun keinginan untuk memahami diri sendiri merupakan hal yang positif, proses diagnosis dalam psikologi maupun kesehatan mental tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan satu atau dua gejala yang dirasakan.
Banyak gejala tampak serupa, tetapi belum tentu menunjukkan tegaknya diagnosis; misalnya, sedih beberapa hari tidak selalu berarti depresi, atau kesulitan berkonsentrasi tidak selalu menunjukkan ADHD.
“Contohnya adalah seperti orang yang ngebangun rumah. Ketika kita mau bangun rumah, maka kita sebenarnya mau kan dikerjakan oleh arsitek yang kompeten,” ujar Patera. Ia menjelaskan bahwa penegakan diagnosis memerlukan asesmen yang komprehensif dan dilakukan oleh tenaga profesional yang kompeten.
Patera menekankan bahwa kesehatan mental perlu dipahami secara menyeluruh. Oleh karena itu, jika seseorang merasa mengalami kesulitan psikologis yang mengganggu aktivitas sehari-hari, langkah yang lebih tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional yang berkompeten.
“… konten psikologi di media sosial sebenarnya itu saya bisa bilang baik kalau itu kemudian diterima untuk meningkatkan awareness saja. Tetapi tadi kalau teman-teman kemudian merasa bahwa ada kondisi tertentu di dalam dirinya, itu perlu untuk didiskusikan dengan mental health professional,” ujar Patera.
Patera menambahkan bahwa konten media sosial sering kali disajikan dalam bentuk yang singkat dan sederhana agar mudah dipahami oleh audiens. Meskipun bermanfaat untuk edukasi awal, penyederhanaan tersebut dapat membuat sebagian orang mengabaikan kompleksitas kondisi psikologis yang sebenarnya.
Akibatnya, seseorang dapat mengalami overidentification, yaitu kecenderungan untuk merasa bahwa seluruh informasi yang disampaikan dalam suatu konten menggambarkan dirinya secara utuh. Kondisi ini dapat mendorong munculnya kecemasan, kekhawatiran berlebihan, bahkan keyakinan bahwa dirinya memiliki gangguan tertentu tanpa pemeriksaan yang memadai.

“Ketika seseorang kemudian mencoba melabeli dirinya terhadap kondisi kesehatan tertentu, kemudian di-search terus tentang informasi yang tadi juga sebenarnya sumbernya nggak jelas, maka sebenarnya itu bisa membuat diri kita menjadi semakin lebih panik,” tutur Patera.
Patera menjelaskan fenomena cyberchondria, sebuah kondisi di mana seseorang yang melakukan self-diagnosis justru mengalami peningkatan rasa panik dan kecemasan akibat informasi dari sumber yang tidak jelas yang beredar di internet. Fenomena ini membuat individu merasa tidak berdaya karena mereka terpapar narasi yang tidak tepat.
Oleh karena itu, profesional perlu membantu klien memahami kondisi yang sebenarnya agar mereka dapat kembali menjadi lebih berdaya dalam menghadapi permasalahannya.
“Self-diagnosis membuat orang kemudian tidak tahu bagaimana cara melakukan treatment. Mungkin mereka kemudian tadi karena salah melabeli dirinya jadi enggak tahu habis ini “so what’s next?” ungkap Patera.
Selain membantu memperoleh pemahaman yang lebih akurat, konsultasi profesional juga memungkinkan individu mendapatkan rekomendasi penanganan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pada akhirnya, meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kesehatan mental merupakan perkembangan yang positif. Namun, kesadaran tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi dan memahami batasan dari konten yang beredar di media sosial. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh manfaat edukatif dari media digital tanpa terjebak dalam praktik self-diagnosing yang berpotensi menyesatkan.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana