Yogyakarta, 4 Maret 2026 — Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental, sebuah studi kolaboratif peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan The University of Melbourne menyoroti satu aspek yang selama ini kerap terabaikan, yaitu peran self-healing dalam pemulihan penyintas kehilangan akibat bunuh diri di Indonesia.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional Death Studies, 50(4) ini mengungkap bahwa pemulihan tidak terjadi secara otomatis. Sebaliknya, self-healing merupakan proses aktif, sadar, dan dinamis yang dijalani penyintas untuk menghadapi duka mendalam.
Tim peneliti yang dipimpin Adelia Khrisna Putri bersama Arka Nareswari, Gregory Armstrong, Diana Setiyawati, dan Karl Andriessen Mewawancarai 31 partisipan yang terdiri dari 16 penyintas kehilangan akibat bunuh diri (suicide loss survivors) dan 15 praktisi kesehatan mental yang menyediakan bantuan profesional kepada penyintas (grief support providers). Hasilnya menunjukkan bahwa baik penyintas maupun praktisi kesehatan mental sama-sama mengartikan self-healing sebagai proses menghadapi luka yang dinamis, aktif dan disengaja (intentional) dengan atau tanpa bantuan profesional.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kehilangan akibat bunuh diri tidak hanya membuat seseorang merasa terputus secara sosial namun juga pada tingkat personal dan spiritual. Self-healing dapat membantu memulihkan kembali koneksi yang terputus tersebut, salah satunya dengan membangun relasi dengan orang lain yang punya pengalaman serupa.
“Pemulihan bukan tentang menghapus duka, tetapi bagaimana individu secara perlahan membangun kembali keterhubungan dalam hidupnya,” demikian salah satu poin kunci yang disoroti dalam studi tersebut.
Temuan ini menjadi penting bagi Indonesia, di mana pendekatan penanganan duka akibat bunuh diri masih relatif terbatas dan sering kali belum sensitif terhadap pengalaman penyintas. Penelitian ini menekankan perlunya pendekatan yang lebih empatik, berbasis pengalaman nyata, serta memperhatikan dimensi budaya dan spiritual.
Bagi praktisi kesehatan mental dan pembuat kebijakan, studi ini memberikan pesan tegas: Penanganan pada penyintas kehilangan akibat bunuh diri sebaiknya tidak hanya fokus pada intervensi namun juga layanan pasca intervensi. Salah satunya dengan memastikan layanan konseling kelompok dapat diakses secara luas serta melibatkan pemuka agama/pemimpin spiritual lokal.
Dengan mengangkat suara penyintas, penelitian ini tidak hanya memperkaya literatur akademik, tetapi juga membuka jalan bagi pendekatan pemulihan yang lebih holistic dan tepat sasaran. Di tengah kompleksitas isu kesehatan mental, self-healing muncul bukan sekadar konsep populer, melainkan proses pemulihan yang proaktif dan mendorong pertumbuhan penyintas.
Link artikel: https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/07481187.2024.2437471#abstract
Selamat untuk Adelia Khrisna Putri, S.Psi., M.Sc., Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, dan tim.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar