Sebanyak 3.000 peserta dari seluruh Indonesia mengikuti kegiatan Orientasi Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) di Sekolah bagi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) yang diselenggarakan pada Rabu–Kamis, 22–23 April 2026, pukul 07.30–13.00 WIB. Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui Zoom dan siaran langsung YouTube, sebagai upaya memperkuat peran sekolah dalam promosi kesehatan jiwa sekaligus meningkatkan kapasitas guru BK dalam memberikan dukungan psikologis awal pada kondisi krisis.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dalam pelaksanaannya, Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM turut berkontribusi sebagai narasumber, menghadirkan para ahli di bidang kesehatan mental masyarakat.
Dalam sesi mengenai penerapan dan pengelolaan P3LP di sekolah, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog menekankan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang benar-benar menumbuhkan aspek psikologis siswa. Ia menyampaikan bahwa sekolah memiliki peran krusial, terutama bagi anak-anak yang mungkin tidak mendapatkan dukungan emosional yang memadai di rumah. Menurutnya, ketika sekolah mampu menghadirkan sentuhan psikologis yang tepat, siswa dapat tumbuh menjadi individu yang empatik, yang kelak diharapkan menjadi pemimpin yang berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Lebih lanjut, Diana juga menggarisbawahi bahwa tanggung jawab kesehatan mental di sekolah tidak hanya berada di pundak guru BK semata. “Kita harus melibatkan seluruh stakeholder, siapapun itu di dalam sekolah bertanggung jawab, berpengaruh, dan berkontribusi dalam kesehatan mental seluruh warga sekolah,” ujarnya.
Pesan serupa disampaikan oleh Wulan Nur Jatmika, S.Psi., M.Sc., yang membawakan materi tentang peran sebagai first aider di lingkungan sekolah. Ia mengingatkan bahwa guru BK tidak perlu merasa sendirian dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan. “Kesehatan mental adalah tanggung jawab kita bersama, dan banyak pihak yang dapat dilibatkan untuk berbagi peran,” jelasnya.
Sementara itu, Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog memaparkan teknik konseling dasar sebagai keterampilan pendukung dalam implementasi P3LP. Dalam penutup sesinya, ia menekankan bahwa esensi dari pembelajaran selama orientasi bukan sekadar memahami materi, tetapi bagaimana peserta dapat mengimplementasikannya secara nyata. Ia juga mengajak peserta untuk lebih jujur dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri sebagai bagian dari proses menjadi lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan psikologis.
Pada sesi penutup, Wirdatul Anisa, M.Psi., Psikolog mengangkat pentingnya menjaga kesehatan mental bagi para pendidik itu sendiri. Ia menekankan bahwa keterbatasan individu menjadikan jejaring dan kolaborasi sebagai kebutuhan penting. Menurutnya, membangun tim dan memanfaatkan sumber daya yang ada dapat membantu guru BK merasa lebih didukung dalam menjalankan perannya.
Wirdatul juga mengingatkan pentingnya menetapkan batasan dalam membantu siswa dan orang tua. “Sebanyak apapun tugas yang kita lakukan, kita tetap perlu memiliki batasan. Kita bisa membantu, tetapi tidak bisa mengontrol sepenuhnya,” ungkapnya. Selain itu, ia mendorong peserta untuk tetap mengapresiasi diri atas upaya yang telah dilakukan, meskipun hasilnya belum selalu sesuai harapan.
Materi dalam kegiatan ini disusun berdasarkan buku saku P3LP yang merupakan hasil kolaborasi antara Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI dan CPMH Fakultas Psikologi UGM. Buku saku tersebut telah dikembangkan untuk berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, sebagai panduan praktis dalam memberikan pertolongan pertama pada luka psikologis.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para guru BK dan seluruh pemangku kepentingan di lingkungan sekolah dapat semakin siap dan terampil dalam merespons kebutuhan kesehatan mental siswa. Lebih dari itu, orientasi ini menjadi langkah konkret dalam membangun ekosistem sekolah yang tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis seluruh warganya.
Penulis: Nurul Hidayati