Gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga erupsi gunung api adalah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat di berbagai daerah Indonesia, termasuk Yogyakarta.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talkshow psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (7/7). Dipandu oleh Hendry Saputra, episode kesembilan ini menghadirkan seorang alumnus Program Doktor Psikologi UGM, Dr. Nevi Kurnia Arianti, S.Psi., M.Si., yang membahas pentingnya menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi modern dalam mitigasi bencana.
“Teknologi adalah sesuatu yang memang harus terus kita upayakan. Tapi di satu sisi, kita juga memiliki jati diri, adat istiadat, kebiasaan, atau tradisi luhur yang sebenarnya bisa disinergikan dengan teknologi,” ujar Nevi.
Teknologi seperti early warning system, CCTV, telepon pintar, dan berbagai perangkat digital membantu menyampaikan informasi secara cepat. Tapi teknologi punya batas, saat listrik padam, jaringan internet terputus, atau sistem peringatan gagal berfungsi, masyarakat butuh sesuatu yang lain untuk diandalkan.
Di sinilah kearifan lokal berperan. Tradisi lisan, pengalaman antargenerasi, pengetahuan mengenai lingkungan, serta kepekaan terhadap perubahan alam membantu masyarakat memahami dan merespons ancaman sesuai konteks wilayahnya masing-masing. Kearifan lokal tidak menggantikan data ilmiah, keduanya berjalan berdampingan. Teknologi menawarkan kecepatan dan akurasi, pengetahuan lokal memberikan konteks dan kedekatan masyarakat.
Nevi juga menyoroti pentingnya relawan berbasis komunitas. Relawan ini tinggal di lingkungan yang sama dengan masyarakat terdampak dan memahami kondisi warga secara lebih dekat.
“Ketika mereka sudah membiasakan sehari-harinya, maka mereka memiliki kepekaan,” ungkap Nevi.
Kedekatan itu membuat relawan mengerti siapa saja warga yang membutuhkan bantuan khusus, seperti anak-anak, lanjut usia, penyandang disabilitas, atau keluarga yang tinggal di wilayah rawan.
Ketika teknologi tidak berfungsi, merekalah yang menyampaikan informasi secara langsung, membantu evakuasi, dan menenangkan masyarakat. Kepercayaan yang sudah terbangun sebelumnya menjadi modal penting saat situasi darurat.

“Menjadi seorang relawan itu modal terbesarnya memiliki hati, hati yang memberi dan hati yang mau belajar,” ujar Nevi.
Selain kepedulian, relawan juga perlu kemampuan mengelola emosi. Rasa takut dan kepanikan menyebar cepat dalam situasi bencana, sehingga regulasi diri dan kecerdasan emosi perlu dilatih, baik oleh relawan maupun masyarakat, agar keputusan yang diambil tetap tepat.
Pendekatan lokal seperti seni, tradisi, permainan, dan kegiatan komunitas juga bisa dipakai sebagai media edukasi dan dukungan kesehatan mental.
Kesiapsiagaan bencana bukan hanya urusan pemerintah atau lembaga kebencanaan. Hal ini perlu ditanamkan sebagai budaya bersama sejak usia dini. Anak-anak dapat dikenalkan pada perilaku prososial, seperti membantu orang lain, bekerja sama, mengikuti arahan saat keadaan darurat, dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Sekolah mengajarkan prosedur dan simulasi. Keluarga dapat menanamkan kebiasaan sehari-hari. Relawan dan akademisi menyediakan pengetahuan teknis di lapangan. Media menyebarkan informasi yang akurat dan cepat. Masing-masing mempunyai peran yang berbeda, tapi saling bergantung satu sama lain.
“Kita sebagai insan yang tinggal di daerah rawan bencana bahwa kita juga sebagai warga yang punya peran bersama-sama,” tutur Nevi.
Diskusi ini menegaskan bahwa mitigasi bencana yang efektif membutuhkan sinergi antara teknologi, kearifan lokal, kesiapan psikologis, dan kekuatan komunitas.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi! Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana