Perkembangan ilmu neuropsikologi di Indonesia mendorong kebutuhan penguatan kapasitas akademisi dan praktisi, khususnya dalam penerapan ilmu otak dan kognisi pada pendidikan, asesmen, dan intervensi. Hal ini melatarbelakangi Asosiasi Neuropsikologi Indonesia (ANI) menyelenggarakan Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) pertama bertema “Menjembatani Sains dan Menguatkan Ekosistem Neuropsikologi”. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi tuan rumah kegiatan pada Jumat–Minggu (25–27/9).
Temilnas pada hari pertama diawali dengan workshop neuropsikologi dan pengajaran kurikulum yang digelar secara luring. Workshop neuropsikologi terbagi dalam empat kelas dan diikuti sekitar 60 peserta. Sesi ini menghadirkan Drs. Heru Wiryanto, M.Psi., Psy.D., Prof. Donny Hendrawan, S.Psi., M.Psy., Ph.D., Vennisia Mo, Ph.D., Psikolog, dan Tio Rafaella Jemima, Psy.D., sebagai pemateri.

Heru melalui sesi Neuro Cognitive Behavioral Therapy (Neuro-CBT) dalam kerangka Neuro Cognitive Optimization and Restructuring Ecosystem (N-CORE), membahas peran atensi, memori kerja, dan pengendalian respons dalam perubahan psikologis. “Perbedaan kemampuan neurokognitif perlu diperhatikan agar strategi intervensi sesuai dengan kebutuhan individu,” ujarnya.

Donny membahas pemanfaatan teknologi dalam asesmen. Asesmen digital dapat merekam waktu reaksi, pola kesalahan, dan konsistensi respons. “Data tersebut tetap perlu dibaca bersama wawancara, observasi, dan riwayat individu agar interpretasinya sesuai konteks,” jelasnya.

Vennisia mengulas asesmen dan rehabilitasi kognitif pada dewasa dan lansia. Pemeriksaan membantu mengidentifikasi kekuatan dan keterbatasan kognitif sebagai dasar menentukan dukungan. “Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya dilihat dari skor tes, tetapi juga kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari dan mempertahankan kemandirian,” paparnya.

Pada konteks anak, Tio Rafaella membahas penyusunan laporan neuropsikologis pediatrik berbasis bukti. Hasil tes perlu dipadukan dengan riwayat perkembangan serta informasi dari keluarga dan sekolah. “Rekomendasi perlu disusun secara jelas agar dapat diterapkan oleh pihak yang mendampingi anak,” tuturnya.
Workshop ditutup dengan sesi pengajaran kurikulum oleh Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D., Psikolog, Dr. Augustina Sulastri, Psikolog, Vennisia Mo, Ph.D., Psikolog, dan Wilda Fasim Hasibuan, S.Psi., M.A. Sesi ini membahas strategi pengajaran biopsikologi dan neuropsikologi melalui kasus, demonstrasi, dan contoh penerapan agar mahasiswa mudah memahami keterkaitan otak, kognisi, dan perilaku.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Sussanti