Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Asosiasi Neuropsikologi Indonesia (ANI) melanjutkan Temu Ilmiah Nasional (Temilnas) I ANI pada Sabtu (26/9) secara luring di UC Hotel Ballroom. Melanjutkan pembahasan mengenai penerapan neuropsikologi melalui workshop pada hari pertama, kegiatan pada hari kedua membahas tantangan yang lebih luas, seperti bagaimana menyiapkan tenaga profesional, mengembangkan alat asesmen, dan membangun ekosistem keilmuan yang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia.
Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog, membawakan paparan utama. Ia menyoroti perlunya kerja sama antara organisasi profesi, asosiasi, dan institusi pendidikan untuk mengembangkan spesialisasi neuropsikologi, dengan jalur pendidikan, supervisi, standar kompetensi, dan batas praktik yang jelas sebagai syarat utamanya.
“Pendidikan spesialis harus dibangun bersama dalam ekosistem pendidikan tersebut,” tegasnya.
Dosen Fakultas Psikologi UGM, Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, membahas tantangan di tingkat institusi berdasarkan pengalamannya membangun neuropsikologi di lingkungan fakultas, mulai dari menyiapkan tenaga pengajar dan kurikulum, hingga mengembangkan penelitian, fasilitas, dan jejaring praktik. Menurutnya, unsur-unsur ini perlu saling terhubung agar perkembangan neuropsikologi bisa berlangsung berkelanjutan.
“Temilnas ini pun tidak akan terjadi kalau tidak ada kolaborasi,” ucap Supra.
Pada sesi pleno lain, Prof. Dr. Gilles van Luijtelaar mengangkat pengaruh bahasa dan latar budaya terhadap hasil tes kognitif. Di masyarakat yang beragam seperti Indonesia, perbedaan skor tidak bisa langsung dimaknai sebagai perbedaan kemampuan kognitif, bahasa sehari-hari, pendidikan, dan pengalaman belajar juga perlu dipertimbangkan saat menafsirkan hasil pemeriksaan.

“Hasil tesnya bisa berbeda, dan ini menjadi persoalan di Indonesia,” jelas Gilles. Ia menjelaskan bahwa meskipun seseorang memahami Bahasa Indonesia, bahasa yang lebih akrab digunakan sehari-hari dapat mempengaruhi hasil tes kognitif.
Pembahasan mengenai WISC-V oleh Prof. Dr. Marc P.H. Hendriks menyoroti pentingnya ketepatan asesmen dalam mengukur kemampuan kognitif anak. Ia menekankan pentingnya memahami validitas, reliabilitas, dan kesesuaian norma sebelum hasil tes dipakai untuk mengambil keputusan, termasuk perlunya mengkaji ulang dan mengadaptasi instrumen yang dikembangkan di luar Indonesia agar sesuai dengan populasi yang diperiksa.
Guru Besar Fakultas Psikologi UGM, Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., M.B.A., Ph.D., Psikolog, membahas hipnosis klinis dan proses pemulihan manusia dari sudut pandang psikologi serta neurofisiologi. Sesi ini mengajak peserta melihat keterkaitan antara perhatian, persepsi, pengalaman subjektif, dan respon tubuh dalam memahami proses terapeutik.
Rangkaian sesi hari kedua menunjukkan bahwa penguatan neuropsikologi tidak cukup ditopang oleh perkembangan pengetahuan tentang otak dan perilaku saja. Kualitas pendidikan profesi, ketepatan alat ukur, kepekaan terhadap keragaman masyarakat, dan kerja sama lintas disiplin sama-sama menentukan apakah ilmu ini bisa diterapkan secara bertanggung jawab.
Kolaborasi lintas disiplin dan lintas institusi yang terjalin selama acara ini diharapkan dapat terus berlanjut demi ekosistem neuropsikologi yang lebih kuat di Indonesia.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Sussanti dan Erna Tri Nofiyana