“Coba lebih fokus.” “Jangan malas.” “Kamu cuma kurang disiplin.” Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi individu dengan ADHD, komentar semacam ini dapat terasa melelahkan dan menyakitkan.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (1/9). Dipandu oleh Hendry Saputra, episode ketiga belas tahun ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Muhammad Nabhan Husein, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membahas manifestasi ADHD pada orang dewasa.
Attention-deficit and hyperactivity disorder atau ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam memusatkan atensinya, mengendalikan impuls, dan mengatur tingkat aktivitas.
“Ada sisi fisiologisnya (dalam ADHD), ada perkembangan di bagian otak yang memang tidak berkembang seperti orang-orang yang kita bilang neurotipikal,” ujar Nabhan.
Lebih lanjut, Nabhan menjelaskan bahwa gejala yang menyerupai ADHD dapat muncul setelah seseorang mengalami stroke atau cedera akibat kecelakaan. Sementara itu, ADHD pada umumnya berkaitan dengan faktor genetik. Ciri-cirinya telah muncul sejak masa kanak-kanak dan dapat berlanjut hingga dewasa.
“Seiring berjalannya usia, sebenarnya gejala-gejala tersebut menjadi semakin tersembunyi karena kemampuan seseorang untuk meregulasi gejala-gejala tersebut meningkat, sehingga bentuknya akan berbeda pada orang dewasa,” tuturnya.
Nabhan menjelaskan bahwa manifestasi perilaku ADHD pada orang dewasa dapat terlihat dalam berbagai situasi, seperti kesulitan mengantre, duduk tenang, atau mempertahankan fokus di kantor.
Pada orang dewasa dengan ADHD, kesulitan mengelola waktu dapat muncul dalam bentuk time blindness. Mereka mengetahui durasi waktu secara angka, tetapi kesulitan memahami pentingnya waktu tersebut, sehingga lebih rentan mengalami keterlambatan.
“Burnout itu bisa memunculkan ciri-ciri ADHD, sehingga skrining lebih lanjut diperlukan untuk memastikan,” ujarnya.
Gejala tersebut berupa sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, dan merasa lelah berkepanjangan. Karena itu, diperlukan asesmen lebih lanjut oleh tenaga profesional untuk memastikan apakah kesulitan yang dialami berkaitan dengan ADHD atau kondisi lain.
Kesulitan tersebut sering diartikan sebagai kemalasan. Padahal, keduanya memiliki dasar yang berbeda.
“Sebenarnya malas itu adalah ketika di sana memang ada intensi untuk tidak melakukan dan menghindari kegiatan tersebut karena tidak mau. (Sedangkan jika ADHD), Ia sudah mengiakan dan mau sebenarnya, tapi dia lupa,” jelasnya.
ADHD pada orang dewasa dapat dikenali melalui pola kesulitan yang terus berulang dan memengaruhi kualitas hidup. Tandanya tidak hanya berupa sulit fokus, tetapi juga sering lupa, terlambat, kesulitan menepati janji, serta kewalahan mengatur waktu dan menyelesaikan tugas.
“Banyak juga kasus perceraian karena ADHD, karena tidak paham apa yang terjadi,” ujar Nabhan.
Dampak tersebut menunjukkan pentingnya meningkatkan kesadaran terhadap ADHD pada orang dewasa. Ketika kesulitan berkonsentrasi, mengatur waktu, menyelesaikan pekerjaan, atau menjaga hubungan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Berkonsultasi dengan tenaga profesional dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh pemeriksaan dan dukungan yang sesuai.
Dalam menjalani aktivitas sehari-hari, individu juga dapat membangun sistem pendukung seperti menggunakan jadwal rutin, alarm atau pengingat, serta membagi tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikelola.
Pada akhirnya, individu dengan ADHD bukanlah seseorang yang kurang berusaha; mereka hanya membutuhkan pemahaman, dukungan, dan cara yang tepat untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi! Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Kanal Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana