Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Bridging Course bagi 49 calon mahasiswa baru Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi Angkatan VI sebagai bekal sebelum memasuki perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Program yang berlangsung selama delapan minggu, mulai 15 Juni hingga 6 Agustus 2026, ini dirancang untuk menyamakan kompetensi dasar peserta sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi proses pendidikan profesi.
Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi UGM, Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., M.Psych., Ph.D., Psikolog, menjelaskan bahwa Bridging Course dirancang untuk mengatasi kesenjangan kompetensi yang masih dijumpai antara lulusan program sarjana dengan tuntutan pendidikan profesi.
“Bridging course ini adalah untuk menjembatani, namanya saja bridging, menjembatani satu dari kurikulum S1 Psikologi ke kurikulum profesi yang sejauh ini memang masih banyak gap-nya,” ujarnya dalam Sosialisasi dan Tanya Jawab Program Pendidikan Profesi Psikologi Angkatan VI yang diselenggarakan secara daring pada Maret 2026.
Menurut Sutarimah, kesenjangan tersebut tidak hanya terjadi antara kurikulum sarjana dan pendidikan profesi, tetapi juga antarlulusan dari berbagai perguruan tinggi maupun angkatan yang berbeda.
“Bahkan di universitas yang sama antara lulusan yang lama dengan lulusan yang baru itu juga berbeda. Sehingga kita gunakan bridging course ini untuk memastikan teman-teman ini berangkat ke program profesi itu sudah siap dan memiliki pijakan yang more or less sama,” katanya.
Program diawali dengan pengenalan mengenai peran, ruang lingkup, dan pola pikir profesional seorang psikolog, termasuk pemahaman terhadap sistem layanan psikologi serta berbagai pemangku kepentingan di Indonesia. Peserta juga diperkenalkan pada siklus kerja psikolog yang mencakup asesmen, diagnosis, dan intervensi pada empat latar layanan, yaitu kesehatan, pendidikan, tempat kerja, dan komunitas.

Sebagian besar pembelajaran difokuskan pada penguatan keterampilan asesmen psikologi. Peserta berlatih menggunakan berbagai instrumen skrining psikologis, mengembangkan keterampilan observasi dan wawancara, mempelajari beragam alat tes psikologi, serta mengintegrasikan hasil asesmen sebagai dasar penyusunan diagnosis psikologis. Materi juga mencakup asesmen kognitif, kepribadian, minat dan bakat, hingga asesmen perkembangan anak sesuai kebutuhan layanan psikologi.
Selain penguatan kompetensi asesmen, peserta diperkenalkan pada proses penegakan diagnosis psikologis serta berbagai pendekatan intervensi, seperti Behavioral Therapy (BT), Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pendekatan humanistik, serta intervensi kelompok dan komunitas. Seluruh materi diperkaya melalui simulasi praktik bertahap pada empat latar layanan dengan pendampingan dosen dan supervisor berpengalaman sehingga peserta dapat mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam situasi yang menyerupai praktik profesional.
Pada akhir program, peserta mengikuti evaluasi komprehensif yang terdiri atas tes objektif dan refleksi, analisis kasus, serta simulasi praktik untuk mengukur penguasaan teori, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan menerapkan siklus kerja psikolog. Peserta yang belum memenuhi standar kompetensi akan mengikuti program remedi sebelum dinyatakan lulus.
Kelulusan dari Bridging Course menjadi syarat bagi peserta untuk melanjutkan statusnya sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi. Bagi peserta yang belum memenuhi standar kelulusan setelah mengikuti remedi, kesempatan mengikuti pendidikan profesi tidak hilang, tetapi akan ditunda hingga pelaksanaan Bridging Course pada periode berikutnya.
Penulis: Erna Tri Nofiyana