Mencari pasangan kini dimulai dari satu swipe. Meski demikian, penggunaan aplikasi kencan masih kerap dipandang sebagai tanda bahwa seseorang kesulitan memperoleh pasangan secara “alami”. Padahal, aplikasi kencan dapat menjadi sarana untuk memperluas koneksi sekaligus mengenal calon pasangan dengan lebih terarah, apabila digunakan secara bijak dan aman.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (15/9). Dipandu oleh Hendry Saputra, episode keempat belas tahun ini menghadirkan seorang Alumnus Doktor Ilmu Psikologi UGM, Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog, atau akrab dipanggil Kiki, yang membahas cara mencari pasangan dalam aplikasi kencan.
Bertemu calon pasangan melalui aplikasi kencan mungkin dimulai dari satu swipe, tetapi membangun hubungan yang sehat membutuhkan lebih dari sekadar kecocokan profil. Namun di balik kemudahan tersebut, peluang yang ditawarkan aplikasi kencan perlu diimbangi dengan strategi, kehati-hatian, dan kesiapan dalam mengelola ekspektasi.
“Sebenarnya ini adalah peluang, tapi juga memang butuh strategi untuk menjemput cinta kita,” ucap Kiki.
Tampilkan diri yang autentik
Salah satu kunci sukses menggunakan aplikasi kencan adalah kejujuran dalam membangun profil. Bio yang spesifik yang membuka obrolan dan foto tanpa filter yang berlebihan akan membantu calon pasangan mengenal diri kita yang sebenarnya.
“Kita itu bukan terus bikin bio dengan foto yang pakai filter berlapis-lapis…, orang jadi tidak mengenali diri kita,” jelas Kiki.
Saat memutuskan untuk bertemu langsung, keamanan tetap menjadi prioritas utama: pilih tempat terbuka, hindari minta dijemput, dan pastikan ada teman yang mengetahui rencana pertemuan tersebut.
Membuka obrolan dan mengelola ekspektasi

Alih-alih basa-basi seperti “sudah makan belum,” membuka percakapan dengan membahas hobi atau minat yang tercantum di profil terbukti lebih efektif untuk membangun koneksi yang bermakna.
Di sisi lain, penting untuk tidak terburu-buru menaruh harapan besar pada seseorang yang baru dikenal. Kiki mengingatkan “Jangan juga terus langsung investing emosi kita ke satu orang yang baru dikenal 1-2 hari dan sudah ngarep.”
Mengelola ekspektasi sejak awal dapat membantu meminimalkan rasa kecewa jika hubungan tidak berjalan sesuai harapan, termasuk risiko ghosting, yaitu tindakan mengakhiri komunikasi dan hubungan secara tiba-tiba tanpa memberikan penjelasan, pesan, atau alasan apapun kepada pihak lain.
Jangan biarkan tekanan sosial menentukan
Ia menambahkan bahwa pertanyaan “kapan nikah?” sering menjadi tekanan tersendiri, apalagi saat melihat teman sebaya sudah menikah lebih dulu. Namun, penting diingat bahwa timeline hidup setiap orang berbeda.
“Jangan sampai timeline kita, timeline pribadi itu harus terus menyesuaikan timeline sosial,” tegas Kiki.
Menurutnya, pernikahan juga bukan satu-satunya tolak ukur kesuksesan hidup. Kebahagiaan diri sendiri perlu menjadi prioritas sebelum memutuskan untuk berkomitmen dengan orang lain.
“Menikah itu untuk dirinya, bukan hanya untuk memenuhi tuntutan sosial,” ujar Kiki.
Pada akhirnya, mencari pasangan lewat aplikasi kencan bukanlah sesuatu yang perlu dianggap tabu. Dengan strategi yang tepat, seperti profil yang jujur, kewaspadaan saat bertemu langsung, cara membuka obrolan yang bermakna, serta ekspektasi yang realistis, aplikasi kencan bisa menjadi jalan yang sehat untuk menemukan pasangan tanpa harus tunduk pada tekanan sosial maupun timeline orang lain.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi! Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Kanal Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira