Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menerima kunjungan dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) pada Jumat (4/9). Kunjungan yang dilaksanakan secara luring ini membahas peluang kolaborasi dalam memberikan dukungan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan sejumlah wilayah lainnya.
Kemendukbangga/BKKBN diwakili oleh Dr. Yuni Hastutiningsih, SKM., M.Kes., dan Angga Syahban Maulana, S.Kom., diterima oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., Kepala Program Studi Profesi Psikolog Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., M.Psych., Ph.D., Psikolog, perwakilan dari Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia (AP2PTI), perwakilan Center for Life-Span Development (CLSD), perwakilan Unit Konsultasi Psikologi (UKP), serta perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Relawan Psikologi Gadjah Mada (REPSIGAMA).
Plt. Direktur Pendayagunaan Lembaga Organisasi Kemasyarakatan, Dr. Yuni Hastutiningsih, SKM., M.Kes., menyampaikan bahwa bencana tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik dan material, tetapi juga dapat meninggalkan dampak psikologis dan emosional bagi masyarakat. Oleh karena itu, penanganan dampak bencana membutuhkan kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga yang memiliki kompetensi di bidang psikologi.
“Kita tidak bisa menutup mata bahwa bencana itu tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik tapi juga psikologis dan emosional,” ujar Yuni.
Kemendukbangga/BKKBN menyampaikan harapan agar Fakultas Psikologi UGM turut hadir dalam pendampingan trauma healing yang membuka peluang kolaborasi berkelanjutan yang tidak berhenti pada satu kegiatan atau momentum bencana semata.
“Dengan adanya kerja sama ini, kami berharap kegiatan yang dilakukan tidak berhenti sebagai satu event saja, tetapi berkembang menjadi program yang berkelanjutan,” ucapnya.
Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Psikologi UGM menegaskan kesiapan fakultas untuk berperan pada tahap pemulihan psikososial pascabencana. Hal ini sejalan dengan perhatian Kemendukbangga/BKKBN terhadap dampak bencana yang tidak hanya bersifat fisik dan material, tetapi juga psikologis dan emosional.
“Kita perlu bersiap karena setelah bencana, pemulihan psikososial sangat memerlukan perhatian, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, dan penyandang disabilitas,” tutur Rahmat.
Kedua pihak sepakat bahwa dukungan psikologis bagi masyarakat terdampak bencana, khususnya kelompok rentan perlu dilakukan secara lintas sektor dan berkelanjutan. Pendampingan tidak hanya dibutuhkan pada tahap tanggap darurat, melainkan berlanjut pada masa pemulihan agar masyarakat dapat kembali menjalankan fungsi kesehariannya.
Kolaborasi tersebut dapat dikembangkan melalui berbagai program yang telah berjalan di Fakultas Psikologi UGM maupun di UGM secara lebih luas, termasuk melalui keterlibatan tenaga pengajar dan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
Kerja sama antara Fakultas Psikologi UGM dan Kemendukbangga/BKKBN ini diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dukungan psikologi bagi masyarakat terdampak bencana di Indonesia, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pengabdian kepada masyarakat.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana