Membangun kompetensi psikolog tidak dimulai saat mahasiswa menjalani praktik profesional, melainkan sejak hari pertama memasuki pendidikan profesi. Atas dasar itu, Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Orientasi Akademik Mahasiswa Baru (OAMABA) Angkatan V sebagai pembekalan awal bagi 40 mahasiswa baru Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 sebelum memulai pendidikan profesi.
OAMABA merupakan rangkaian pembekalan yang terdiri atas orientasi akademik pada Jumat (6/2) dan kegiatan outbound pada Sabtu (7/2). Sebanyak 40 mahasiswa baru mengikuti seluruh rangkaian kegiatan yang dirancang untuk memperkenalkan lingkungan akademik, sistem pendidikan profesi, serta nilai-nilai yang menjadi dasar praktik psikologi profesional.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., menekankan bahwa pendidikan profesi merupakan bagian dari proses belajar sepanjang hayat. Menurutnya, mahasiswa perlu memanfaatkan setiap tahapan pendidikan untuk terus mengembangkan kompetensi dan kesiapan menjalankan profesi psikolog.

“Status kita sampai kapan pun tetap menjadi mahasiswa. Kita tetap menjadi pembelajar. Prodi profesi ini adalah instrumen yang bisa kalian manfaatkan untuk belajar pada bidang keilmuan dan profesi psikologi,” ujar Dekan.
Selama orientasi akademik, mahasiswa memperoleh pengenalan mengenai Fakultas Psikologi UGM, kurikulum Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi, layanan akademik, serta berbagai unit yang mendukung proses pembelajaran. Mahasiswa juga mendapatkan pembekalan mengenai kesiapan menjalani pendidikan profesi, termasuk etika, tanggung jawab, dan sikap profesional yang diperlukan dalam proses pembelajaran maupun praktik.
Sebagai bagian dari rangkaian OAMABA, mahasiswa mengikuti kegiatan outbound yang difasilitasi oleh tim Astadaya Training Center menggunakan pendekatan experiential learning. Melalui permainan kelompok, simulasi, refleksi, dan diskusi, mahasiswa diajak belajar dari pengalaman langsung untuk mengembangkan kemampuan beradaptasi, bekerja sama, mengelola diri, berinisiatif, serta membangun empati. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperkuat adaptabilitas, kemandirian belajar, regulasi diri, dan kolaborasi, sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap proses pendidikan serta komitmen belajar selama menempuh Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi.

Rahmat menambahkan bahwa proses seleksi hingga bridging course merupakan bagian dari komitmen Fakultas Psikologi UGM dalam menjaga mutu pendidikan profesi.
“Salah satu upaya kita untuk menjaga komitmen itu adalah melalui proses seleksi yang ketat, mulai dari tahap awal hingga bridging course. Kami yakin proses tersebut menghasilkan 40 calon mahasiswa yang siap mengikuti pendidikan profesi” katanya.
Menutup sambutannya, Rahmat mengingatkan bahwa profesi psikolog menuntut tanggung jawab yang besar. Oleh karena itu, mahasiswa diharapkan memanfaatkan seluruh proses pendidikan untuk membangun kompetensi, integritas, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan dalam praktik psikologi. Ia menegaskan bahwa profesi psikolog tidak lepas dari tanggung jawab moral maupun hukum sehingga setiap lulusan perlu menjunjung tinggi etika profesi dalam memberikan layanan kepada masyarakat.
Penulis: Erna Tri Nofiyana
Foto: Erna, Prodi Pendidikan Profesi Psikologi UGM