Mencari pasangan kini dimulai dari satu swipe. Meski demikian, penggunaan aplikasi kencan masih kerap dipandang sebagai tanda bahwa seseorang kesulitan memperoleh pasangan secara “alami”. Padahal, aplikasi kencan dapat menjadi sarana untuk memperluas koneksi sekaligus mengenal calon pasangan dengan lebih terarah, apabila digunakan secara bijak dan aman.
OPSI
“Coba lebih fokus.” “Jangan malas.” “Kamu cuma kurang disiplin.” Kalimat-kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi individu dengan ADHD, komentar semacam ini dapat terasa melelahkan dan menyakitkan.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (1/9). Dipandu oleh Hendry Saputra, episode ketiga belas tahun ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Muhammad Nabhan Husein, S.Psi., M.Psi., Psikolog, yang membahas manifestasi ADHD pada orang dewasa.
Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menjadi tempat orang lain bercerita. Namun, tanpa disadari, terkadang ikut membawa beban yang sebenarnya milik orang lain. Rasa harus selalu memahami, membantu, atau menjadi tempat bergantung, sementara kebutuhan dan kondisi diri sendiri mulai terabaikan.
Momen ketika anak mulai berbicara tentu menjadi kebahagiaan bagi orang tua. Namun, perkembangan anak tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ketika kemampuan berbicara anak terlihat berbeda dari anak seusianya, orang tua perlu mengamati perkembangannya tanpa langsung panik.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (4/8). Dipandu oleh Ferry Anggara, episode kesebelas ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, akrab disapa Bu Yayi, yang membahas perkembangan bahasa dan komunikasi pada anak.
Manusia tidak lahir sebagai “kertas kosong”. Sejak awal kehidupan, manusia telah memiliki semacam sketsa moral yang kemudian berkembang melalui pengaruh lingkungan, budaya, pengalaman, dan proses belajar.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (21/7). Dipandu oleh Sekarayu Puspita, episode kesepuluh ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Samudera Fadlilla Jamaluddin, S.Psi., M.Sc., yang membahas proses psikologis di balik moralitas manusia.
Gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga erupsi gunung api adalah kenyataan yang harus dihadapi masyarakat di berbagai daerah Indonesia, termasuk Yogyakarta.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talkshow psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (7/7). Dipandu oleh Hendry Saputra, episode kesembilan ini menghadirkan seorang alumnus Program Doktor Psikologi UGM, Dr. Nevi Kurnia Arianti, S.Psi., M.Si., yang membahas pentingnya menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi modern dalam mitigasi bencana.
Fenomena klitih yang melibatkan remaja masih menjadi perhatian masyarakat di Yogyakarta. Di balik aksi kekerasan jalanan tersebut, terdapat berbagai faktor psikologis, sosial, dan keluarga yang perlu dipahami untuk mencegahnya.
Informasi mengenai kesehatan mental kini semakin mudah diakses melalui media sosial, termasuk konten tentang depresi, kecemasan, ADHD, dan burnout. Namun, kemudahan ini juga berisiko menimbulkan kesalahpahaman karena banyak individu melakukan self-diagnosis tanpa asesmen psikologis yang memadai dan memberi label pada diri sendiri tanpa memahami konteks serta batasannya.
Di era digital, mengenali diri sendiri terasa semakin mudah, cukup melalui tes kepribadian online. Banyak orang merasa sudah memahami minat, bakat, hingga arah masa depannya. Salah satu yang populer adalah MBTI, yang kerap digunakan sebagai cara cepat untuk membaca kecenderungan kepribadian.
Pernahkah kita bertanya kepada remaja, “Bagaimana harimu?” lalu hanya mendapat jawaban singkat? Atau mencoba berbicara dari hati ke hati, tetapi perhatian mereka justru tertuju pada layar? Fenomena ini kerap menimbulkan pertanyaan, apakah ada yang perlu kita pahami kembali tentang cara berkomunikasi dengan remaja saat ini?