Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang sering menjadi tempat orang lain bercerita. Namun, tanpa disadari, terkadang ikut membawa beban yang sebenarnya milik orang lain. Rasa harus selalu memahami, membantu, atau menjadi tempat bergantung, sementara kebutuhan dan kondisi diri sendiri mulai terabaikan.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talk show psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (18/8). Dipandu oleh Ferry Anggara, episode kedua belas tahun ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Metta Rahmadiana, S.Psi., M.Si., Psikolog, yang membahas pentingnya batasan pribadi untuk menjaga kesehatan mental dan menghargai diri sendiri.
Punya boundaries (batasan) bukan berarti egois. Justru, batasan yang sehat bisa menjadi salah satu cara untuk menghargai dan menjaga diri sendiri.
Batasan pribadi adalah batas yang ditetapkan untuk melindungi ruang pribadi, waktu, emosi, dan nilai diri. Batasan membantu pemahaman terhadap sikap peduli kepada orang lain tanpa harus mengambil alih seluruh masalah mereka.
Menjadi pendengar yang baik bukan berarti harus selalu menjadi penyelamat. Tanpa batasan yang sehat, seseorang terus menyerap emosi dari lingkungan sekitar sehingga merasa lelah, kewalahan, atau mengalami burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik dan emosional akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus.
Namun, batasan bukan berarti membangun dinding yang memisahkan diri dari orang lain.
“Ibaratnya ada rumah dan ada pagar, pagar rumah ini harus bisa fleksibel, buka-tutup, buka-tutup,” tutur Metta.
Batasan dapat berubah sesuai hubungan, situasi, dan tingkat kepercayaan. Seseorang dapat tetap hadir untuk orang lain, tetapi memiliki ruang untuk menjaga diri sendiri.
Memahami perilaku orang yang menyakiti
Dalam menghadapi orang yang terus memberikan energi negatif, seperti mereka yang sering merendahkan atau melampiaskan emosi kepada orang lain, penting untuk memahami bahwa perilaku tersebut sering kali berasal dari persoalan dalam diri mereka sendiri.
“Haters itu …hurt people. Punya luka dan dia ingin melukai orang lain agar kita sama-sama terluka,” ucap Metta.
Pemahaman ini membantu menyadarkan bahwa tidak semua emosi yang diberikan tidak harus diterima sebagai tanggung jawab pribadi. Seseorang tetap dapat berempati tanpa harus membiarkan dirinya menjadi tempat penyaluran emosi yang terus merugikan.
Cara membangun batasan yang sehat
Membangun batasan yang sehat dapat dimulai dengan komunikasi yang jelas. Sampaikan apa yang membuat seseorang tidak nyaman dan bagaimana ingin diperlakukan.
Jika batas tersebut terus diabaikan, seseorang dapat mengambil langkah yang lebih tegas, seperti mengurangi interaksi atau memberikan jarak.
Prinsipnya, menjaga kesehatan mental bukan berarti menjadi tidak peduli. Justru, dengan memiliki batasan yang sehat, seseorang dapat hadir untuk orang lain dengan cara yang lebih baik.
Metta juga menekankan pentingnya meninggalkan pola hubungan yang tidak sehat agar pengalaman atau luka yang sama tidak terus berulang pada generasi berikutnya.
“Memutus mata rantai agar itu tidak terjadi pada generasi seterusnya,” ucap Metta.
Pada akhirnya, seseorang tidak selalu dapat mengendalikan bagaimana orang lain bertindak atau berubah. Namun, seorang individu memiliki kendali atas bagaimana menjaga diri sendiri.
“Kita yang mengendalikan mental health (kesehatan mental) kita, kita yang mengupayakan ketenangan batin dengan cara kita masing-masing,” tutur Metta.
Memiliki batasan pribadi bukan berarti menutup diri dari orang lain. Batasan adalah cara untuk memastikan bahwa tetap dapat peduli, membantu, dan mencintai orang lain tanpa kehilangan diri sendiri.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi! Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Kanal Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana