Di era digital, mengenali diri sendiri terasa semakin mudah, cukup melalui tes kepribadian online. Banyak orang merasa sudah memahami minat, bakat, hingga arah masa depannya. Salah satu yang populer adalah MBTI, yang kerap digunakan sebagai cara cepat untuk membaca kecenderungan kepribadian.
Padahal, di balik popularitas tersebut, masih banyak kesalahpahaman dalam memahami minat, bakat, dan potensi diri. Tidak sedikit yang melabeli diri secara sepihak, tanpa memahami konteks dan batasan alat ukur tersebut.
Topik ini diangkat dalam episode terbaru Obrolan Psikologi (OPSI), program talkshow psikologi hasil kerja sama Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama TVRI Yogyakarta, pada Selasa (19/5). Dipandu oleh Argya Hanisi, episode keenam ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM, Ramadhan Dwi Marvianto, S.Psi., M.A., yang membahas pentingnya memahami tes minat dan bakat secara tepat.
Marvi menjelaskan bahwa tes pada dasarnya merupakan pengukuran atau kuantifikasi aspek tertentu pada individu. Tes minat dan bakat menjadi salah satu alat bantu untuk mengenali diri, khususnya dalam melihat apa yang disukai, kemampuan yang dimiliki, serta potensi yang masih dapat dikembangkan.
“Ibarat sepatu, kalau mau beli, kita harus tahu ukuran kaki dulu, kemudian kita memilih desain dan warnanya. Tes minat bakat saling melengkapi untuk kita bisa beli sepatu yang pas,” ujar Marvi.
Menurutnya, tes minat bakat sering digunakan pelajar SMA atau individu yang sedang memasuki masa dewasa awal untuk memetakan diri dan menentukan arah pendidikan atau karier. Namun, penggunaannya tidak terbatas pada usia tertentu.
Jika seseorang belum mengetahui minatnya, bukan berarti potensi tersebut tidak ada. Minat mungkin belum terlihat, tetapi kemampuan yang dapat dicapai tetap dapat diidentifikasi.
“… embantu kita untuk tidak terlalu ‘ngoyo’ (memaksakan diri) mengejar sesuatu yang sulit, melainkan mengejar apa yang memang pas untuk kita dan mungkin ternyata kita belum tahu kalau kita suka,” ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, Marvi menekankan bahwa tes minat dan bakat umumnya tidak hanya menggunakan satu jenis alat ukur. Asesmen dapat terdiri dari tes kognitif, performance test, wawancara, skala pilihan, hingga tes proyektif seperti gambar. Kombinasi metode ini diperlukan agar hasil yang diperoleh lebih komprehensif.
Durasi tes juga bervariasi, mulai dari puluhan menit hingga beberapa jam, tergantung alat ukur yang digunakan. Bahkan, asesmen yang lebih mendalam dapat berlangsung hingga beberapa sesi.
Selain alat ukur, kondisi peserta saat mengikuti tes sangat berpengaruh. Saat seseorang sedang sakit, lelah, atau tidak fokus, hasil tes bisa kurang mencerminkan kondisi diri yang sebenarnya.
“Alat tes hanyalah sebuah alat, seperti cermin. Jika cerminnya kotor atau rusak, maka perlu kita bersihkan sesuai prosedur. Tes juga sama, kita harus melakukan tes secara prosedural supaya hasilnya dapat diinterpretasi dengan tepat,” tuturnya.
Selain kondisi saat tes, kejujuran juga menjadi hal penting. Marvi mengingatkan bahwa perilaku faking good atau faking bad, yaitu berpura-pura terlihat lebih baik atau lebih buruk, justru akan merugikan peserta sendiri. Hasil yang tidak akurat dapat membuat seseorang salah mengambil langkah dalam pendidikan maupun karier.
Lebih lanjut, Marvi menjelaskan bahwa interpretasi hasil tes juga tidak hanya bersifat teknis atau prosedural. Menurutnya, membaca hasil tes membutuhkan kepekaan terhadap dinamika psikologis individu.
Oleh karena itu, laporan tes sebaiknya dipahami bersama psikolog atau pihak yang berkompeten, bukan disimpulkan sendiri secara sembarangan.
Pada akhirnya, tes minat dan bakat tetap diperlukan sebagai alat bantu yang komprehensif untuk mengenali diri, mengeksplorasi potensi, dan membantu seseorang mengambil langkah yang lebih sesuai dengan dirinya.
Jangan lewatkan episode menarik lainnya dari OPSI: Obrolan Psikologi!
Saksikan tayangan ulang langsung dan ikuti terus diskusi mendalam tentang psikologi melalui Saluran Pengetahuan Fakultas Psikologi UGM:
Beritahu kami jika Anda ingin mengulas topik tertentu mengenai isu psikologi di talkshow Obrolan Psikologi (OPSI), kolaborasi Fakultas Psikologi UGM dan TVRI Yogyakarta.
Tonton selengkapnya di YouTube!
Sampaikan saran dan masukan Anda terkait OPSI melalui kanal berikut,
Email: humas.psikologi@ugm.ac.id
Instagram: @psikologiugm
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana