Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Temu Mitra Kerja Sama 2026 pada Jumat (10/7) di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM. Forum yang dikemas dalam bentuk Focus Group Discussion (FGD) ini dihadiri 35 perwakilan mitra, terdiri atas 18 peserta luring dan 17 peserta daring, dari kementerian dan lembaga pemerintah, TNI, Polri, BUMN, dunia industri, media, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, hingga alumni.
Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., dalam sambutannya mengatakan bahwa pengembangan keilmuan fakultas tidak dapat dilepaskan dari kesinambungan dengan berbagai lembaga dan instansi mitra.

“Tanpa adanya kesinambungan antara proses yang kami jalankan di fakultas, baik dalam proses pendidikan, penelitian, maupun pengembangan keilmuan, maka niscaya apa yang dilakukan di Fakultas Psikologi, khususnya, dan di UGM pada umumnya, ini tidak akan nyambung, tidak akan selaras dengan apa yang sebenarnya diperlukan oleh masyarakat dan bangsa,” ujar Dekan.
Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian Kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Fakultas Psikologi UGM, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D, memaparkan hasil Survei Kepuasan Mitra 2023-2026 yang diisi oleh 77 institusi dari beragam sektor.
Berdasarkan survei tersebut, Fakultas Psikologi UGM memperoleh Indeks Kepuasan Mitra (IKM) sebesar 3,36 dari skala 4,00 atau setara 84,0 dari 100, yang termasuk kategori Baik/Memuaskan. Indikator dengan nilai tertinggi adalah keinginan mitra untuk melanjutkan kerja sama (3,71), sedangkan kecepatan layanan (3,12) dan kecepatan penyampaian hasil (3,22) menjadi area yang masih perlu ditingkatkan.

“Ada beberapa poin yang menjadi poin peningkatan juga bagi kami untuk refleksi, termasuk kecepatan layanan dalam merespons, mungkin ketika kami slow respons, pembuatan PKS lama,” ujar Pradytia, menanggapi hasil evaluasi tersebut.
Fakultas Psikologi UGM saat ini tengah menyusun arah pengembangan keilmuan untuk periode 2026-2031 yang mencakup 11 tema strategis lintas bidang. Tema-tema tersebut meliputi psikopatologi dan perilaku maladaptif, psikologi positif, moralitas dan religiusitas, neuroscience, psikologi siber, psikometrika dan asesmen, aksi kolektif dan masyarakat berkelanjutan, budaya dan perilaku manusia, praktik psikologi berbasis bukti, masyarakat inklusif, serta pembelajaran dan perkembangan peserta didik.
“Ada sebelas topik atau tema prioritas untuk pengembangan keilmuan. Harapannya, ilmu psikologi ini dapat kita kembangkan melalui penelitian agar dapat relevan dan diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan bisa berdampak bagi masyarakat,” jelasnya.
Survei juga menjaring kebutuhan inovasi mitra ke depan, terutama pada layanan dan asesmen berbasis digital, pengembangan instrumen dan alat tes, serta kesehatan mental remaja dan keamanan digital.

Sesi diskusi FGD berlangsung interaktif, Tri Hutomo Pamungkas dari PT PLN (Persero) menekankan pentingnya psikometri dan asesmen yang tidak berhenti pada validitas alat ukur, tetapi juga terbukti berdampak pada kinerja dan bisnis. Kepala Perwakilan BKKBN Daerah Istimewa Yogyakarta, Rohina, M.Si., menilai 11 tema relevan dengan program pembangunan keluarga, mulai dari pengasuhan hingga pemberdayaan lansia. Perwakilan Akademi Militer, Mayor Caj (K) Dr. Windy Kartika P.W., S.Pd., M.Sc., membagikan pengalaman kerja sama riset sejak 2020 yang menghasilkan alat tes resiliensi taruna, sekaligus mengusulkan durasi perjanjian kerja sama diperpanjang menjadi tiga hingga lima tahun dengan klausul perlindungan kerahasiaan data yang lebih spesifik.
Seluruh masukan yang terkumpul dalam forum ini akan menjadi bahan refleksi bagi fakultas untuk merancang kerja sama yang lebih relevan dan berdampak ke depan.
Penulis: Erna Tri Nofiyana
Foto: Hanif dan Erna