Tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan culturally adapted behavioral activation therapy (BAT) sebagai intervensi berbasis bukti untuk membantu penanganan depresi pada klien dewasa di Puskesmas. Terapi ini dikembangkan sejak awal 2025 dengan menyesuaikan konteks budaya Indonesia agar dapat diterapkan secara lebih sesuai dalam layanan kesehatan mental tingkat pertama.
Pengembangan terapi dilatarbelakangi kebutuhan untuk memperkuat penerapan layanan psikologi berbasis bukti yang terstandar. Puskesmas dinilai memiliki posisi strategis karena menjadi salah satu akses layanan kesehatan mental yang dekat dan terjangkau bagi masyarakat. Depresi juga menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang banyak ditemukan dalam layanan psikologi di Puskesmas.
Tim peneliti dipimpin Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., dengan anggota Restu Tri Handoyo, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, Prof. Ajeng Juwita Puspitasari, Ph.D., LP, ABPP, dan Salma, S.Psi., M.Psi., Psikolog.
“Behavioral activation therapy dipilih karena telah terbukti dalam banyak penelitian sebagai terapi berbasis bukti untuk depresi serta direkomendasikan sebagai terapi lini awal untuk depresi,” ujar Rahmat saat membuka pelatihan culturally adapted behavioral activation therapy bagi sejumlah psikolog Puskesmas dan psikolog di lingkungan UGM beberapa waktu yang lalu.
Pengembangan manual culturally adapted BAT dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan psikolog Puskesmas, individu dengan pengalaman depresi yang pernah mengakses layanan psikologi di Puskesmas, perwakilan organisasi kesehatan mental masyarakat, serta ahli Psikologi Klinis. Proses diawali dengan identifikasi isu budaya terkait depresi di Indonesia dan kebutuhan adaptasi budaya dalam intervensi.

Manual terapi kemudian disusun agar tidak hanya efektif dalam membantu penanganan depresi, tetapi juga lebih dapat diterima dan diterapkan dalam konteks layanan Puskesmas. Sebagai tahap awal, tim peneliti mengujicobakan implementasi manual tersebut di sejumlah Puskesmas di Kabupaten Sleman mulai tahun 2026.
Pengembangan culturally adapted BAT diharapkan dapat memberikan panduan berbasis bukti bagi psikolog Puskesmas dalam menangani klien dengan depresi. Melalui penelitian ini dan penelitian lanjutan, tim peneliti berharap penguatan sistem layanan kesehatan mental di Indonesia dapat terus dilakukan sehingga masyarakat dapat memperoleh layanan kesehatan mental yang berkualitas, sesuai kebutuhan, dan dapat diakses secara lebih luas.
Penulis: Salma
Editor: Sussanti
Foto: Google Gemini