Institusi pendidikan perlu mengubah pola pemberitaannya dari sekadar melaporkan pelaksanaan kegiatan menjadi pemberitaan yang mengangkat kepakaran, gagasan baru, dan persoalan yang relevan bagi masyarakat. Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat berita institusi lebih menarik sekaligus berpeluang menjadi rujukan media arus utama.
Hal itu disampaikan oleh Humas Universitas Gadjah Mada (UGM), Gusti Grehenson, S.K.H., dalam Pelatihan Strategi Pemberitaan Institusi di Ruang D-403 pada Jumat (10/7). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi UGM melalui kolaborasi Sustainability Campus Action (SCA) dan Unit Informasi dan Pengembangan Teknologi Belajar (UIPTB) diikuti 40 peserta yang merupakan tenaga kependidikan dan asisten unit di Fakultas Psikologi UGM.
Menurut Gusti, masyarakat mengandalkan media arus utama untuk memperoleh informasi yang dianggap penting dan dapat dipercaya, sehingga berita institusi perlu mengangkat isu yang relevan dan memiliki nilai bagi publik.
“Masyarakat akan mencari media-media mainstream,” ujar Gusti.
Pemberitaan institusi juga dapat digunakan untuk memperkenalkan dosen berdasarkan kepakarannya. Di Fakultas Psikologi UGM, misalnya, berita dapat mengangkat pandangan psikolog mengenai persoalan sosial ataupun kearifan budaya yang berkembang di masyarakat.
“Harapan saya, akan muncul pakar-pakar baru dari bidang psikologi yang dapat dikenal melalui pemberitaan institusi,” tutur Gusti.
Jika suatu kegiatan menghadirkan banyak pembicara, tim pemberitaan dapat memilih tiga hingga empat pakar dengan gagasan paling menarik. Pendapat mereka kemudian dapat dikembangkan menjadi berita tersendiri berdasarkan isu yang dikuasai.
“Semakin kita menulis apa yang disampaikan, itu semakin menarik,” jelas Gusti.
Ia menambahkan bahwa berita perlu menghadirkan sedikitnya dua sumber, seperti pakar, peserta, panitia, atau alumni. Informasi terpenting ditempatkan pada bagian awal dengan tetap memenuhi unsur 5W+1H, kemudian diikuti informasi dan data pendukung yang aktual.
Salah satu peserta yang merupakan asisten unit di Fakultas Psikologi UGM menilai pelatihan tersebut membantunya memahami standar pemberitaan institusi.
“Pelatihan ini sangat insightful. Saya jadi lebih memahami standar pemberitaan dan cara mengolah informasi menjadi berita yang menarik bagi pembaca,” ujarnya.
Selain kualitas tulisan, Gusti juga menekankan pentingnya materi visual untuk memperkuat substansi berita. Setiap rilis dianjurkan menyertakan sedikitnya dua foto yang memperlihatkan interaksi manusia dan dilengkapi keterangan yang jelas. Foto seremonial sebaiknya tidak dijadikan visual utama karena kurang menggambarkan isi pemberitaan.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana