Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkuat layanan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) melalui Pelatihan Kader Posbindu yang diikuti tenaga kependidikan (tendik) di Ruang D-402 Fakultas Psikologi UGM, Jumat (24/7). Pelatihan ini diselenggarakan untuk menambah jumlah kader Posbindu seiring meningkatnya kebutuhan layanan skrining kesehatan di lingkungan fakultas.
Pelatihan menghadirkan dr. Novrida, AAK., dari Gadjah Mada Medical Center (GMC) yang membekali peserta mengenai alur pemeriksaan serta penggunaan alat skrining Posbindu. Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan diawali dengan pengukuran antropometri dalam posisi berdiri yang meliputi tinggi badan, berat badan, dan lingkar pinggang. Selanjutnya, pemeriksaan dilanjutkan dengan pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk, kemudian pemeriksaan kimia darah yang mencakup gula darah, kolesterol, dan asam urat.
“Tindakan pertama yang dilakukan ketika akan melakukan pemeriksaan darah itu bukan langsung pasiennya diusap-usap pakai alkohol, tapi identifikasi dulu, baru kita persiapkan pasiennya,” kata dr. Novrida.

Selain menjelaskan alur pemeriksaan, dr. Novrida mengingatkan kader untuk selalu mengganti jarum lancet setiap kali berpindah peserta guna mencegah risiko penularan infeksi, seperti hepatitis. Ia juga mengimbau agar alkohol yang digunakan untuk membersihkan kulit dibiarkan mengering sebelum pengambilan sampel darah agar hasil pemeriksaan tetap akurat.
Ia turut menjelaskan cara membaca hasil pemeriksaan yang tidak terbaca oleh alat.
“Itu berarti error, bukan berarti asam uratnya rendah banget sampai tidak kebaca. Berarti diulang lagi,” ujarnya.
Dalam sesi tersebut, dr. Novrida turut menjelaskan rentang nilai normal pemeriksaan gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah sebagai acuan bagi kader saat melakukan skrining. Ia menekankan bahwa hasil pemeriksaan pada peserta yang tidak berpuasa cenderung lebih tinggi sehingga, bila diperlukan, perlu diulang dalam kondisi puasa agar hasilnya lebih akurat.
Selain mempelajari teknis pemeriksaan, peserta juga dibekali penggunaan sistem pencatatan digital Posbindu.id yang disampaikan oleh Andreas Tri Setiawan, S.Kom.

“Kalau dulu kan kita pakai kertas kecil, yang mana itu juga bisa hilang dan kita ingin cari lagi belum tahu itu kertasnya di mana. Tapi dengan adanya sistem ini sangat terbantu, baik itu sebagai penyelenggara maupun sebagai peserta,” kata Andreas.
Sistem ini menggantikan pencatatan manual berbasis kertas sehingga hasil pemeriksaan dapat terdokumentasi secara lebih aman dan terintegrasi. Setiap data yang diinput akan secara otomatis menampilkan kategori status kesehatan peserta, seperti status pre-hipertensi, berdasarkan basis data yang telah ditetapkan.
Andreas menekankan pentingnya ketelitian kader saat menginput data ke dalam sistem, mengingat pernah terjadi kesalahan input pada pelaksanaan Posbindu sebelumnya.
“Yang harusnya dua ratus jadi dua ribu, kan tidak valid begitu,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa idealnya setiap alat pemeriksaan kimia darah dioperasikan oleh satu petugas pemeriksa dan satu petugas admin agar akurasi data tetap terjaga.

Sebagai penutup pelatihan, peserta mempraktikkan seluruh alur pemeriksaan secara berpasangan, mulai dari pengukuran antropometri, tekanan darah, hingga pemeriksaan kimia darah, sekaligus menginput hasilnya ke sistem Posbindu.id. Praktik tersebut menjadi bekal bagi para calon kader sebelum bertugas pada pelaksanaan Posbindu berikutnya.
Penulis & Foto: Erna Tri Nofiyana