Radhiatul Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, meraih gelar Doktor dalam bidang Psikologi setelah dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dalam Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (7/8). Radhiatul menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu tiga tahun 10 bulan 15 hari dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,87 dan nilai ujian tertutup A. Ia tercatat sebagai doktor ke-7.399 yang diluluskan UGM.
Radhiatul mempertahankan disertasi berjudul “Trauma Masa Kanak-Kanak dan Pengasuhan Ibu: Peran Reflective Functioning Spesifik Trauma (RF-T) pada Pemrosesan Neural Emosi Anak dan Persepsi Kompetensi Pengasuhan”. Penelitian yang melibatkan 35 ibu dengan anak biologis usia 2-8 tahun ini mengkaji Trauma-Specific Reflective Functioning (RF-T), yaitu kemampuan seseorang untuk memahami dan merefleksikan pengalaman traumatis yang pernah dialaminya. Kemampuan tersebut dikaji sebagai salah satu mekanisme yang menghubungkan pengalaman trauma masa kanak-kanak dengan kompetensi ibu dalam menjalankan peran pengasuhan.
Penelitian dilakukan melalui pengukuran psikologis dan perekaman electroencephalography (EEG) untuk melihat respons otak ibu ketika memproses ekspresi wajah anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan merefleksikan pengalaman traumatis menjadi penghubung antara trauma masa kanak-kanak dan persepsi seseorang terhadap kemampuannya dalam menjalankan peran sebagai orang tua.
Dengan kata lain, pengalaman trauma masa kanak-kanak tidak secara langsung menentukan seseorang akan mengalami kesulitan dalam mengasuh anak. Kemampuan untuk memahami, memaknai, dan merefleksikan pengalaman tersebut turut berperan dalam bagaimana pengalaman trauma berkaitan dengan kompetensi pengasuhan. Hal ini membantu menjelaskan mengapa orang dengan riwayat trauma yang serupa dapat menunjukkan pola pengasuhan yang berbeda.
“Trauma itu tidak serta-merta mampu membuat seseorang lemah dalam mengasuh anak, tetapi bagaimana dia berefleksi, dia belajar dari trauma itu, dia bertumbuh dari trauma itu,” ujar Radhiatul menyimpulkan temuannya.
Penelitian juga menemukan adanya perbedaan pada respons otak ibu ketika memproses ekspresi wajah anak. Analisis Event-Related Potentials (ERP) menunjukkan bahwa trauma masa kanak-kanak berkaitan dengan melemahnya respons neural ibu ketika melihat ekspresi wajah bahagia anak, tetapi tidak ditemukan pada ekspresi takut atau marah. Analisis konektivitas otak juga menunjukkan bahwa kelompok dengan kemampuan RF-T lebih rendah memiliki pola aktivitas neural yang mengarah pada pemrosesan informasi secara lebih otomatis dan kemampuan pengaturan respons yang lebih terbatas.
Penelitian ini turut menghasilkan kebaruan metodologis berupa AI-Generated Indonesian Child Facial Expression Stimuli (AI-ICFE), yaitu stimulus ekspresi wajah anak Indonesia yang dikembangkan menggunakan kecerdasan artifisial untuk eksperimen EEG. Pengembangan stimulus ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan materi penelitian yang lebih sesuai dengan konteks anak Indonesia.
Sebagai tindak lanjut, Radhiatul mengusulkan pengembangan Mentalization-Based Treatment (MBT) dan pemanfaatan kuesioner FMTQ versi Indonesia yang telah ia validasi sebagai instrumen skrining di layanan kesehatan ibu dan anak. Ia juga berencana mempresentasikan hasil penelitian tersebut kepada psikolog Puskesmas se-Kota Yogyakarta.
Dalam sambutannya, promotor Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, menyebut penelitian Radhiatul sebagai topik yang masih jarang diteliti, terutama karena penelitian tersebut menghubungkan pengalaman trauma masa kanak-kanak dengan aktivitas otak partisipan ketika telah berada pada usia dewasa. Ia juga menyarankan agar hasil penelitian tersebut dapat ditindaklanjuti kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sehingga pemanfaatannya dapat menjangkau tingkat nasional.

Disertasi ini dibimbing oleh Supra Wimbarti, M.Sc., Ph.D., Psikolog, selaku promotor, dan Dr. Nita Handayani, S.Si., M.Si., selaku ko-promotor, dengan tim penguji Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D.; Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D., Psikolog; Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., M.Psych., Ph.D., Psikolog; Dr. dr. Ahmad Asmedi, M.Kes.,Sp.N.Subsp.ENK(K); serta Dr. Galang Lufityanto, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog.
Selama studi doktoral, Radhiatul mempublikasikan tiga artikel terkait topik disertasinya di Asian Journal of Psychiatry, International Journal of Psychophysiology, dan European Journal of Trauma & Dissociation, serta diundang menjadi reviewer jurnal Translational Psychiatry. Ia sebelumnya menyelesaikan S1 dan Magister Profesi Psikologi Klinis di Universitas Ahmad Dahlan, dan mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta pada 2018-2025 sebelum menempuh S3 di UGM sejak 2022.
Menutup ujian, Radhiatul menyampaikan refleksi, “Trauma bukanlah akhir dari sebuah cerita. Yang menentukan masa depan bukan semata-mata luka yang pernah dialami, melainkan kemampuan untuk memberi makna lalu tetap memilih untuk bertumbuh.”
Penulis: Erna Tri Nofiyana
Foto: Dokumentasi Fakultas