Radhiatul Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, meraih gelar Doktor dalam bidang Psikologi setelah dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude dalam Ujian Terbuka Program Studi Doktor Ilmu Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (7/8). Radhiatul menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu tiga tahun 10 bulan 15 hari dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,87 dan nilai ujian tertutup A. Ia tercatat sebagai doktor ke-7.399 yang diluluskan UGM.
Doktor Ilmu Psikologi
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) selenggarakan pelepasan wisudawan/wisudawati Program Pascasarjana dan pengambilan sumpah psikolog Program Magister Psikologi Profesi periode I tahun akademik 2023/2024, Kamis (26/10). Enam belas wisudawan/wisudawati Prodi Magister Psikologi Profesi, 17 wisudawan/wisudawati Prodi Magister Psikologi, dan 4 wisudawan/wisudawati Prodi Doktor Ilmu Psikologi, dilepas pada pelepasan yang diselenggarakan di G-100 ini.
Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi Program Magister Psikologi Profesi adalah 3.92 diraih oleh Meyrantika Maharani sekaligus berpredikat cumlaude. Sementara Indeks Prestasi Kumulatif tertinggi Program Magister Psikologi adalah 3.86 diraih oleh Halimatus Sa’diah yang juga meraih predikat cumlaude. Selain itu, pada periode ini juga terdapat lulusan dari Program Doktor Ilmu Psikologi berjumlah 2 orang atas nama Hendrikus Pedro dan Nita Trimulyaningsih.
Pada periode ini, tampil Nita Trimulyaningsih sebagai wisudawati yang memberikan sambutan sebagai perwakilan wisudawan/wisudawati. Melalui sambutannya, Nita mengungkapkan bahwa Rabu, 26 Januari 2022 adalah hari membahagiakan dan bersejarah yang nantinya akan dikenang. “Pada hari ini, kami mendapatkan pengakuan secara resmi sebagai master dan doktor dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Salah satu universitas ternama di dunia yang kami banggakan dan tentu saja kami hormati”, ungkap Nita
Kemudian, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan dari Fakultas Psikologi UGM kepada Imamnatul Istiqomah sebagai lulusan dari Program Magister Psikologi Profesi dengan naskah publikasi tesis terbaik. Imamnatul mengambil judul tesis “Identifikasi Kompetensi Psikolog dalam Melakukan Telekonseling dengan Metode Delphi: Perspektif Psikolog dan Ilmuwan Psikologi” dengan Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph. D., Psikolog sebagai pembimbing.
Kemudian, naskah publikasi terbaik dari Program Magister Psikologi diraih oleh Putri Yunifa dengan judul “Kepribadian dan Adaptasi: Kunci Keharmonisan Perkawinan Anggota Jemaat Ahmadiyah Keturunan dan Bukan Keturunan Ahmadi”. Judul tersebut Putri ambil bersama dengan Prof. Dr. Tina Afiatin, M.Si sebagai pembimbing.
Selain berbagai prestasi dan penghargaan yang diberikan, pelepasan wisudawan/wisudawati periode ini dihadiri oleh beberapa pihak yang memberikan sambutan. Salah satunya sambutan dari Dr. Maria Goretti Adiyanti, M.Si sebagai Perwakilan HIMPSI yang sekaligus menjadi pemandu Pengambilan Sumpah Psikolog pada periode ini. “Saat ini kesadaran masyarakat berkaitan dengan jasa psikologi semakin meningkat, selain itu perubahan lingkungan yang cepat serta banyaknya kasus yang muncul menjadikan Ilmu Psikologi berkembang sangat cepat. Oleh karena itu, kepada para psikolog yang melakukan praktek psikologi diharapkan jangan berhenti belajar hanya dari Ilmu yang Saudara dapatkan di perkuliahan”, pesan Maria pada wisudawan/wisudawati.
Sambutan juga diberikan oleh Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. “Bahwa pada titik ini, Anda dilepaskan dari status mahasiswa merupakan sebuah pembuktian bahwa Anda memiliki kemampuan dan kualitas, baik secara intelektual maupun secara karakter untuk mencapai sebuah tujuan yang tidak sederhana, yaitu menjadi seorang master maupun doktor”. Oleh karena itu, momen wisuda dapat dijadikan sebagai pengingat di hari depan ketika menghadapi tantangan dan rintangan, bahwa para wisudawan/wisudawati sudah pernah melewati berbagai tantangan dan rintangan yang lebih berat.
“Mungkin saya akan mengulang beberapa hal prinsip karena memang etik ya dasarnya seperti itu, tetapi nanti kita akan elaborasi lebih lanjut dengan diskusi bersama Aliza”, jelas Diana sebagai pengisi sesi pertama. Sebelum menyampaikan materi, Diana sempat memberikan beberapa pertanyaan kepada para peserta dengan tujuan membuat interaksi lebih baik. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seputar ketika ada orang dipasung maka siapa yang dapat memberikan consent, apakah diperbolehkan mengambil data yang lingkungannya sudah familiar bagi peneliti, dan mengapa kita harus menghormati atau memegang etika penelitian.
Banyaknya pelanggaran yang terjadi ketika melakukan penelitian menjadikan sebuah etika penelitian adalah hal yang penting. Salah satu usaha dalam meminimalisir pelanggaran ketika penelitian adalah adanya Declaration of Helsinki. Deklarasi tersebut menyebutkan beberapa hal, bahwa penelitian pada manusia itu harus melindungi partisipan bahkan manfaat yang didapatkan oleh partisipan harus lebih banyak dibandingkan resikonya. “Meskipun kita seorang peneliti, bukan berarti peneliti menjadi lebih superior posisinya”, jelas Diana.
Berdasarkan Bellmont Report, ada tiga dasar etika penelitian yang terdiri dari Respect for Person, Justice, dan Beneficence/Non Maleficenci. Beberapa bentuk respect for person yang dapat dilakukan ketika mengadakan penelitian, seperti memberikan informed consent kepada partisipan, menjaga kerahasiaan, dan kebebasan partisipan untuk menarik diri dalam proses penelitian. Selain itu, memaksimal kesejahteraan partisipan penelitian salah satunya dengan memaksimalkan manfaat dari ikutnya partisipan dalam proses penelitian. Terakhir, keadilan mencakup pemilihan partisipan yang sesuai dengan prosedur dan hasil penelitian dapat diakses tanpa harus adanya komersialisasi.
Kemudian sesi berikutnya disampaikan oleh Aliza Hun dengan judul materi Research Ethics in Survey Research Method. “Saya diundang untuk berbicara sedikit tentang personal reflection ketika mengambil data di lapangan di Indonesia”, jelas Aliza. Aliza mengaku, kondisinya sebagai seorang bule termasuk asal instansinya yang berasal dari luar negeri memengaruhi proses penelitiannya. Selain itu, Aliza juga menyampaikan bahwa akan ada banyak pihak yang harus dihubungi terkait etika penelitian sebelum mengambil data. “Bahkan ada perbedaan yang harus saya jalani, salah satunya peneliti dari luar negeri harus mendapatkan izin dari kemenristekdikti, sementara untuk penelitian dari Indonesia tidak perlu”, ungkap Aliza.
Foto oleh Brett Jordan dari Pexels
Pada awal acara, dibuka terlebih dahulu dengan sambutan yang disampaikan oleh Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog selaku Ketua Program Studi Doktor Ilmu Psikologi. “Sebenarnya acara di pagi hari ini adalah rangkaian pertama dari sesi Kursus Intensif Etika Penelitian yang nanti akan dilanjutkan dengan sesi Etika Penelitian untuk Partisipan Anak dan untuk Penelitian Kesehatan Mental”, ujar Edilburga.
Melalui materi yang disampaikan, Yayi menjelaskan beberapa hal antara lain, integritas akademik pendukung etika, prinsip dasar etika penelitian, panduan etika penelitian dalam penelitian sosial, dan lain sebagainya. “Penelitian adalah kajian pendidikan secara sistematik dan pengumpulan datanya juga sistematik. Sistematik itu berdasarkan kajian ilmiah”, jelas Yayi.
“Kapan kita harus mengurus etika penelitian? Sebelum kita betul-betul masuk ke lapangan”, lanjut Yayi. Tepatnya, ketika seseorang telah melakukan perbaikan setelah melakukan seminar proposal, maka dilanjutkan dengan mengurus etika penelitian. Mengurus etika penelitian dilakukan setelah seminar proposal karena telah mendapatkan masukan dan munculnya berbagai perubahan. Meskipun nanti di lapangan tidak menutup kemungkinan adanya perubahan dan membutuhkan penyesuaian lagi.
“Saya pertama kali melihat kasus plagiasi yang jelas itu semenjak menggunakan komputer. Oleh karena itu, integritas akademik itu harus ditegakkan”, ungkap Yayi. Sebuah penelitian yang baik adalah penelitian yang dikerjakan dengan menerapkan integritas akademik dilandaskan kejujuran. Selain kejujuran, hal lain yang juga termasuk dalam integritas akademik adalah kepercayaan, tanggung jawab, rasa hormat, dan kebenaran.
Menurut Yayi, dalam mengurus etika penelitian diperlukan perencanaan waktu yang tepat. Hal tersebut dibutuhkan agar rangkaian penelitian berjalan dengan tepat waktu dan sesuai dengan etika-etika penelitian yang berlaku.
Photo by Firmbee.com on Unsplash
Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dirancang secara sistematis sehingga berkontribusi dan berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Sebuah penelitian dapat diandalkan dan bernilai ketika penelitian tersebut menggunakan metode ilmiah yang tepat dan telah memenuhi standar kualitas ilmiah. “Jadi sebuah pengetahuan akan eksis jika dibangun dari data-data yang didapatkan secara sistematis”, ungkap Kusrohmaniah.
Komisi Etik WHO berpendapat bahwa proses penelitian yang melibatkan seseorang terpapar pada manipulasi intervensi, pengamatan, atau interaksi lain dengan peneliti secara langsung atau melalui perubahan lingkungan mereka, maka diperlukan Ethical Clearance. Selain itu, partisipan yang dapat diidentifikasi identitasnya ketika data penelitian dikumpulkan, dipersiapkan, atau adanya bahan biologis yang digunakan, seperti rekam medis, maka proses penelitian tersebut juga membutuhkan pengajuan Ethical Clearance.
Tinjauan etik ini diperlukan karena sebagai salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh peneliti untuk membantu melindungi partisipan, peneliti, dan universitas. Oleh karena itu, wajib bagi seluruh penelitian yang melibatkan manusia untuk memiliki Ethical Clearance. “Selain itu, untuk beberapa kasus komisi etik juga akan berkomunikasi dengan pihak universitas maupun pemberi beasiswa untuk memastikan bahwa proses penelitian sudah berjalan sesuai dengan prosedur”, terang Kusrohmaniah.
Pada Psikologi, beberapa hal yang berkaitan dengan ethical issues adalah informed consent, debrief, protection of participants, deception, confidentiality, dan withdrawal from an investigation. Selain itu, hal-hal lain yang juga perlu diperhatikan oleh peneliti berkaitan dengan desain penelitian, keamanan dan penyimpanan data, manfaat dan resiko, partisipan yang terlindungi, maupun proses ketika berhadapan dengan hal-hal sensitif.
Foto oleh Lukas dari Pexels.
Restu mengawali sesi ini dengan membagi pengalamannya saat menempuh studi Doktor “mungkin apa yang saya sampaikan hari ini akan sangat personal. Tidak semuanya akan relevan dengan perjalanan teman-teman yang sudah atau sedang menempuh doktoral sekarang”, jelasnya. Perjalanan pendidikan doktoral seseorang memiliki ceritanya masing-masing dan bersifat subjektif. Tergantung kampus mana yang dijadikan tempat studi, tuntutan apa yang diterima, bahkan sampai pada konteks budaya. “Saya pribadi menganggap bahwa semua doktoral itu akan by research karena majoritynya dinilai berdasarkan disertasi, yaitu penelitian yang dilakukan”, jelas Restu.
Pada tahun pertama Restu menempuh Program Doktor di London yang dilakukan adalah melakukan Systematic Literature Review (SLR). Kemudian di lanjutkan dengan tahun kedua, yaitu penyusunan proposal disertasi. Setelah itu, pada tahun ketiga Restu melanjutkan dengan ethical clearance, “karena variabel yang saya ambil salah satunya tentang kelompok, maka tentang ethical clearance cukup panjang”. Bahkan sampai harus pulang ke Indonesia untuk mengurus izin di instansi terkait dimana Restu mengambil data.
“Melalui acara ini, saya ingin lebih memotivasi yang belum S3, berani S3,” lanjut Bhina pada sesi kedua. Berbeda dengan Restu, Bhina menceritakan pengalaman sekolah lanjutnya yang tidak dibiayai dari sebuah program beasiswa. Bhina mengaku, selama sekolah lanjutnya biaya ia tanggung sendiri hasil dari bekerja di International Centre for Higher Education Research Kassel (INCHER-Kassel). Hal tersebut yang membuat Bhina sangat meyakini bahwa pendidikan S3 tetap bisa ditempuh meski tanpa beasiswa.
Selain menceritakan pengalaman sekolah doktornya, Bhina juga sempat menceritakan gelar unik yang dimilikinya, yaitu Dr.rer.pol. “Gelar doktor yang diberikan berdasarkan yang bersangkutan melakukan studi di fakultas apa. Fakultas atau institusi tersebut berada di bidang apa.”, jelas Bhina. Oleh karena itu, terdapat lulusan Psikologi yang mendapatkan gelar Dr.rer.pol jika melakukan studi di bawah Ilmu Ekonomi dan Sosial, namun ada pula yang mendapatkan gelar Dr.rer.nat. Semua gelar yang didapatkan tergantung tempat Fakultas/Institusi mana yang bersangkutan melakukan studi.
Dalam penyampaiannya, Bhina mengatakan bahwa pendidikan S3 bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak terbatas pada orang-orang yang memiliki IQ tinggi dan genius. “Jangan sampai mengalami impostor syndrome, dimana seseorang meragukan diri sendiri”, jelas Bhina.
Photo by Dan Dimmock on Unsplash
Acara SGPC berlangsung dalam dua sesi dalam satu hari. Sesi pertama berlangsung pada pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB, sedangkan sesi kedua berlangsung pukul 13.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB. Khusus pada hari terakhir hanya ada satu sesi pagi saja.
Setiap sesi terbagi dalam tiga kelas paralel. Setiap kelas paralel diisi dua pemateri yang mempresentasikan proses penelitiannya secara bergantian. Setiap peserta acara bebas memilih kelas yang diminatinya untuk mengikuti presentasi dan sesi diskusi.
Acara dibuka oleh Ketua Program Studi Doktor Psikologi UGM Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D. Dalam kata sambutannya Rahmat menceritakan awal mula tercetuskannya ide mebuat acara rutin anggota Promovendus Club sejak tahun 2015 yaitu SGPC.
“Sarasehan Guyub Promovendus Club ini adalah kesempatan atau forum bagi kita untuk bersarasehan, bertukar ide, bertukar pemikiran dengan nuansa yang guyub, nyantai dalam wadah bagi Promovendus Club yaitu klubnya mahasiswa dan kandidat doktor program kita,” terang Rahmat.
Melalui acara SGPC, mahasiswa S3 mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikan proposal penelitiannya dan mendapatkan masukan dari reviewer, baik alumni, angkatan sebelumnya, dan dosen non-promotor.
Acara diselenggarakan secara paralel pada setiap sesi sehingga peserta dapat memilih kelas yang akan diikuti sesuai dengan minat mereka. Acara ini juga mengundang mahasiswa dari prodi S2 dan S1, dimaksudkan untuk berbagi, memperkaya ranah pengetahuan, dan mempertajam minat riset.
Panitia acara SGPC menyampaikan bahwa acara berjalan lancar. Panitia juga merencanakan untuk kembali menyelenggarakan SGPG pada bulan Agustus dengan presenter khusus mahasiswa baru Doktor Psikologi UGM angkatan 2021.
Integritas adalah salah satu permasalahan yang dialami pejabat di Indonesia. Secara umum integritas dapat dipahami melalui dua pengertian. Pertama kesetiaan untuk memahami dan melakukan nilai-nilai baik sesuai prinsip moral yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Kedua, integritas adalah karakter individu yang utuh untuk melaksanakan prinsip-prinsip moral.
Berangkat dari permasalahan integritas yang juga pada akhirnya membuat Prasetyo memutuskan untuk mengadakan penelitian tentang topik tersebut. Melibatkan 823 subjek yang merupakan dosen di Indonesia, Prasetyo melakukan penelitian tentang integritas akademik. “Pada tahun 2015, 2016 itu mencari artikel tentang integritas akademik itu sangat susah. Nah, yang mengherankan itu sekitar tahun 2017 akhir tiba-tiba artikel tentang integritas akademik itu luar biasa banyak. Saya sampai bingung kenapa kok tiba-tiba jadi banyak”, ujar Prasetyo.
Dahulu integritas banyak diteliti pada bidang industri dan organisasi, terutama penelitian integritas yang melibatkan karyawan sebagai subjek. Selain itu, penyusunan alat ukur integritas pada bidang industry dan organisasi awalnya ditujukan untuk menggantikan tes deteksi kebohongan. Selain di bidang industri dan organisasi, penelitian integrasi juga dilakukan pada bidang pendidikan, yaitu penelitian integritas akademik. Penelitian integritas akademik yang dilakukan berkaitan dengan angka-angka kejadian praktik kecurangan, khususnya menyontek yang dilakukan oleh siswa/mahasiswa.
Ada 4 kata kunci yang dapat digunakan untuk mencari literatur tentang integritas akademik yang terdiri dari academic integrity, educational integrity, academic honesty, dan academic dishonesty. Kata honesty digunakan karena muatan utamanya adalah kejujuran, meskipun pada perjalanannya, integritas akan mendapatkan tambahan-tambahan nilai-nilai lain. Oleh karena itu, integritas akademik juga dapat dimaknai sebagai sebuah komitmen individu untuk mewujudkan nilai-nilai kejujuran, kepercayaan, keadilan, penghormatan, dan tanggung jawab. Makna tersebut dipelopori International Center for Academic Integrity (ICAI) yang merupakan asosiasi perguruan tinggi di Amerika yang fokus pada integritas akademik.
Awalnya ICAI mendefinisikan integritas akademik dengan lima nilai, namun pada tahun 2013 ICAI menambahkan satu nilai yaitu, keberanian. Nilai keberanian menurut ICAI adalah nilai yang dapat melaksanakan kelima nilai lainnya. Tanpa keberanian, individu tidak bisa mewujudkan nilai-nilai lain yang terkandung pada makna integritas akademik.
Selanjutnya, dalam materi kolokium kali ini, Prasetyo juga menyampaikan bahwa integritas akademik adalah ciri dari manusia pembelajar. Selain sebagai hal penting bagi terlaksana atau tidaknya misi perguruan tinggi, serta berkaitan dengan reputasi sebuah perguruan tinggi. Menurut Prasetyo, penegakan integrasi akademik dapat dilakukan melalui deteksi dengan menjadikan pengukuran sebagai bentuk upaya apakah ada potensi kurangnya integritas akademik pada dosen. Oleh karena itu, diperlukan alat ukur yang reliabilitas dan validitasnya tinggi. Selain itu, penegakan integritas akademik dapat dilakukan melalui penerapan aturan dan sosialisasi yang bisa disampaikan melalui perkuliahan atau pun pemasangan spanduk.
Hari pertama kursus ini dimulai pada pukul 10.00 WIB. Pada sesi pembuka materi disampaikan oleh Prof. Dr. Faturochman M.A. dengan tema “Survey Research Output: Beyond te Correlations”. Faturochman memaparkan presentasinya tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa dieksplorasi dari output penelitian survei. Berbagai jenis model analisis seperti model analisis jalur, model regresi dependen variabel ganda, model nonrekursif antar dependen variabel (endogenous variables), dan model kausal antar waktu (two-wave panel model). “Model-model penelitian yang ada idealnya dipahami dan dimanfaatkan peneliti dalam memahami permasalahan yang akan dipecahkan dalam penelitiannya”, jelas Fatur.
Pada sesi kedua yang dimulai pukul 13.00 WIB diisi oleh Yopina Galih Pertiwi , M.A., Ph.D. Ia membawakan sebuah pemaparan materi dengan tajuk “Cross-cultural Survey Research: Why and How.”
Yopina menerangkan bahwa penelitian cross-cultural survey sangat penting dilakukan dalam keilmuan psikologi. Hal ini didasari dari penelitian psikologi yang terpublikasi internasional sangat ‘Amerika sentris’ dan WEIRD (western, educated, industrial, rich, and democratic). Hal itu menyebabkan banyak bias kultural pada penelitian-penelitian psikologi dan sangat riskan jika digeneralisir.
“Peneliti tidak banyak menuliskan data geografis dan etnisitas. Itu berbahaya karena mengabaikan cultural context”, terang Yopina.
Untuk memahami bias budaya yang mungkin terjadi dalam penelitian psikologi, Yopina mencontohkan dalam penelitiannya pada sejumlah lansia di sebuah desa di Jawa diketahui bahwa dalam bahasa Jawa halus itu tidak ada padanan kata untuk kata “bahagia”. Hanya ada beberapa kata yang mendekati arti kata bahagia, yaitu seneng dan ayem. Oleh sebab itulah pemahaman kontekstual pada aspek-aspek psikologi itu sangatlah penting. “Memastikan bahwa konteksnya ekuivalen itu adalah kunci”, tegas Yopina.
Selanjutnya sesi ketiga diisi oleh Dr.rer.pol Bhina Patria, M.A. yang menyampaikan mengenai “Metodologi Sampling dan Regression Discontinuity”. Dalam pemaparannya Bhina menjelaskan bagaima teknik pengambilan sampling akan berpengaruh pada hasil penelitian.
“Hasil penelitian akan dipercaya bila didasarkan pada informasi yang terpercaya yaitu melalui data yang diperoleh dari sampling itu” terang Bhina.
Pada hari kedua kursus intensif kembali diisi oleh Dr.rer.pol Bhina Patria, M.A. dengan materi “Regression Discontinuity” dan Moh. Abdul Hakim, M.A., Ph.D dengan materi “Pengaruh Faktor Kontekstual dalam Penelitian Psikologi”.
Selanjutnya hari ketiga diisi oleh tiga pemateri yaitu Dr. Arum Febriani, M.A. dengan materi Penelitian Cross-Sectional, Elan Satriawan, M.Ec., Ph.D. dengan materi “Survey Longitudinal/Time Series” dan Haidar Buldan Tontowi, M.A., Ph.D. dengan materi “Online Survey Research and Data Collection”.
Pada hari keempat ada empat pemateri yaitu Dr. Avin Fadilla Helmi M.Si. dengan materi “Sharing Pengalaman: Penelitian Psikologi Sosial”, Dr. Yuli Fajar Susetya M. Si. Dengan materi ‘’ Sharing Pengalaman: Penelitian Psikologi Pendidikan”, Diana Setiyawati, M.HSc.Psy., Ph.D. dengan materi “Sharing Pengalaman: Penelitian Psikologi Klinis” dan Indrayanti, M.Si., Ph.D. dengan materi “Sharing Pengalaman: Penelitian Psikologi Industri dan Organisasi”.
Acara ini merupakan sebagian dari kurikulum dari Program Studi Doktor Psikologi UGM dan juga sebagai implementasi program pembelajaran merdeka. Dengan membuka acara ini untuk umum panitia berharap mendapatkan pemikiran yang luas dari peserta yang beragam.