Afriza Animawan Arifin berhasil membuktikan bahwa ilmu psikologi dan kecintaannya pada seni musik dapat berjalan beriringan. Kini, selain aktif mengajar sebagai dosen psikologi di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) ini juga tetap berkarier sebagai musisi profesional.
Perjalanan itu dimulai pada 2013, saat pertama kali menginjakkan kaki sebagai mahasiswa S1 Psikologi UGM. Afriza sebenarnya berniat menjadi mahasiswa “kupu-kupu” (kuliah pulang-kuliah pulang). Ia bertekad untuk fokus belajar tanpa ingin terlibat dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
Seorang teman menawarinya selebaran (leaflet) pendaftaran Gadjah Mada Chamber Orchestra (GMCO). Tanpa ekspektasi besar, Ia mengikuti seleksi, lolos, dan sejak itu menjalani dua dunia sekaligus. Pagi harinya Ia habiskan untuk menyelami teori-teori psikologi di ruang kuliah, sementara malamnya dihabiskan dengan memainkan instrumen dan melodi simfoni orkestra hingga tahun 2017.
Ketertarikan Afriza pada musik tumbuh sejak kecil, mengikuti jejak sang ayah yang juga bermusik. Sejak saat itu, Ia tak lagi memisahkan keduanya. Skripsi S1-nya mengulas tentang komunitas musik “Manusia Tanpa Arah”, sementara tesis S2-nya berfokus pada gamelan, sebuah bentuk musik lokal (indigenous) yang sarat nilai psikologis. Ia bahkan secara spesifik memilih peminatan Psikologi Seni. Karya-karyanya pun nyata, salah satunya adalah menggubah lagu untuk PPSMB Palapa dan PIONIR UGM, serta melatih kelompok orkestra di FKKMK UGM.
“Jawaban dari setiap doa istikharah itu ada pada restu seorang ibu. Ketika lulus S1, saya sempat bimbang apakah harus langsung bekerja atau lanjut kuliah. Ibu saya kemudian berpesan, ‘Jadilah dosen.’ Menurut beliau, daripada bekerja di perusahaan besar membuat laporan yang melelahkan dan tidak sesuai passion, menjadi dosen akan memberi saya ruang untuk tetap menekuni musik di sela-sela pengabdian.” — Afriza Animawan Arifin
Perjalanan akademis Afriza dari S1 hingga menyelesaikan S2 di UGM sendiri memakan waktu tujuh tahun (2013-2020), termasuk masa jeda satu tahun sebelum melanjutkan magister. Selama masa jeda itu, Ia aktif di Center for Public Mental Health (CPMH) UGM dan mengisi berbagai pelatihan kesehatan mental untuk anak-anak sekolah. Saat menempuh S2, Ia dihadapkan pada dilema klasik mahasiswa pascasarjana psikologi, mengambil jalur Profesi (Psikolog) atau jalur Sains (Magister Psikologi).
Afriza akhirnya memilih jalur scientist dan researcher dengan mengambil gelar Master of Arts (M.A.). Keputusan tersebut diperkuat oleh kekagumannya pada sosok Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH., Ph.D., dari FKKMK UGM yang pada 2023 dinobatkan sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia versi majalah TIME. Pertanyaan sederhana dari Prof. Uut tentang ketertarikan Afriza menjadi dosen menjadi salah satu pemantik besar dalam kariernya.
Selain Prof. Uut, sosok Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., Psikolog, menjadi pilar penting lainnya. Sejak masa orientasi mahasiswa baru, Afriza sudah memberanikan diri menemui Prof. Koentjoro dan bertanya apakah musik bisa diteliti dari sudut pandang psikologi, mengingat saat itu belum ada KBK khusus seni. Prof. Koentjoro menyambut hangat ide tersebut dan bersedia menjadi pembimbingnya.
Di bawah bimbingan sang profesor yang juga pernah membimbing putra Rhoma Irama dalam riset psikologi musik, tesis S2 Afriza mengenai gamelan berhasil terbit di jurnal internasional bereputasi (Q2).
Kini di UMS, Afriza tidak hanya mengajar teori-teori dasar. Bersama koleganya, Ia berhasil menginisiasi dan membuka mata kuliah pilihan Psikologi Seni, sebuah ruang akademik yang suportif bagi mahasiswa yang ingin melihat irisan antara perilaku manusia dan ekspresi kreativitas.
Bagi Afriza, menjadi dosen adalah awal dari perjalanan menuju puncak akademik tertinggi sebagai seorang Profesor. Untuk mencapai titik tersebut, Ia membagikan beberapa tips penting. Menurutnya, langkah pertama adalah menemukan identitas akademik (stepping point) sejak awal melalui bidang kepakaran atau mata kuliah yang paling membuat seseorang bersemangat dan tidak mengantuk saat mengikutinya. Selanjutnya, seorang akademisi perlu membangun umbrella research (penelitian payung) dengan mengintegrasikan Tridarma Perguruan Tinggi ke dalam satu roadmap karier yang konsisten. Dalam perjalanannya, penting juga untuk terus bermitra dan memupuk hubungan yang sinergis dengan mahasiswa karena dukungan riset tidak hanya datang dari kolega sesama dosen. Terakhir, Ia mengingatkan agar tidak takut memulai, karena minat dan kepakaran bisa tumbuh seiring pembiasaan selama prosesnya dinikmati.
Kisah Afriza adalah bukti bahwa batas antara karier akademik dan ruang seni hanyalah sekat yang bisa ditembus oleh kreativitas. Mengajar di ruang kelas pada hari kerja dan memegang baton orkestra di akhir pekan bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah kombinasi selaras yang saling menguatkan.
Reportase: Nur Amalina Naada Sabrina
Penulis: Fadia Hayu Godwina
Editor: Erna Tri Nofiyana
Foto: Dokumentasi Pribadi