Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Unit Informasi dan Pengembangan Teknologi (UIPTB) menyelenggarakan Tech in Training pada Senin (15/6) dan Kamis (18/6). Kegiatan ini diikuti oleh 23 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan alumni di Ruang B-104 Fakultas Psikologi UGM.
Pelatihan ini menghadirkan dosen Fakultas Psikologi UGM sekaligus co-founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Theresia Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, sebagai narasumber utama. Ia membahas bagaimana pengetahuan akademik dapat diterjemahkan menjadi bentuk komunikasi yang lebih mudah dipahami, menarik, dan berdampak.
Novi membuka sesi dengan menekankan pentingnya peran intelektual dalam menjembatani ilmu pengetahuan dengan publik. Ia menyebut bahwa ruang digital saat ini menuntut kehadiran intelektual yang aktif dan komunikatif.
“Media sosial harus menjadi gerbang bahwa intelektual itu ada,” ujar Novi.
Ia juga menyoroti peran intelektual dalam produksi pengetahuan dan tanggung jawab moral untuk menyebarkannya kepada publik.
“Kenapa intelektual ada di kelas brahmana? Karena mereka tidak bisa dibeli,” tutur Novi, menekankan bahwa intelektual memiliki nilai yang tidak bersifat transaksional, melainkan dibangun melalui proses berpikir, belajar, dan integritas dalam menyampaikan gagasan.
Dalam konteks diseminasi riset ke masyarakat, Novi menambahkan bahwa penyampaian informasi secara langsung kepada publik justru memiliki tantangan yang lebih kompleks.
“Kalau langsung ke masyarakat itu lebih kejam,” ujarnya.

Pada sesi hari kedua, pelatihan berfokus pada strategi komunikasi yang lebih persuasif dan storytelling dalam penyampaian riset. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan komunikasi manusia tetap memiliki peran penting di tengah perkembangan teknologi.
“Ngomong itu sejauh ini belum bisa digantikan oleh AI (Artificial Intelligence),” katanya, menegaskan bahwa proses menyampaikan gagasan tetap membutuhkan nalar, konteks, dan sensitivitas manusia.
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa gagasan yang disampaikan seseorang merupakan hasil dari proses berpikir yang kemudian dikomunikasikan kembali kepada orang lain.
Sejumlah peserta menyampaikan kesan positif terhadap pelatihan ini. Mereka menilai materi yang diberikan membuka perspektif baru mengenai peran penulis dalam dunia akademik maupun publik.
“Ini sangat menginspirasi, seperti angin segar,” ujar salah satu peserta.
“Materinya sangat ‘daging’ dan membuka perspektif baru tentang dunia penulisan,” tambah peserta lainnya.
Peserta lain juga menyoroti bahwa kegiatan ini mendorong keberanian intelektual dalam menyampaikan gagasan. Menurut mereka, menjadi penulis bukan hanya soal merangkum ilmu, tetapi juga berani menyampaikan ide.
Melalui Tech in Training, UPTB Fakultas Psikologi UGM menegaskan pentingnya transformasi pengetahuan dari ruang akademik ke ruang publik. Kegiatan ini tidak hanya membekali keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesadaran bahwa komunikasi ilmiah merupakan bagian penting dari tanggung jawab intelektual di era digital.
Penulis: Arrasya Aninggadhira
Editor: Erna Tri Nofiyana