Yogyakarta – Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Putu Mahatma Satria Wibawa, berhasil meraih medali perak dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026. Kompetisi yang diselenggarakan oleh Indonesia Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan SEGi University Malaysia tersebut berlangsung pada 10–14 September 2026.
Dalam kompetisi tersebut, Putu bersama tim mengusung karya berjudul “SEHATI: Building a Mindfulness-Based Peer Support Community for Special Education Teachers’ Well-being”. Karya ini menawarkan rancangan program intervensi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis guru Sekolah Luar Biasa (SLB) melalui integrasi praktik mindfulness dan dukungan rekan sejawat (peer support).
Gagasan tersebut berangkat dari permasalahan kesejahteraan psikologis guru pendidikan khusus yang kerap menghadapi tekanan dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Beban pekerjaan yang tinggi dapat memicu stres berkepanjangan, kelelahan emosional, hingga burnout. Sementara itu, program pendampingan yang tersedia masih banyak mengandalkan seminar satu kali dan belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan emosional guru dalam keseharian.
Melalui SEHATI (Synergy of Great and Inclusive Educators), tim mengusulkan model intervensi yang mengadaptasi pendekatan Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) ke dalam budaya kolektivis masyarakat Indonesia. Program ini dirancang selama delapan minggu dengan sesi mingguan berdurasi 75 menit. Kegiatannya meliputi latihan pernapasan sadar (mindful breathing), diskusi reflektif dalam kelompok kecil yang dipandu fasilitator rekan sejawat terlatih, serta afirmasi positif terstruktur.
Penyusunan program didasarkan pada metode Narrative Literature Review (NLR) dengan mengkaji 34 sumber literatur yang diterbitkan pada 2003–2026. Sumber tersebut diperoleh dari berbagai basis data dan lembaga, antara lain APA PsycNet, Google Scholar, ResearchGate, WHO, dan Badan Pusat Statistik (BPS). Kajian ini digunakan untuk mengidentifikasi faktor pemicu stres, mengevaluasi mekanisme dukungan yang telah tersedia, serta menemukan kesenjangan intervensi kesejahteraan psikologis bagi guru pendidikan khusus.
Putu mengungkapkan bahwa ketertarikannya pada dunia pendidikan telah tumbuh sejak kecil. Ia bercita-cita menjadi tenaga pendidik dan ingin membagikan serta mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Seiring waktu, ia semakin menyadari bahwa kesejahteraan psikologis tenaga pendidik merupakan aspek penting yang perlu mendapat perhatian.
“Dunia pendidikan sering kali menyimpan beragam permasalahan psikologis, misalnya kesejahteraan psikologis guru yang kurang diperhatikan sehingga secara tidak langsung turut memengaruhi proses kegiatan belajar dan mengajar serta kesehatan mental di sekolah,” ungkapnya.
Ketertarikan tersebut juga berkaitan dengan minat Putu terhadap pendidikan inklusif dan kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus. Ia melihat pengembangan intervensi bagi guru SLB sebagai salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mendukung terciptanya lingkungan pendidikan yang lebih sehat dan inklusif.
Persiapan mengikuti kompetisi telah dimulai sejak liburan akhir semester genap pada Juni 2026. Prosesnya diawali dengan bertukar gagasan (brainstorming), membaca berbagai pemberitaan, dan mengamati permasalahan di lingkungan sekitar. Selanjutnya, Putu menyintesis artikel ilmiah, mengidentifikasi kesenjangan penelitian (research gap), dan menyusun rancangan modul intervensi hingga proposal dikirimkan pada Agustus 2026.
Bagi Putu, pencapaian ini menjadi pengalaman pertamanya mengikuti kompetisi penyusunan rancangan intervensi. Sebelumnya, saat menempuh pendidikan SMA, ia pernah meraih medali perunggu dalam ajang Indonesia Science Inventors Fair (ISIF) 2024 yang diselenggarakan di Universitas Udayana melalui kompetisi karya tulis ilmiah.
Ke depan, Putu berharap rancangan SEHATI dapat dikembangkan dan dimatangkan sebelum diterapkan secara langsung. Ia ingin program tersebut tidak hanya menjadi gagasan akademis, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi guru-guru SLB di Indonesia.
“Harapan saya, modul intervensi ini dapat dimatangkan sebelum benar-benar diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Saya juga berharap sumbangan sederhana ini dapat membawa berkah dan manfaat,” tuturnya.
Di akhir, lelaki kelahiran Tabanan, 15 Mei 2007 ini memiliki harapan kepada teman-temannya para mahasiswa. “Saya memiliki harapan bagi teman-teman mahasiswa agar tetap percaya pada setiap rancangan Tuhan. Saya ingin agar teman-teman berani untuk mengeksplorasi potensi dari dalam diri dan mengaktualisasikannya secara positif di masyarakat. Good luck dan selamat bertumbuh!”
Penulis: Sussanti