Cilacap. Sebanyak 45 warga Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, berkumpul di Balai Desa Cibeunying pada Sabtu (24/10) untuk berlatih mengingat tempat dan mengenali jalan. Kegiatan bertajuk “Latihan Mengingat Tempat dan Mengenali Jalan serta Psikoedukasi Neurokognitif Kebencanaan” ini diselenggarakan Kelompok Bidang Keahlian (KBK) Neurosains Perilaku Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Desa Cibeunying, sebagai bagian dari program Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Psikologi UGM tahun 2026. Warga mengerjakan latihan jalur di laptop, lalu mengikuti penjelasan tentang cara otak mengingat jalan dan cara menyiapkan diri menghadapi bencana alam.
Bencana alam berupa tanah longsor di Cibeunying menimbun rumah dan mengubah jalan setapak di Dusun Tarukahan dan Dusun Cibuyut. Sebagian keluarga kini tinggal di hunian sementara (huntara) di lokasi baru. Bagi warga, perubahan itu berarti patokan yang selama bertahun-tahun dipakai untuk mengenali arah, seperti rumah tetangga, pohon, atau tikungan jalan, tidak lagi ada.
Bencana alam berupa gempa bumi, tanah longsor, dapat mengubah spasial lingkungan yang telah dikenal bertahun-tahun. Hal ini dapat disebabkan adanya timbunan tanah longsor atau timbunan material atau hanyutnya material alam yang menutup jalan dan mengubah arah suatu lokasi. Adanya kepanikan dan ketakutan saat peristiwa terjadi dapat mengganggu ingatan ruang dan spasial. Oleh karena itu pengetahuan mengenai lokasi, navigasi, dan ingatan spasial sangat penting.
“Kegiatan pengabdian ini ditujukan untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya memori spasial dan peranan otak dalam navigasi dan ingatan spasial bagi masyarakat terdampak,” ujar Ketua Tim, Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D., Psikolog.
Latihan Jalur di Laptop
Kegiatan pagi dibuka dengan latihan pada dua tugas yang disusun tim, yaitu Adaptasi Paradigma GMLT dan Adaptasi Paradigma TCT. Pada tugas pertama, warga mencari jalur tersembunyi pada papan kotak-kotak di layar dengan mengeklik satu kotak demi satu kotak, lalu mengulang jalur yang sama sebanyak lima kali. Pada tugas kedua, warga mengejar kotak kuning yang berpindah tempat. Petugas membacakan petunjuk yang sama untuk setiap warga: kegiatan ini bukan ujian, bukan tes IQ, dan bukan pemeriksaan kesehatan, hasilnya tidak diumumkan per orang, dan warga boleh beristirahat atau berhenti kapan saja. Dalam petunjuk itu, warga juga diingatkan bahwa salah itu wajar, apalagi pada percobaan awal.
Hasil awal menunjukkan bahwa warga belajar dari percobaan ke percobaan. Rata-rata kesalahan turun dari sekitar 32 klik pada percobaan pertama menjadi sekitar 17 klik pada percobaan kelima. Tim mencatat bahwa sebagian besar warga belum pernah memakai tetikus atau perangkat sejenis sebelumnya, sehingga latihan ini sekaligus menjadi pengalaman baru memakai perangkat digital.
Psikoedukasi: Otak Tidak Bekerja seperti GPS
Pada sesi berikutnya, Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D., Psikolog menjelaskan dua cara manusia mengingat jalan: dari posisi diri sendiri dan seperti melihat peta dari atas. Ia juga menjelaskan bahwa beberapa bagian otak bekerja sama ketika seseorang mencari jalan, sehingga otak tidak bekerja seperti GPS, dan bahwa tidak ada kelompok yang otomatis lebih siap menghadapi bencana alam karena kesiapan didapat dari latihan.
Materi dikemas dalam strategi yang mudah diingat. Untuk mengenali jalur di huntara, narasumber menceritakan dan memperagakan empat langkah Kenali-Latih-Simulasikan-Evaluasi, termasuk cara membuat sketsa jalur utama dan jalur cadangan. Narasumber juga memperkenalkan Lihat-Tutup-Ceritakan-Periksa untuk melatih ingatan rute dan Merunduk-Berlindung-Berpegangan sebagai tindakan saat terjadi guncangan.
Pemahaman warga diukur dengan 15 pertanyaan pilihan ganda sebelum dan sesudah materi. Skor rata-rata naik dari 8,97 menjadi 10,27. Peningkatan terbesar tampak pada pertanyaan tentang tindakan pertama saat guncangan kuat di dalam rumah: proporsi jawaban benar naik dari 37 persen menjadi 77 persen. Pemahaman tentang cara menyusun dan melatih jalur di huntara bergeser lebih sedikit. Karena langkah Kenali-Latih-Simulasikan-Evaluasi baru diperagakan oleh narasumber, tim menyiapkan modul cetak dan video pembelajaran berbasis peta lokal agar warga dapat mempraktikkannya sendiri di lingkungan tempat tinggalnya.
“Kami berterima kasih karena warga diajak belajar dengan cara yang mudah dipahami. Kami berharap kerja sama ini berlanjut, terutama untuk membantu warga di huntara mengenali jalur evakuasi,” kata Kepala Desa Cibeunying, Lili Warli.
Mendukung SDG 3, SDG 4, dan SDG 11
Program ini mendukung tiga Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Pada SDG 3, kegiatan memperkenalkan cara menjaga kesehatan otak dan ingatan setelah bencana alam dengan pendekatan nonklinis. Pada SDG 4, psikoedukasi, modul cetak, dan video pembelajaran memperluas literasi kebencanaan berbasis sains bagi warga. Pada SDG 11, kegiatan ini membekali warga untuk mengenali jalur dan patokan baru, sehingga membantu adaptasi di permukiman pascarelokasi dan memperkuat kesiapsiagaan komunitas menghadapi bencana alam.
Kerja sama Fakultas Psikologi UGM dan Pemerintah Desa Cibeunying sedang diformalkan melalui perjanjian kerja sama pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini juga didukung dosen Universitas Amikom Purwokerto sebagai mitra penghubung. Seluruh hasil dilaporkan secara gabungan tanpa menyebut identitas warga, dan ringkasan hasil akan diserahkan kepada Pemerintah Desa sebagai bahan pendampingan warga.
Penulis dan foto: Tim PkM