Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membekali tenaga kependidikan (tendik) agar mampu menjadi Safe Adult dan First Aider bagi rekan kerja maupun mahasiswa yang membutuhkan dukungan psikologis awal. Pelatihan yang diselenggarakan atas kerja sama Health Promoting University (HPU) Fakultas Psikologi UGM dan Center for Public Mental Health (CPMH) ini digelar di Ruang D-402 Fakultas Psikologi UGM, Jumat (24/7).
Dalam sambutan pembuka, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Psikologi UGM, Dr. Sumaryono, M.Si., Psikolog, mengingatkan bahwa pelatihan kesehatan mental semestinya didasarkan pada kebutuhan nyata di lapangan, bukan sekadar mengikuti tren.
“Sebuah proses pelatihan itu harus berdasar dengan training need analysis. Jadi tidak bisa berdasarkan tren atau sembarangan,” ujar Sumaryono.
Ia juga mendorong CPMH untuk mengembangkan model evaluasi berbasis simulasi praktis agar materi pelatihan benar-benar melekat dan dapat diterapkan peserta ketika menghadapi situasi nyata di lingkungan kerja.
Melalui materi yang disampaikan Nurul Kusuma Hidayati, M.Psi., Psikolog, peserta diperkenalkan pada konsep Safe Adult, yakni sosok yang mampu menciptakan rasa aman bagi diri sendiri maupun orang lain tanpa harus memiliki latar belakang psikologi klinis.

Ia menjelaskan bahwa stres pada dasarnya bersifat netral dan dialami setiap orang, namun menjadi berisiko ketika seseorang tidak menyadari kondisi dirinya sendiri karena terbiasa mengenakan “topeng” di lingkungan kerja. Menurutnya, kesediaan seseorang untuk mengenali kondisi dirinya dan meminta pertolongan merupakan bentuk keberanian, bukan kelemahan.
“Orang yang tahu kondisi dirinya dan kemudian tahu kapan dia mau meminta pertolongan itu sejatinya pemberani,” kata Nurul.
Nurul kemudian memperkenalkan kerangka Look, Listen, Link sebagai langkah sederhana dalam memberikan pertolongan psikologis awal. Look berarti mengenali perubahan kondisi fisik maupun perilaku pada diri sendiri dan orang lain. Listen menekankan pentingnya hadir sepenuhnya saat mendengarkan tanpa distraksi. Sementara Link berarti membantu menghubungkan individu yang membutuhkan bantuan dengan keluarga, atasan, maupun tenaga profesional seperti psikolog.
Nurul menegaskan bahwa peran first aider memiliki batas yang jelas. Peserta perlu segera merujuk individu kepada tenaga profesional apabila menemukan enam indikator kritis, yakni perilaku melukai diri sendiri, melukai orang lain, mengalami kekerasan, memiliki ide atau upaya bunuh diri, kecemasan berat atau histeris, serta penyalahgunaan zat adiktif.
Penegasan mengenai batas peran tersebut kembali digarisbawahi dalam sesi debriefing yang dipandu Wirdatul Annisa, M.Psi., Psikolog, di akhir pelatihan.
“Kita hanya membantu mereka untuk bisa berdaya lagi, sebenarnya bukan untuk benar-benar bisa menyelesaikan permasalahan mereka,” ujar Wirdatul.
Dalam sesi materi, peserta juga dibekali sejumlah teknik stabilisasi psikologis yang dapat diterapkan secara mandiri maupun untuk mendampingi orang lain, di antaranya teknik pernapasan 4-4-4-4, grounding dengan metode 5-4-3-2-1 (mengenali objek melalui panca indra), teknik STOP (Stop, Take a breath, Observe, Proceed), serta pelabelan emosi (naming emotion).

Berbagai teknik tersebut kemudian dipraktikkan langsung melalui simulasi yang dipandu Anggit Nursasmito, S.Psi. Peserta dibagi ke dalam tujuh kelompok yang berotasi melalui tujuh pos berbeda untuk menangani berbagai kasus simulasi dengan durasi 10-15 menit di setiap pos. Pada setiap putaran, dua hingga tiga peserta berperan sebagai penolong, sementara peserta lainnya menjadi pengamat sebelum bergantian menjalankan peran tersebut.
Kasus yang disimulasikan merepresentasikan situasi yang kerap ditemui di lingkungan kampus dan tempat kerja, mulai dari tekanan akademik, kehilangan motivasi kerja, konflik peran keluarga dan karier, hingga ketimpangan beban kerja dalam tim.
Penulis & Foto: Erna Tri Nofiyana