Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Sharing Session bertema “StrengthsFinder: Konsep, Properti Psikometris, dan Pengalaman Pengguna StrengthsFinder dalam Transformasi Perusahaan” pada Selasa (9/6) secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan yang ditujukan bagi dosen Fakultas Psikologi UGM ini diselenggarakan oleh Unit Pengembangan Alat Psikodiagnostika (UPAP) Fakultas Psikologi UGM.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tantangan transformasi organisasi di era digital yang menuntut tidak hanya strategi bisnis dan teknologi yang tepat, tetapi juga pengelolaan potensi sumber daya manusia secara optimal. Dalam konteks tersebut, pendekatan strengths-based development dinilai relevan sebagai alternatif dari pendekatan konvensional yang lebih berfokus pada perbaikan kelemahan.
Acara dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia Fakultas Psikologi UGM, Dr. Sumaryono, M.Si., Psikolog. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang didasarkan pada pendekatan ilmiah dan hasil penelitian.
“Keilmuan ini akan menjadi sesuatu yang penting untuk mendasari langkah-langkah yang akan kita lakukan,” ujarnya.
Sesi pertama menghadirkan Roma Tampubolon, CEO dan Founder StrengthsFinder ID. Ia memaparkan konsep dasar CliftonStrengths, instrumen asesmen yang dikembangkan berdasarkan riset Gallup selama lebih dari 90 tahun untuk membantu individu mengenali pola bakat dominan yang dimiliki.
Menurut Roma, bakat merupakan potensi yang dapat berkembang menjadi kekuatan apabila terus diasah dan dimanfaatkan secara konsisten.
“Talent adalah sebuah potensi dan dia itu baru bisa menjadi strength ketika kita terus mengasah atau dikembangkan,” jelasnya.
Roma juga menegaskan bahwa pendekatan strengths-based development tidak berarti mengabaikan kelemahan individu. Sebaliknya, pendekatan tersebut mendorong seseorang untuk mengoptimalkan kekuatan yang dimiliki agar dapat menghadapi berbagai tantangan secara lebih efektif.
“Pendekatan ini tidak mengabaikan kelemahan kita, tetapi mengajak kita untuk fokus pada kekuatan kita, di mana kekuatan kita mampu untuk menutupi kelemahan-kelemahan kita,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, Roma juga menyoroti relevansi bakat di era kecerdasan buatan. Ia menjelaskan bahwa keterampilan teknis dan pengetahuan dapat dengan cepat menjadi usang atau tergantikan oleh teknologi, sementara bakat alami tetap menjadi pembeda utama manusia. Untuk mengidentifikasi bakat tersebut, Roma memperkenalkan lima indikator yang dapat diobservasi, yakni yearning (keinginan yang berulang), rapid learning (kemampuan belajar lebih cepat dari rata-rata), satisfaction (kepuasan psikologis saat melakukan suatu aktivitas), flow (kondisi terhanyut penuh dalam sebuah tugas), dan glimpses of excellence (pengakuan orang lain atas hasil kerja yang luar biasa).
Sesi berikutnya menghadirkan Mirza Yunan Rivai, seorang Praktisi Transformasi Perusahaan yang berbagi pengalaman mengenai penerapan pendekatan berbasis kekuatan dalam mendukung proses transformasi organisasi. Melalui pengalamannya di berbagai institusi, Mirza menjelaskan bagaimana pemetaan kekuatan individu dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kolaborasi tim, efektivitas kepemimpinan, serta keberhasilan transformasi organisasi.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Ramadhan Dwi Marvianto, S.Psi., M.A., dan Aisha Sekar Lazuardini Rachmanie, S.Psi., M.Psi., Psikolog, ini berlangsung dari pukul 08.30 hingga 12.30 WIB dan diakhiri dengan sesi diskusi bersama peserta.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi UGM membuka ruang pembelajaran bagi dosen untuk meningkatkan pemahaman mengenai StrengthsFinder dan aspek psikometris instrumen, mengembangkan perspektif kritis terhadap penggunaannya, serta menambah wawasan dalam implementasi strengths-based development di konteks organisasi modern.
Penulis: Erna Tri Nofiyana