Tato, tindik, hingga operasi plastik merupakan beberapa bentuk modifikasi tubuh yang dilakukan untuk mengubah penampilan. Meski berkaitan dengan pilihan pribadi, tindakan tersebut tidak selalu diterima oleh masyarakat. Penolakan terhadap modifikasi tubuh juga ditemukan pada kelompok masyarakat dengan latar belakang budaya dan kepercayaan yang berbeda. Fenomena ini mendorong tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengkaji bagaimana individu membentuk penilaian moral terhadap modifikasi tubuh.
“Selama ini, kita seringkali mengasosiasikan penolakan terhadap modifikasi tubuh, seperti tato, tindik, dan operasi plastik, dengan ajaran agama Abrahamik. Akan tetapi, kita bisa melihat bahwa beberapa kelompok masyarakat yang tidak menganut kepercayaan ini, seperti masyarakat Asia Timur juga menunjukkan pola penolakan yang mirip. Lalu yang menjadi pertanyaan, mengapa hal ini bisa terjadi?” jelas Samudera Fadlilla Jamaluddin, S.Psi., M.Sc., ketua tim penelitian, Kamis (29/10).
Selain Samudera, tim penelitian ini beranggotakan dosen Muhammad Nabhan Husein, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dan Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., serta mahasiswa sarjana dan magister psikologi, yaitu Azza Fahira Soebroto (IUP 2022), Abigael Emida Peotri Hidayat (Sarjana 2024), dan Faiqal Dima Hanif (Magister Psikologi 2025).
Penelitian dilakukan melalui pendekatan eksperimen secara daring. Partisipan akan diminta menilai sejumlah cerita yang memuat berbagai tindakan modifikasi tubuh. Cerita tersebut telah dimodifikasi untuk menghilangkan alasan-alasan rasional yang dapat mendasari penolakan terhadap tindakan tersebut. Melalui eksperimen ini, tim ingin menguji apakah penilaian moral terhadap modifikasi tubuh tetap muncul ketika alasan-alasan rasional tersebut telah dihilangkan. Selain memberikan penilaian moral, partisipan juga akan mengikuti sejumlah pengukuran psikologis lainnya.
Hasil sementara dari studi pilot menunjukkan adanya perbedaan pola penilaian antara partisipan dewasa muda, khususnya mahasiswa, dan partisipan lanjut usia. Temuan tersebut menjadi landasan tim dalam menentukan target demografi partisipan untuk penelitian utama.
“Hasil pilot sementara menunjukkan bahwa ada perbedaan antara pola penilaian yang diberikan oleh partisipan dewasa muda (mahasiswa) dibandingkan partisipan lanjut usia. Temuan ini kami gunakan sebagai landasan untuk memilih target demografi partisipan di penelitian utama nantinya,” jelas Samudera.
Penelitian ini berupaya mengisi celah kajian dalam ranah psikologi moral yang belum banyak membahas modifikasi tubuh sebagai objek penilaian moral. Saat ini, penelitian tersebut telah diajukan ke salah satu jurnal internasional bereputasi melalui skema registered report. Melalui skema ini, jurnal akan mengawal penelitian sejak sebelum pengambilan data utama dilakukan guna mendukung kredibilitas temuan.
Lebih jauh, penelitian ini diharapkan dapat menambah pemahaman mengenai asal-usul norma dalam masyarakat.
“Menambah khazanah pengetahuan, terutama terkait asal-usul sebuah norma muncul. Karena, bisa jadi sebuah norma pada masyarakat itu muncul bukan sebagai suatu hal yang dikonstruksikan secara sosial. Melainkan, bisa jadi ada pula beberapa norma itu muncul karena adanya respons biologis kolektif yang muncul pada diri individu, dan kesamaan respons kolektif biologis inilah yang kemudian berkontribusi terhadap munculnya sebuah norma,” ungkapnya.
Penulis: Faiqal Dima Hanif, Azza Fahira Soebroto, Abigael Emida Peotri Hidayat
Editor: Erna Tri Nofiyana
Foto: noregrets.tattoo