Yogyakarta, 27 Oktober 2026 — Kajian mengenai duka akibat kehilangan seseorang karena bunuh diri (suicide bereavement) dan layanan pascabunuh diri (postvention) terus berkembang secara global. Namun, publikasi ilmiah di bidang ini masih didominasi oleh peneliti dari negara berpendapatan tinggi, sementara penelitian dari negara berpendapatan menengah dan menengah ke bawah masih terbatas.
Temuan tersebut dilaporkan dalam artikel berjudul “Research Trends in Suicide Bereavement and Postvention – A Global Bibliometric and Content Analysis” yang terbit di jurnal Crisis tahun 2026. Penelitian ini melibatkan Dr. rer. nat. Laura Hofmann, Adelia Khrisna Putri, S.Psi., M.Sc., Ph.D., Dr. Tania Pearce, Elahe Derakhshan, M.Sc., Smita Dinakaramani, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dan kolaborator lainnya.
Tim peneliti melakukan analisis bibliometrik terhadap 1.072 artikel yang dipublikasikan pada 1953-2025. Data didapatkan melalui penelusuran sistematis pada delapan basis data, yaitu: Web of Science, Scopus, CINAHL, PsycINFO, MEDLINE, Embase, Emcare dan APA PsycArticles. Jenis-jenis artikel yang dimasukkan ke dalam analisis mencakup studi empiris, sintesis bukti, serta publikasi non-empiris seperti opini tanpa dibatasi bahasa maupun lokasi.
Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah publikasi tentang duka akibat bunuh diri dan layanan pascabunuh diri meningkat secara konsisten. Sebanyak 95% publikasi ditulis oleh penulis pertama dari negara berpendapatan tinggi, sedangkan hanya 1,3% berasal dari negara berpendapatan menengah ke bawah dan rendah. Penelitian empiris dan intervensi juga semakin banyak dibandingkan dengan publikasi non-empiris.
Studi ini juga menemukan bahwa penelitian lebih sering melibatkan kelompok dewasa muda, sedangkan studi yang berfokus pada kelompok lanjut usia masih terbatas. Peneliti juga mengidentifikasi kurangnya studi longitudinal dan intervensi. Meski demikian, temuan ini tidak banyak memberikan informasi mengenai kualitas metodologis artikel-artikel yang dianalisis.
Temuan tersebut menegaskan perlunya memperluas penelitian yang melibatkan populasi yang kurang terwakili, termasuk negara berpendapatan menengah ke bawah dan rendah. Penelitian intervensi berkualitas tinggi juga diperlukan untuk mengembangkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan penyintas.
Editor: Zufar
Penata: Fauzi
Editor: Sussanti
Foto: Ivan S pexels.com