•  Tentang UGM
  •  Perpustakaan
  • Informasi Publik
  • SDGs
  • SIT
  • Simaster
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada
  • TENTANG KAMI
    • Selayang Pandang
      • Sejarah
      • Perintis
    • Manajemen
    • Tenaga Pendidik
    • Tenaga Kependidikan
    • Jaminan Mutu
  • PENDIDIKAN
    • Sarjana Psikologi
    • International Undergraduate Program
    • Program Pendidikan Profesi Psikologi
    • Magister Psikologi
    • Doktor Ilmu Psikologi
  • PENELITIAN & PENGABDIAN
    • Roadmap Penelitian dan PkM
    • Penelitian
    • Publikasi
    • Pengabdian
    • Kerja Sama
  • MAHASISWA
    • Tata Perilaku Mahasiswa
    • Lowongan Magang Wajib
    • Beasiswa
    • Badan Kegiatan Mahasiswa
    • Prestasi Mahasiswa
  • FASILITAS
    • Laboratorium
    • Kelompok Riset
    • Dukungan Non-akademik
  • Beranda
  • Rilis
  • Peneliti UGM Ungkap Tantangan Berpikir Kritis di Era Pascakebenaran

Peneliti UGM Ungkap Tantangan Berpikir Kritis di Era Pascakebenaran

  • Rilis
  • 8 Oktober 2026, 09.37
  • Oleh: Humas
  • 0

Era pascakebenaran (post-truth) menghadirkan tantangan baru bagi perguruan tinggi. Maraknya misinformasi, penyebaran informasi berbasis emosi, serta kemudahan akses terhadap kecerdasan artifisial membuat kemampuan berpikir kritis semakin penting bagi sivitas akademika.

Hal tersebut terungkap dalam penelitian Widia Sri Ardias, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Dr. Bagus Riyono, M.A., Psikolog, dan Dr. Sumaryono, M.Si., Psikolog dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang dipublikasikan dalam Higher Education Research & Development pada 2026. Penelitian berjudul “Critical thinking in the post-truth era: academic staff and student perspectives on challenges in Indonesian higher education” mengkaji bagaimana sivitas akademika dan mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia memahami serta menerapkan konsep berpikir kritis guna menghadapi tantangan di era post-truth.

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui kuesioner terbuka yang melibatkan 303 responden dan wawancara semi-terstruktur terhadap 12 partisipan. Data dianalisis menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian mengidentifikasi lima dimensi yang saling berkaitan, yaitu manfaat yang dirasakan, hambatan, persepsi sosial, praktik sehari-hari, dan upaya universitas.

Hasil studi mengungkapkan bahwa partisipan memahami konsep berpikir kritis sebagai kompetensi adaptif yang tidak hanya berfungsi sebagai kapasitas kognitif, melainkan juga sebagai bentuk resiliensi epistemik, yaitu kemampuan untuk menjaga standar pembuktian, justifikasi dan evaluasi informasi yang bertanggung jawab ketika informasi tersebut masih diperdebatkan dan memiliki muatan emosional tinggi.

Studi ini juga mengungkapkan bagaimana post-truth sangat terkait dengan ambivalensi sosial dan ketakutan akan perbedaan pendapat. Seseorang bisa saja menghindari mempertanyakan suatu klaim demi menjaga harmoni kelompoknya. Dengan kata lain, kemampuan seseorang untuk berpikir kritis juga dibentuk oleh dukungan dan hambatan dari lingkungannya.

Selain itu, dalam praktiknya, partisipan menerapkan berpikir kritis melalui evaluasi bukti, triangulasi sumber serta verifikasi informasi seperti tabayyun. Artinya, kemampuan berpikir kritis juga perlu dilihat dalam konteks budaya epistemik lokal yang membentuk bagaimana seseorang mempertanyakan dan memverifikasi suatu informasi. Temuan ini menunjukkan bahwa berpikir kritis di era pascakebenaran tidak cukup dipahami sebagai keterampilan kognitif individual. Kemampuan tersebut berkembang melalui interaksi antara disposisi epistemik, hubungan sosial, lingkungan digital, dan budaya institusi.

Hasil penelitian memberikan implikasi bagi perguruan tinggi dengan mendorong integrasi berpikir kritis dalam kurikulum dan instrumen penilaian, menumbuhkan rasa aman untuk menyuarakan perbedaan pendapat, serta membekali mahasiswa dan sivitas akademika dengan keterampilan untuk mengevaluasi informasi, mengenali framing, memahami algoritma di era post-truth dan menggunakan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.

Editor: Zufar
Penata: Fauzi
Foto: doktor.psikologi.ugm.ac.id

Tags: Fakultas Psikologi UGM Publikasi Ilmiah SDG 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan yang Tangguh SDG 4: Pendidikan Berkualitas SDG 9: Industri Inovasi dan Infrastruktur SDGs

Berita Terkini

  • Peneliti UGM Ungkap Tantangan Berpikir Kritis di Era PascakebenaranOktober 8, 2026
  • Peneliti UGM Tunjukkan ESEM untuk Menguji Struktur Konstruk Konflik Kerja-KeluargaOktober 7, 2026
  • Peneliti UGM Petakan Pengukuran Pembentukan Identitas Remaja dan Dewasa MudaOktober 6, 2026
  • Fakultas Psikologi UGM Resmikan MOSAIC, Sistem Informasi untuk Mewadahi Proses Bisnis FakultasOktober 1, 2026
  • Fakultas Psikologi UGM dan ANI Tutup Temilnas I 2026 dengan Call for Paper, Puluhan Riset Neuropsikologi DipresentasikanOktober 1, 2026
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada

Jalan Sosio Humaniora Bulaksumur
Yogyakarta 55281 Indonesia
fpsi[at]ugm.ac.id
+62 (274) 550435 (hunting)
+62 (274) 550435 ext 158
psikologiugm
psikologiugm
psikologi_ugm
Kanal Psikologi UGM

TENTANG KAMI

  • Selayang Pandang
  • Sejarah
  • Manajemen
  • Tenaga Pendidik
  • Tenaga Kependidikan

INFORMASI PUBLIK

  • Daftar Informasi Publik
  • Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Secara Berkala
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat

FASILITAS

  • Fasilitas Pendidikan
  • Laboratorium
  • Kelompok Riset
  • Publikasi & Jurnal
  • Dukungan Non-akademik

MAHASISWA

  • Tata Perilaku Mahasiswa
  • Mitra Magang MBKM
  • Beasiswa
  • Badan Kegiatan Mahasiswa

© Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju