Yogyakarta, 6 Mei 2026 – Di tengah meningkatnya tekanan publikasi dan orientasi pada indeksasi global seperti Scopus, peneliti dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada mengingatkan bahwa kualitas metodologis tidak boleh dikorbankan demi kuantitas publikasi. Hal ini ditegaskan melalui studi terbaru yang mengkaji common method bias (CMB) dalam metodologi kuantitatif.
Artikel yang terbit di ANIMA Indonesian Psychological Journal berjudul “Mapping Common Method Bias (CMB) in Quantitative Social Research: A Scoping Review of Identification and Control Strategies” menunjukkan bahwa banyak penelitian masih mengandung bias laten yang berpotensi melemahkan validitas temuan, meskipun dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.
Fenomena ini kerap disebut sebagai “fetish indexing”, yakni kecenderungan menjadikan indeksasi sebagai tujuan utama, alih-alih sebagai konsekuensi dari kualitas ilmiah. Dalam praktiknya, orientasi ini mendorong percepatan publikasi tanpa diimbangi dengan ketelitian desain penelitian dan kontrol metodologis yang memadai.
Dr. Ridwan Saptoto, S.Psi., M.A., Psikolog menegaskan bahwa tantangan utama akademia saat ini bukan sekadar meningkatkan jumlah publikasi, tetapi memastikan integritas ilmiah.
“Indeksasi penting, tetapi bukan tujuan akhir. Tanpa rigor metodologis, publikasi berisiko menjadi sekadar formalitas akademik. Ini berbahaya karena dapat menghasilkan pengetahuan yang bias dan menyesatkan kebijakan,” ujarnya.
Peneliti mengingatkan bahwa common method bias (CMB) sering muncul dalam studi berbasis survei cross-sectional, terutama ketika variabel diukur secara simultan dengan instrumen yang modelnya sama (misalnya skala Likert). Tanpa upaya untuk mengidentifikasi dan mengontrol CMB, validitas hasil suatu penelitian dapat dipertanyakan.
Lebih lanjut, Faiqal Dima Hanif, S.Psi., peneliti Center for Indigenous and Cultural Psychology (CICP) Fakultas Psikologi UGM, menjelaskan bahwa studi ini memberikan peta komprehensif terkait strategi identifikasi dan mitigasi CMB.
“Kami ingin menggeser fokus dari sekadar ‘publishable’ menjadi ‘trustworthy’. Penelitian yang baik bukan hanya yang diterbitkan, tetapi yang dapat dipercaya dan direplikasi,” jelasnya.
Dalam konteks pembangunan global, isu ini memiliki implikasi serius terhadap Sustainable Development Goal 16, khususnya dalam memastikan pengambilan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy) yang akurat dan akuntabel. Data yang bias berpotensi menghasilkan kebijakan yang tidak tepat sasaran.
Selain itu, penguatan kualitas metodologis juga mendukung Sustainable Development Goal 4, terutama dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang menekankan integritas, refleksivitas, dan kualitas penelitian.
UGM menegaskan bahwa ke depan, transformasi budaya akademik perlu diarahkan pada keseimbangan antara produktivitas publikasi dan kedalaman ilmiah. Tanpa itu, ambisi menuju reputasi global justru berisiko menghasilkan fondasi pengetahuan yang rapuh.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar