Memasuki dunia kerja membutuhkan lebih dari sekedar gelar akademik. Psikolog baru dituntut mampu beradaptasi, berpikir strategis, serta menjaga integritas dalam setiap langkah profesional. Pesan tersebut mengemuka dalam kuliah umum bertajuk “Beyond the Couch: Membangun Jejak Karier Psikolog di Berbagai Sektor” pada Senin (20/4) yang berlangsung di Ruang A-203 Fakultas Psikologi UGM.
Kegiatan pembekalan bagi 46 calon psikolog Angkatan II Tahun Akademik 2025/2026 ini menghadirkan Kepala Biro Sumber Daya Manusia Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI, Zuraida Retno Pamungkas, S.Psi., M.S.E., Psikolog. Ia membagikan pengalaman karier serta refleksi profesionalnya di sektor pemerintahan dan tata kelola kelembagaan.
Dalam paparannya, Zuraida menegaskan bahwa lulusan psikologi memiliki peluang karier luas, tidak terbatas pada praktik klinis. Kompetensi psikolog, kata Zuraida, sangat dibutuhkan dari kantor pemerintah, lembaga kebijakan, hingga ruang-ruang pengambilan keputusan di organisasi.
“Gelar adalah kunci pembuka pintu, tetapi integritas adalah penjaganya sepanjang jalan,” ujar Zuraida.
Ia menjelaskan bahwa memasuki dunia kerja menuntut kesiapan yang lebih luas dibanding pencapaian akademik semata. Pengalaman magang, sertifikasi, kegiatan sukarela, hingga kemampuan membaca kebutuhan organisasi dinilai menjadi bekal penting agar lulusan tidak sekadar siap melamar, tapi juga siap bertahan dan berkembang.

Menurut Zuraida, kepemimpinan juga menjadi kompetensi penting yang perlu dibangun sejak awal karier. Leadership, menurutnya, bukan sekadar posisi formal, tetapi kemampuan menerjemahkan tanggung jawab, mengelola tekanan, dan menjadi teladan bagi lingkungan kerja tanpa mewariskan beban emosional kepada tim.
“Jangan bicara jika tidak bisa menjalankan. Hal kecil seperti disiplin waktu, kerendahan hati, dan tanggung jawab justru menjadi ukuran kepemimpinan sehari-hari,” tegasnya.
Selain kepemimpinan, Zuraida menyoroti pentingnya integritas sebagai fondasi profesionalisme. Prinsip walk the talk, objektivitas, kerahasiaan profesi, transparansi, dan akuntabilitas disebut sebagai nilai utama yang harus dijaga oleh psikolog di berbagai bidang kerja. Sebagai profesional, lulusan psikologi diingatkan untuk mampu menjaga kepercayaan, menilai tanpa bias, memahami etika profesi, serta menolak segala bentuk gratifikasi atau praktik yang dapat memengaruhi keputusan profesional.
Ia juga mendorong calon psikolog untuk mengembangkan pola pikir strategis atau helicopter view dalam perjalanan karier. Perspektif luas dinilai penting agar lulusan mampu memahami persoalan organisasi secara menyeluruh sekaligus mengambil keputusan yang tepat seiring perkembangan profesional mereka.
Dalam sesi diskusi, Zuraida mengajak calon lulusan untuk tidak ragu meniti karier di sektor nontradisional, termasuk institusi pemerintah. Menurutnya, keberhasilan karier tidak hanya ditentukan oleh jabatan, tetapi oleh kemanfaatan ilmu, kontribusi nyata, dan konsistensi menjaga nilai profesional.
Di sela pemaparan, Zuraida juga mengingatkan hal yang sering terlupakan yaitu merawat diri sendiri. Refleksi, niat baik, dan rasa terima kasih pada diri sendiri ia sebut sebagai bekal yang tidak kalah penting.

“Jadi orang baik, humble, dan jangan lupa berterima kasih pada diri sendiri. Sekecil apa pun kontribusi kita, itu berarti,” pesannya.
Penulis: Erna Tri Nofiyana