Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar sosialisasi tata cara penggunaan timbangan sampah berbasis Internet of Things (IoT) pada Selasa (28/7) di Ruang B-112, Fakultas Psikologi UGM. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Sustainability Campus Action (SCA) sekaligus upaya Tim Satuan Tugas (Satgas) Pengelolaan Sampah UGM menyeragamkan pengukuran timbulan sampah di seluruh fakultas dan unit kerja di lingkungan universitas. Fakultas Psikologi sendiri telah menerapkan penggunaan timbangan sampah tersebut sejak 12 Mei 2026 sehingga sosialisasi ini menjadi bagian dari pendampingan lanjutan yang dilakukan Satgas.
Sosialisasi diikuti oleh perwakilan Tim SCA, Tim Perlengkapan, serta petugas kebersihan (outsourcing) Fakultas Psikologi UGM. Narasumber kegiatan adalah Dr. Ir. Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng., IPP., dosen Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Fakultas Teknik UGM yang juga tergabung dalam Tim Satgas Pengelolaan Sampah UGM. Ia didampingi anggota Satgas lainnya, yaitu Yasir Abdulaziz, Muhammad Irfan Abdillah, dan Alif Hikmah Kumara Zhali.
Kepala Kantor Administrasi Fakultas Psikologi UGM, Umi Widyaningsih, S.Pd., M.Acc., dalam sambutan pembuka menyampaikan bahwa sosialisasi ini bertujuan menyamakan pemahaman antarfakultas soal penggunaan timbangan sampah IoT.

“Supaya di masing-masing fakultas memiliki pemahaman yang sama untuk penggunaan, dan bisa menggunakan dengan tepat,” ujarnya.
Thomas menjelaskan, pengukuran timbulan sampah di tiap fakultas selama ini masih bersifat perkiraan sehingga rentan tidak akurat.
“Timbulan sampah yang ada itu benar-benar menunjukkan nilai yang sebenarnya dari masing-masing fakultas,” katanya.
Timbangan IoT memungkinkan setiap fakultas mencatat berat sampah secara presisi tiap hari, dipilah menurut empat kategori, yaitu organik atau sisa makanan, daur ulang atau anorganik kering, residu, serta sapuan atau daun.
Data tersebut, lanjut Thomas, turut menjadi salah satu komponen penilaian dalam pemeringkatan universitas, sehingga akurasi data di tingkat fakultas ikut memengaruhi capaian UGM secara keseluruhan.
Secara teknis, timbangan dilengkapi layar LCD 7 inci, unit mikrokomputer, konektor kabel LAN dan USB, dan beroperasi dengan daya 220 volt. Data hasil penimbangan tersinkronisasi otomatis ke jaringan UGM lewat koneksi Wi-Fi atau kabel LAN, lalu tampil di dashboard pusat yang dapat diakses tiap fakultas. Sistem pencatatan dibagi dua kategori, yaitu sampah masuk, yang mencatat seluruh sampah terkumpul di titik pengumpulan, dan sampah keluar, yang mencatat sampah yang benar-benar diangkut keluar atau dijual ke pengepul. Selisih keduanya menunjukkan volume sampah yang berhasil dikelola mandiri oleh fakultas.

Sistem pencatatan dibagi menjadi dua kategori, yaitu sampah masuk yang mencatat seluruh sampah terkumpul di titik pengumpulan dan sampah keluar yang mencatat sampah yang benar-benar diangkut keluar atau dijual kepada pengepul. Selisih keduanya menunjukkan volume sampah yang berhasil dikelola secara mandiri oleh fakultas.
Thomas mengapresiasi upaya Fakultas Psikologi yang telah memilah botol plastik dan kardus untuk dijual kepada pengepul sebagai bagian dari pengelolaan sampah mandiri. Berdasarkan data pada dashboard periode Mei-Juli 2026, timbulan sampah di Fakultas Psikologi didominasi sampah organik pada Mei, sementara proporsi sampah anorganik meningkat pada Juni dan Juli.
Soal pemilahan sampah sesuai kategori, Thomas mengakui hal ini masih menjadi tantangan bersama di seluruh fakultas.
“Ini yang menjadi PR kita di semua fakultas,” ujarnya.
Ia mendorong setiap fakultas menerbitkan imbauan kepada dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, serta seluruh pengguna gedung untuk memilah sampah sesuai jenisnya sebelum dibuang.
Penulis: Erna Tri Nofiyana
Foto: Hanif