Salah satu tim peneliti Muhammad Nur Haq, S.Psi sedang melangsungkan psikoedukasi untuk menurunkan kecemasan di kelas X-3 SMA Kolese De Britto
Yogyakarta – Transisi dari jenjang sekolah menengah pertama (SMP) ke sekolah menengah atas (SMA) merupakan salah satu fase perkembangan yang dihadapkan pada berbagai tantangan, termasuk kecemasan akademik dan pengambilan keputusan terkait masa depan. Untuk membantu siswa menghadapi tantangan tersebut, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan psikoedukasi berbasis neuropsikologi bagi siswa kelas 10 SMA Kolese De Britto pada 22–28 Oktober 2026.
Psikoedukasi yang dilaksanakan dalam jam pelajaran Bimbingan dan Konseling (BK) ini berfokus pada dua aspek, yaitu pengelolaan kecemasan dan penguatan pengambilan keputusan karier. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan dapat mengenali dan meregulasi kecemasan yang dialami, baik kecemasan akademik maupun kecemasan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, siswa juga dibimbing untuk menentukan pilihan karier berdasarkan minat dan kemampuan yang dimiliki.
Dalam sesi pengelolaan kecemasan, tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Psikologi UGM memberikan pemahaman bahwa kecemasan merupakan respons emosional yang normal dan dapat dialami oleh setiap individu. Siswa juga diperkenalkan pada mekanisme biologis yang mendasari munculnya kecemasan, termasuk bagaimana tubuh dan otak merespons situasi yang dianggap mengancam. Pemahaman ini diharapkan dapat membantu siswa menyadari bahwa kecemasan yang mereka alami merupakan pengalaman yang manusiawi, sehingga mereka dapat mengenali dan menyikapinya tanpa perlu merasa bahwa kecemasan tersebut merupakan sesuatu yang salah.
Selain memberikan pemahaman mengenai kecemasan, siswa juga dibekali berbagai strategi regulasi emosi untuk membantu mengelola respons kecemasan. Salah satu teknik yang diperkenalkan dan dipraktikkan adalah grounding, yaitu strategi untuk mengembalikan perhatian pada situasi dan pengalaman saat ini ketika individu sedang mengalami kepanikan atau stres. Melalui praktik ini, siswa diharapkan memiliki keterampilan sederhana yang dapat diterapkan secara langsung ketika menghadapi situasi yang memicu kecemasan.
Sementara itu, dalam sesi pengambilan keputusan karier, siswa dibimbing untuk mengenali minat dan kemampuan pribadi melalui pengukuran Realistic, Investigative, Artistic, Social, Enterprising, dan Conventional (RIASEC) yang dikembangkan berdasarkan teori John Holland. Hasil pengukuran tersebut kemudian dipadukan dengan kerangka Ikigai untuk membantu siswa menghubungkan minat dengan kemampuan yang dimiliki dalam menentukan arah karier.
“Memang target kami ingin membantu siswa SMA agar lebih siap dan matang dalam menjalani transisi dari SMP ke jenjang pendidikan yang baru. Program ini juga menyesuaikan dengan kebutuhan sekolah. Sebelumnya, tim guru BK SMA Kolese De Britto telah melakukan asesmen untuk memperoleh gambaran mengenai kecemasan akademik siswa. Karena itu, kami mengemas program ini dengan pendekatan preventif sekaligus memberikan bekal yang aplikatif agar siswa dapat menerapkan strategi yang telah dipelajari ketika mengalami kecemasan secara langsung,” ujar Satrio Priyo Adi, S.Psi., M.Sc., anggota tim pengabdian kepada masyarakat Fakultas Psikologi UGM.
Selain Satrio, tim ini beranggotakan dua dosen Fakultas Psikologi UGM, yaitu Edilburga Wulan Saptandari, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog dan Dra. Sri Kusrohmaniah, M.Si., Ph.D., Psikolog. Kegiatan ini juga melibatkan dua alumni Magister Psikologi UGM, yakni Bunga Sakinah, S.Psi., M.A., dan Antonius Nandiswara, S.Psi., M.A., serta mahasiswa program Fast Track Doktoral Psikologi UGM, Muhammad Nur Haq, S.Psi. Pelaksanaan kegiatan turut didukung oleh relawan dari Laboratorium Proses Mental dan Perilaku Fakultas Psikologi UGM.
Melalui kegiatan ini, Fakultas Psikologi UGM berharap siswa dapat memiliki pemahaman dan keterampilan awal untuk mengelola kecemasan serta mengambil keputusan karier secara lebih terarah. Kegiatan ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui upaya peningkatan kesehatan mental siswa, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pemberian pengetahuan dan keterampilan praktis dalam pengelolaan kecemasan dan pengambilan keputusan karier.
Penulis dan foto: tim peneliti psikoedukasi