Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) membahas ketahanan sosial masyarakat di tengah perkembangan teknologi digital bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Diskusi berlangsung di Ruang A-215 Fakultas Psikologi UGM, Kamis, (17/9), sebagai bagian dari penyusunan Peta Jalan Agenda Riset Nasional oleh BRIN.
Perwakilan Direktorat Pengukuran dan Indikator Riset, Teknologi, dan Inovasi (PIRTI) BRIN, Shiddiq Sugiono, menjelaskan bahwa ketahanan sosial masyarakat menjadi salah satu isu yang dikaji dalam penyusunan peta jalan tersebut.
“Untuk kali ini kita sedang melakukan sebuah kajian untuk mendukung yang namanya Peta Jalan Agenda Riset Nasional. Ada beberapa agenda, salah satunya juta terkait ketahanan sosial masyarakat. Jadi ada hard science-nya dan soft science-nya,” ujar Shiddiq.
Menurut Shiddiq, arah kajian ini mencakup perkembangan digitalisasi, yang dinilai berpotensi memengaruhi pola interaksi sosial, pola ekonomi hingga struktur pekerjaan (workforce) ke depan.
Dalam pemaparan berikut, Angy Sonia dari tim BRIN menyampaikan data mengenai dampak AI terhadap dunia kerja.
“Data yang ada adalah ketergantungan masyarakat terhadap AI generatif. Datanya adalah hampir 40 persen pekerja global berdampak pada AI, dan Indonesia termasuk yang pertumbuhannya cepat di ASEAN,” ujar Angy.
Temuan tersebut, bersama sejumlah data mengenai peningkatan disinformasi dan persoalan kesehatan mental akibat kecanduan penggunaan teknologi digital, menjadi bahan untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang serta merumuskan prioritas kebijakan dalam peta jalan riset.
Menanggapi paparan tersebut, Dr. Acintya Ratna Priwati, S.Psi., M.A., memberikan perspektif psikologi sosial mengenai relasi antarkelompok. Ia menjelaskan bahwa identitas sosial terbentuk melalui dua fondasi, yaitu interdependensi dan kategori sosial, yang menjelaskan bagaimana individu membedakan siapa yang menjadi anggota kelompoknya dan siapa yang bukan.

Menurut Acintya, identitas sosial dapat memiliki konsekuensi positif, seperti memperkuat identifikasi terhadap kelompok dan mendorong kesediaan berkontribusi bagi kelompok. Namun, identitas sosial juga berisiko memunculkan konsekuensi negatif, seperti stereotip, persepsi ancaman, hingga konflik perebutan sumber daya antarkelompok.
Perkembangan media digital kemudian dapat mempercepat proses tersebut.
“Media sosial ini kan adalah konstruk yang dibawa dengan perspektif individual. Bagaimana caranya orang mempromosikan dirinya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut dapat menimbulkan ketidaksesuaian dengan karakter masyarakat Indonesia yang secara budaya cenderung lebih kolektivis.
Acintya juga memaparkan hasil studi lintas budaya mengenai identitas nasional yang membandingkan masyarakat Indonesia dan Prancis. Dalam studi tersebut, masyarakat Indonesia menunjukkan optimisme yang lebih tinggi terhadap masa depan, sementara masyarakat Prancis cenderung lebih pesimis. Dalam konteks Indonesia, optimisme tersebut dikaitkan dengan kuatnya identifikasi masyarakat terhadap negara serta pandangan bahwa perkembangan infrastruktur dan teknologi dapat menjadi katalisator masa depan.
Menambahkan perspektif tersebut, Haidar Buldan Thontowi, S.Psi., M.A., Ph.D., menyoroti posisi Indonesia dalam skor kolektivisme dibandingkan negara-negara Barat.
“Kalau dibandingkan dengan negara-negara Eropa, Amerika serikat… Indonesia masih lebih tinggi di collectivism score. Sudah ada penelitian… Jadi pertama yang menginisiasi perbedaan antara individu sama kolektif namanya adalah Hofstede,” ujar Haidar.
Penulis: Erna Tri Nofiyana