Yogyakarta, 8 September 2026 — Penelitian kolaborasi internasional yang melibatkan peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Riangga Novrianto, S.Psi., M.Psi., Psikolog mengungkap bahwa gejala post-traumatic spesifik, yaitu re-experiencing (mengalami kembali trauma), serta gejala disosiatif berupa depersonalization (depersonalisasi) secara signifikan memprediksi tingkat keparahan depresi pada enam bulan berikutnya.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam European Journal of Trauma & Dissociation melalui artikel berjudul “Post-traumatic and dissociative symptoms as significant predictors of depression: Results from an international follow-up survey study.” Penelitian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi domain gejala kompleks PTSD (berdasarkan kriteria ICD-11) dan disosiatif spesifik yang paling kuat memengaruhi arah perkembangan depresi dalam jangka panjang.
Penelitian ini melibatkan 293 perempuan yang direkrut dari layanan kesehatan mental secara internasional. Sebanyak 63,1% responden berasal dari negara-negara non-Barat, seperti Indonesia, Malaysia, dan Filipina, sedangkan 36,9% sisanya berdomisili di negara-negara Barat, termasuk Amerika Utara dan Inggris. Pengumpulan data dilakukan dalam dua gelombang dengan jarak waktu enam bulan menggunakan instrumen Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) untuk mengukur depresi, International Trauma Questionnaire (ITQ) untuk mengevaluasi gejala PTSD kompleks ICD-11, serta Multiscale Dissociation Inventory (MDI) untuk menilai dimensi disosiasi.
Studi ini menemukan bahwa gejala re-experiencing dan depersonalisasi pada kondisi awal secara signifikan memprediksi tingginya gejala depresi 6 bulan kemudian. Di sisi lain, terdapat temuan tidak terduga bahwa gejala penghindaran (avoidance) pada pengukuran awal menunjukkan hubungan negatif dengan tingkat depresi di masa tindak lanjut (follow-up). Temuan pada variabel penghindaran tersebut diduga mencerminkan fungsi regulasi jangka pendek dari penghindaran atau adanya efek statistik dalam analisis. Secara keseluruhan, model penelitian ini mampu menjelaskan 52,7% varians dari dinamika depresi jangka panjang.
Temuan ini menegaskan pentingnya mengidentifikasi gejala trauma dan disosiasi dalam upaya pencegahan dan penanganan depresi. Peneliti juga menekankan perlunya penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar dan beragam untuk menguji kembali pola tersebut serta memahami mekanisme yang menghubungkan gejala-gejala trauma dengan perkembangan depresi.
Editor: Zufar
Penata: Fauzi
Foto: RDNE Stock project Pexels