Yogyakarta, 10 Agustus 2026 – Kualitas hidup lanjut usia (lansia) yang hidup dengan diabetes melitus tipe 2 tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh faktor psikologis, sosial, hingga kemampuan merawat diri secara mandiri (self-management). Temuan tersebut diungkap dalam artikel ilmiah berjudul Multidimensional Determinants of Quality of Life in Older Adults with Type 2 Diabetes: A Narrative Synthesis yang dipublikasikan di jurnal internasional Clinical Gerontologist.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog, Dr. Nida Ul Hasanat, M.Si., Psikolog, dan Prof. Dra. Kwartarini Wahyu Yuniarti, M.Med.Sc., Ph.D., Psikolog ini menyajikan sintesis komprehensif mengenai berbagai faktor yang memengaruhi kualitas hidup lansia penyandang diabetes tipe 2. Melalui pendekatan narrative review, tim peneliti menelaah 48 artikel ilmiah yang dipublikasikan selama periode 2007-2025 di basis data Scopus.
Hasil kajian mengungkapkan bahwa kualitas hidup lansia dengan diabetes dibentuk oleh berbagai aspek yang saling berkaitan seperti kondisi klinis, tekanan psikologis, gangguan kognitif, kapasitas fungsional, manajemen diri serta konteks sosial. Komplikasi, komorbid, depresi, penurunan fungsi kognitif serta keterbatasan fungsi fisik ditemukan sangat berkaitan dengan rendahnya kualitas hidup.
Di sisi lain, penelitian ini mengidentifikasi sejumlah faktor protektif yang dapat meningkatkan kualitas hidup lansia. Kemampuan melakukan self-management, kepatuhan terhadap pengobatan, aktivitas fisik yang teratur, keterlibatan pengasuh (caregiver), serta dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terbukti berperan penting dalam membantu lansia menjalani kehidupan yang lebih sehat dan produktif.
Menurut para peneliti, kualitas hidup pada lansia dengan diabetes merupakan hasil dari hubungan yang kompleks antara kondisi kesehatan, kapasitas fungsional, kesejahteraan emosional, serta lingkungan sosial tempat mereka hidup. Oleh karena itu, penanganan diabetes pada kelompok lansia sebaiknya tidak hanya bergantung pada asesmen biomedis, tetapi juga perlu melibatkan asesmen terkait depresi, tekanan psikologis, keberfungsian kognitif, permasalahan dalam pengobatan serta keterbatasan fungsional.
Melalui kajian ini, para peneliti merekomendasikan agar layanan kesehatan bagi lansia dengan diabetes menerapkan pendekatan multidisiplin. Evaluasi rutin terhadap kondisi psikologis, fungsi kognitif, kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, serta dukungan keluarga perlu menjadi bagian dari pelayanan klinis agar intervensi yang diberikan lebih komprehensif dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup pasien.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, maupun peneliti dalam merancang strategi pelayanan kesehatan yang lebih holistik bagi populasi lansia yang terus bertambah. Dengan mempertimbangkan berbagai determinan yang saling berinteraksi, upaya pengelolaan diabetes tidak hanya mampu mengendalikan penyakit, tetapi juga mendukung lansia untuk tetap aktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.
Editor: Zufar
Penata: Fauzi