Yogyakarta, 30 Juni 2026 – Resiliensi relawan kebencanaan tidak hanya bergantung pada kemampuan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh dukungan sosial, nilai budaya, dan spiritualitas yang berkembang di lingkungan relawan. Temuan tersebut disampaikan oleh tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui studi yang dipublikasikan dalam Jàmbá: Journal of Disaster Risk Studies.
Berangkat dari pengalaman penanganan banjir besar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, pada Maret 2024, penelitian yang dilakukan oleh Yuli Arinta Dewi, S.P., M.Si, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D., Psikolog, Pradytia Putri Pertiwi, S.Psi., Ph.D., dan Mizan Bustanul Fuady Bisri, M.Sc., M.A., Ph.D., berupaya mengevaluasi tingkat resiliensi relawan Palang Merah Indonesia (PMI) sekaligus mengungkap berbagai faktor personal, sosial, dan kultural yang membantu mereka tetap tangguh (resilient) dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods, yaitu menggabungkan survei kuantitatif dan wawancara mendalam. Sebanyak 69 relawan PMI berusia 18–55 tahun mengikuti survei menggunakan Connor–Davidson Resilience Scale (CD-RISC), sementara 17 partisipan, yang terdiri atas relawan, anggota keluarga, dan staf PMI, diwawancarai untuk memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai faktor-faktor yang menopang resiliensi mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 63,8% relawan memiliki tingkat resiliensi sedang. Aspek yang paling menonjol adalah kompetensi pribadi (personal competence) dan kepercayaan terhadap diri sendiri (internal trust).
Namun demikian, hasil wawancara menunjukkan bahwa resiliensi relawan tidak hanya dibentuk oleh aspek-aspek individu saja, melainkan juga terdapat aspek lain yang lebih sistemik. Peneliti menemukan lima tema utama yang saling berkaitan: kompetensi personal, spiritualitas, budaya, dukungan emosional dan dukungan fungsional.
Berbeda dengan banyak penelitian yang berfokus pada karakteristik individu, studi ini menekankan bahwa resiliensi relawan merupakan hasil interaksi berbagai sistem yang saling mendukung. Menurut tim peneliti, relawan dapat terus bertahan menghadapi tekanan psikologis karena memperoleh dukungan dari keluarga, organisasi kemanusiaan, komunitas, serta nilai budaya dan spiritual yang dianut.
“Temuan kami menunjukkan bahwa ketangguhan relawan bukanlah semata-mata atribut individu. Resiliensi dibangun melalui interaksi antara faktor personal, dukungan keluarga, organisasi, komunitas, hingga nilai budaya dan spiritual yang hidup di masyarakat”, ungkap Yuli.
Yuli menambahkan bahwa pendekatan multisistem ini penting untuk dipertimbangkan dalam penyusunan program penguatan kapasitas relawan.
“Program peningkatan kapasitas relawan tidak cukup hanya berfokus pada pelatihan keterampilan teknis atau penguatan individu. Dukungan organisasi, jejaring sosial, budaya lokal, serta aspek spiritual juga perlu menjadi bagian dari strategi membangun relawan yang tangguh dan berkelanjutan”, jelasnya.
Penelitian ini memberikan perspektif baru mengenai pembangunan kapasitas relawan kebencanaan di Indonesia, khususnya di wilayah pesisir yang semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim. Temuan ini menunjukkan bahwa indikator psikologis konvensional yang cenderung individualis belum sepenuhnya mampu mengungkap berbagai sumber ketangguhan yang berasal dari konteks sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan pengelolaan relawan diharapkan mengintegrasikan pendekatan psikologis dengan penguatan sistemik yang meliputi komunitas, keluarga, nilai budaya lokal, serta dukungan kelembagaan.
Penata: Fauzi
Editor: Zufar