Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Drs. Subandi, M.A., Ph.D., Psikolog, menjadi Visiting Professor di Universiti Malaysia Terengganu (UMT) pada Selasa (10/6). Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan materi bertajuk “The Influence of Culture on Hallucination & Delusion Among Schizophrenia Patients” yang membahas pengaruh faktor sosial budaya terhadap pengalaman halusinasi dan delusi pada pasien skizofrenia.
Dalam presentasinya, Prof. Subandi menjelaskan bahwa pengalaman psikotik tidak hanya dipengaruhi oleh faktor biologis, tetapi juga oleh latar belakang budaya dan sistem kepercayaan yang berkembang di masyarakat. Temuan penelitiannya menunjukkan adanya perbedaan pola halusinasi pada berbagai kelompok budaya.
Pasien di negara-negara Barat, misalnya, lebih banyak melaporkan halusinasi auditori atau mendengar suara-suara tertentu. Sementara itu, pasien di masyarakat tradisional, termasuk Indonesia, Afrika, dan Pakistan, lebih sering mengalami halusinasi visual. Temuan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman psikosis dapat dipengaruhi oleh konteks budaya tempat individu hidup dan berinteraksi.
Melalui penelitian etnografis yang melibatkan 12 pasien skizofrenia di rumah sakit wilayah Yogyakarta, Prof. Subandi menemukan bahwa banyak partisipan melaporkan melihat figur-figur yang dikenal dalam folklor Jawa.
“Di Jawa juga pasien banyak melaporkan melihat makhluk-makhluk halus, unseen being, spirit, roh seperti Pocong, dead people, Buto Ijo, green giant, Genderuwo, scary giant,” jelasnya.
Menurutnya, kemunculan tokoh-tokoh tersebut menunjukkan bagaimana budaya lokal memengaruhi cara individu memaknai pengalaman psikologis yang dialaminya. Yogyakarta dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki karakter budaya yang unik dengan perpaduan tradisi Islam, Hindu-Buddha, dan kepercayaan Jawa yang masih hidup dalam kehidupan masyarakat. Kondisi tersebut menjadikan wilayah ini relevan untuk mengkaji hubungan antara budaya dan pengalaman psikosis.

Dalam kuliah tersebut, Prof. Subandi juga membandingkan temuan di Indonesia dengan hasil penelitian di Malaysia. Pasien Melayu di Kelantan dilaporkan lebih banyak mengalami halusinasi visual dengan muatan religius yang kuat, sedangkan pasien Tionghoa di Penang lebih sering melaporkan pengalaman yang berkaitan dengan roh atau arwah leluhur. Figur legenda Putri Saadong dari Kelantan bahkan ditemukan muncul dalam konten halusinasi sejumlah pasien, yang secara fungsional memiliki kemiripan dengan peran Nyai Loro Kidul dalam konteks budaya Jawa.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa latar belakang budaya memengaruhi cara individu mengalami dan memaknai gejala psikosis.
“Delusi itu bukan hanya pikirannya sendiri, tapi juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, budaya, agama, nilai-nilai,” tegasnya.
Prof. Subandi juga menekankan pentingnya pendekatan stress-vulnerability dalam memahami skizofrenia. Dalam pendekatan ini, kerentanan biologis individu berinteraksi dengan tekanan kehidupan serta lingkungan sosial budaya yang melingkupinya. Sensitivitas budaya, menurutnya, perlu menjadi bagian dari proses diagnosis maupun intervensi klinis agar layanan yang diberikan lebih tepat dan efektif.
Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti di lingkungan UMT. Selain menjadi wadah pertukaran pengetahuan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama akademik antara Fakultas Psikologi UGM dan UMT, khususnya dalam bidang psikologi klinis dan kesehatan mental lintas budaya.
Penulis: Erna Tri Nofiyana