Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Pelatihan Pemadam Kebakaran pada Jumat (22/5), di Hall D dan area lanskap Fakultas Psikologi UGM. Kegiatan yang bekerja sama dengan unit K5L (Kantor Keamanan, Keselamatan Kerja, Kedaruratan, dan Lingkungan) UGM ini diikuti lebih dari 75 sivitas akademika.
Ketua Tim Kerja Kedaruratan K5L UGM, Nunu Lutfi, S.T., M.Ec.Dev., menyampaikan bahwa penanganan awal saat kebakaran sangat menentukan besarnya dampak yang ditimbulkan.
“Damkar UGM punya standar tiba lima belas menit sejak telepon masuk. Tapi hampir semua lokasi yang kami datangi, waktu sudah lima belas menit sampai, sudah habis terbakar semua,” ujarnya.
Menurutnya, orang yang berada di lokasi saat kebakaran pertama kali terjadi memiliki peran penting sebelum bantuan datang. Karena itu, pelatihan tidak hanya ditujukan bagi petugas keamanan atau staf teknis, tetapi juga seluruh sivitas akademika.
Dalam sesi materi, peserta dikenalkan pada konsep Segitiga Api yang terdiri atas oksigen, panas, dan bahan bakar. Api dapat dipadamkan apabila salah satu unsur tersebut dihilangkan.
Nunu menjelaskan tiga metode dasar pemadaman api, yaitu menutup akses oksigen (smothering), memutus sumber bahan bakar (starving), dan menurunkan suhu (cooling). Materi tersebut menjadi dasar dalam praktik penggunaan alat pemadam api ringan (APAR).
Ia juga mengingatkan bahwa korban kebakaran sering kali meninggal bukan karena api, melainkan karena kekurangan oksigen dan menghirup asap saat proses evakuasi.
“Tujuh puluh sampai delapan puluh persen korban kebakaran meninggal bukan karena terbakar, tapi karena sesak napas di jalur evakuasi,” katanya.
Peserta turut mempelajari klasifikasi kebakaran berdasarkan material yang terbakar, mulai dari benda padat, cairan dan gas, instalasi listrik, hingga logam. Pemilihan alat pemadam perlu disesuaikan dengan jenis kebakaran agar tidak menimbulkan risiko yang lebih besar.

Ruangan dengan perangkat elektronik seperti laboratorium komputer atau server, Nunu menyarankan penggunaan APAR berisi CO2 yang tidak meninggalkan residu dan aman bagi perangkat.
Selain itu, peserta juga dikenalkan pada metode PASS dalam penggunaan APAR, yaitu Pull (menarik pin), Aim (mengarahkan nosel ke sumber api), Squeeze (menekan tuas), dan Sweep (menyapukan semprotan).
Dalam pemaparannya, Nunu menyebut UGM telah memiliki berbagai fasilitas pendukung proteksi kebakaran, termasuk ratusan hidran dan ribuan unit APAR yang tersebar di lingkungan kampus. Namun, menurutnya, kesiapan sumber daya manusia tetap menjadi hal yang utama.
“Kotak hidran sampai ada yang isinya sabun dan kain pel,” ujarnya.
Ia mendorong seluruh unit kerja untuk rutin memeriksa kondisi APAR serta memastikan jalur evakuasi tetap aman dan tidak terhalang barang.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kesiapsiagaan kebakaran di lingkungan kampus. Setelah sesi materi dan post-test, peserta mengikuti simulasi pemadaman api secara langsung di area lanskap fakultas.
Penulis: Erna Tri Nofiyana