Yogyakarta, 7 Mei 2026 – Di tengah euforia publikasi ilmiah dan obsesi terhadap indeksasi global, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan: apakah kita benar-benar sedang memproduksi pengetahuan, atau sekadar memenuhi standar administratif akademik?
Penelitian dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada tentang perilaku people-pleaser dalam perspektif sungkan Jawa membuka pintu refleksi yang lebih luas. Artikel berjudul “People Pleaser Behavior within the Perspective of Sungkan: A Psycho-Anthropological Interpretation” menunjukkan bahwa kecenderungan untuk menyenangkan orang lain bukan sekadar sifat individu, tetapi hasil konstruksi budaya yang dalam, berakar pada nilai hormat, harmoni, dan relasi sosial.
Penelitian ini menunjukkan pentingnya pengakuan konsep lokal dalam penelitian di bidang psikologi. Namun, konsep lokal seperti ini sering kali tidak didukung oleh editor dan reviewer dari jurnal internasional bereputasi. Sedangkan, para peneliti dituntut untuk mempublikasikan artikel di jurnal internasional bereputasi dalam rangka indeksasi. Hal ini menjadi dilema tersendiri bagi para peneliti di bidang psikologi.
Peneliti CICP (Center for Indigenous and Cultural Psychology) Fakultas Psikologi UGM, Faiqal Dima Hanif, S.Psi., menjelaskan bahwa fenomena kolonialisasi dalam publikasi, yakni ketika publikasi di jurnal terindeks seperti Scopus atau Web of Science menjadi tujuan utama, bukan konsekuensi dari kualitas ilmiah. Artikel ditulis agar publishable dengan tema yang menarik bagi “pasar”, bukan karena paling penting untuk diteliti.
“Dalam situasi seperti ini, kontekstualisasi dan keunikan sosial-budaya menjadi terabaikan. Ini merupakan kolonialisasi dalam dunia publikasi” ujar Faiqal.
Penelitian ini mengungkapkan bahwa perilaku people-pleasing memiliki irisan yang sangat kuat dengan budaya sungkan. Kerangka budaya lokal ini memberikan wawasan mendalam bahwa kebiasaan menyenangkan orang lain bukan sekadar masalah psikis bawaan, melainkan hasil bentukan budaya. Studi ini membuktikan adanya integrasi antara psikologi dan antropologi, di mana perilaku people-pleaser pada dasarnya adalah ekspresi dari struktur simbolik budaya sungkan dalam konteks masyarakat Jawa. Masalahnya, sistem publikasi internasional sering tidak memberi pengakuan yang cukup untuk kompleksitas semacam ini.
Akibatnya, peneliti di negara berkembang menghadapi dilema: tetap setia pada keunikan konteks lokal dengan risiko “tidak publishable” atau menyesuaikan diri dengan standar global dengan mengorbankan kontekstualisasi analisis.
Dalam kerangka Sustainable Development Goal 4 dan Sustainable Development Goal 16, kualitas pendidikan tinggi dan integritas pengetahuan menjadi fondasi utama. Tanpa rigor metodologis dan keberanian intelektual, sulit membayangkan lahirnya institusi yang benar-benar kuat dan akuntabel.
Maka, mungkin saatnya akademia berhenti sejenak dan bertanya: apakah kita sedang mereproduksi ilmu atau sekadar tunduk pada kolonialisme dalam publikasi?
Penata: Fauzi
Editor: Zufar