Workshop Clinical Interviewing and Diagnosis Tree telah diselenggarakan pada Rabu–Kamis, 15–16 April 2026 secara hybrid, bertempat di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada dan melalui platform Zoom. Kegiatan ini dihadiri oleh peserta dengan latar belakang beragam, mulai dari psikolog, dosen psikologi, mahasiswa program profesi psikologi, hingga dokter.
Workshop ini merupakan bagian dari agenda tahunan Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi UGM yang telah mulai diselenggarakan sejak tahun 2024. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas tenaga kesehatan jiwa di Indonesia, khususnya dalam mengembangkan pengetahuan dan keterampilan terkait wawancara klinis serta penegakan diagnosis gangguan jiwa.
Kegiatan hari pertama dibuka dengan sesi Pengantar Clinical Interviewing dan Diagnostic Tree yang disampaikan oleh Direktur CPMH, Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog. Sesi ini memberikan landasan konseptual mengenai pentingnya wawancara klinis yang sistematis serta penggunaan diagnostic tree dalam proses penegakan diagnosis.

Sesi berikutnya adalah Clinical Interviewing for Psychosis yang disampaikan oleh Dr. dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ (K), tenaga pengajar di Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada dan berpraktik sebagai psikiater di RSUP Dr. Sardjito. Dalam sesi ini, beliau menekankan bahwa empati dalam wawancara klinis tidak selalu diterapkan secara seragam. “Dalam wawancara klinis, empati tidak bisa diterapkan pada semua orang. Tergantung tujuan wawancara dan karakteristik klien,” jelasnya. Materi ini dilanjutkan dengan sesi Diagnostic Tree yang membahas alur penegakan diagnosis pada gangguan psikotik.
Selanjutnya, peserta mengikuti sesi Clinical Interviewing dan Diagnostic Tree for Bipolar yang disampaikan oleh dr. Ida Rochmawati, M.Sc., Sp.KJ (K). Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa diagnosis bipolar memerlukan pemahaman yang komprehensif terhadap pola hidup individu. “Diagnosis bipolar tidaklah mudah. Mengenali bipolar bukan soal satu momen, tapi memahami pola hidup seseorang secara utuh,” ungkapnya.

Pada hari kedua, sesi dimulai dengan Clinical Interviewing for Anxiety oleh Diana Setiyawati, S.Psi., MHSc., Ph.D., Psikolog, yang kemudian dilanjutkan dengan Diagnostic Tree for Anxiety. Dalam sesi ini disampaikan bahwa gangguan kecemasan sering kali memiliki keterkaitan dengan riwayat keluarga. Namun demikian, hal tersebut tidak bersifat deterministik. “Memiliki orang tua atau kerabat dekat dengan gangguan kesehatan jiwa tidak secara otomatis memunculkan gangguan kecemasan,” jelasnya.

Sesi berikutnya adalah Hubungan Terapeutik dalam Praktik Psikologi yang disampaikan oleh Dr. M.G. Adiyanti, M.S., Psikolog. Beliau menyampaikan pentingnya fondasi profesionalitas, kolaborasi, dan kepercayaan dalam membangun hubungan terapeutik. Ia juga menambahkan bahwa tujuan utama dari hubungan terapeutik adalah untuk menumbuhkan kesejahteraan psikologis pada klien.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi Clinical Interviewing dan Diagnostic untuk konteks gangguan depresi oleh Dr. Tri Hayuning Tyas, M.A., Psikolog. Dalam sesi ini, peserta diingatkan untuk tidak hanya berfokus pada permasalahan klien, tetapi juga menggali kekuatan yang dimiliki individu. “Jangan lupa untuk mencari strength dari klien, selain permasalahan yang mereka alami,” pesannya.
Secara keseluruhan, workshop ini memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai teknik wawancara klinis dan penggunaan diagnostic tree dalam berbagai gangguan mental, mulai dari psikosis, bipolar, kecemasan, hingga depresi. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kompetensi tenaga kesehatan jiwa dalam memberikan layanan yang lebih akurat, profesional, dan berorientasi pada kesejahteraan klien.
Penulis: Nurul Hidayati